Di Tengah Hujan Berkah Rajab, Ribuan Jamaah Hadirkan Ruh Spiritualitas di Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani

NGAMPRAH, KABUPATEN BANDUNG BARAT – Hujan yang membasahi bumi Bandung Barat pagi ini (Minggu, 4 Januari 2026 / 15 Rajab 1447 H) tak menyurutkan langkah ratusan jamaah untuk memadati Masjid Agung Ash-Shiddiq. Mereka berkumpul dalam acara Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani Q.S. yang digelar Lembaga Dakwah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (LDTQN) Pondok Pesantren Suryalaya Cabang Kabupaten Bandung Barat.

Acara yang mengusung motto “Katara – Karasa – Karampa” dan slogan “Amalkan, Amankan, dan Lestarikan” ini dihadiri oleh berbagai elemen komunitas, termasuk perwakilan Generasi Muda Ponpes Suryalaya (GMPS), Majelis Taklim, serta Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bandung Barat, menunjukkan dimensi sosial-keagamaan yang menyeluruh.

Rangkaian acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan hidmat. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ustadz Dadang, kemudian khataman, majelis doa, tanbih, tawasul, dan markobah. Puncak acara adalah tausyiah yang disampaikan oleh mubaligh kondang dari Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, H. Toras Jaenuddin Nasution, Lc.

Dalam khutbahnya yang mendalam, H. Toras mengajak jamaah merenungi hakikat kehidupan dan keimanan. “Rasa syukur yang sedalam-dalamnya hendaknya senantiasa kita hadirkan dengan hati-hati di hadapan Allah SWT. Dengan iman, hidup akan menjadi sempurna,” ujarnya, mengutip bagian dari naskah khutbah.

Mubaligh tersebut juga menyelipkan pelajaran berharga dari sejarah Nabi Muhammad SAW, khususnya peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi di bulan Rajab, setelah melalui ‘Amul Huzn (tahun kesedihan) dengan wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib. “Inilah puncak perjuangan seorang manusia pilihan… Nabi menolak (tawaran kehancuran bagi kaum yang menolaknya) karena kasih sayang dan rahmatnya kepada seluruh manusia,” lanjutnya, menggambarkan keteladanan Rasulullah.

H. Toras kemudian menekankan tentang kemuliaan manusia yang bersumber dari ruhnya. “Esensi sejati manusia adalah ruhnya. Manusia yang beriman sejatinya telah beriman sejak di alam ruh,” jelasnya, merujuk pada konsep mitsaq atau perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhan.

Acara yang berlangsung khidmat hingga siang hari ini bukan sekadar ritual seremonial. Ia menjadi jembatan untuk menguatkan spiritualitas individu sekaligus merekatkan ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat. Kehadiran perwakilan BNN KBB juga memberikan warna tersendiri, menandakan sinergi antara pendekatan spiritual dan upaya preventif dalam membangun ketahanan masyarakat.

Dengan dihelatnya manaqib ini, LDTQN KBB berharap ajaran-ajaran luhur para wali, khususnya Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, dapat terus diamalkan, diamankan, dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari, mewujudkan harmonisasi antara ritual dan tanggung jawab sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....