Impian Tiga Kali Panen yang Tersendat: Perjuangan Petani Tanjungjaya Mengejar Kedaulatan Air

Tanjungjaya, Bandung Barat. Di tengah gemuruh program pemerataan pembangunan infrastruktur pertanian di Jawa Barat, sepi dan dahaga justru menyelimuti hamparan sawah di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Di sini, lebih dari 9 kilometer saluran irigasi tidak berfungsi optimal, membuat lahan pertanian utama desa itu bagai “anak tiri” yang terisolasi. Padahal, di desa tetangga seperti Citapen dan Cihampelas, program normalisasi irigasi telah dirasakan manfaatnya.

Tintin Marlina, S.IP., Kepala Desa Tanjungjaya, mengungkapkan keprihatinan yang sama dengan ratusan petani di wilayahnya. “Warga petani mengadukan kondisi pertaniannya yang kekurangan air. Persawahan di Desa Tanjungjaya seakan terisolasi, bak anak tiri. Sementara desa lain sudah mulai dilakukan normalisasi irigasi, sedangkan Desa Tanjungjaya tidak tersentuh, padahal sama-sama berada di Kabupaten Bandung Barat,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada 6 Januari 2026.

Faktanya, mayoritas masyarakat Tanjungjaya menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan Waduk Saguling. Namun, bagi petani padi, ketergantungan pada waduk justru menjadi beban berat, khususnya di musim kemarau. Solusi sementara yang mereka lakukan adalah menyedot air langsung dari Waduk Saguling dengan biaya yang tidak kecil.

“Biasanya untuk panen kedua, karena musim hujan sudah jarang, petani mengambil air dengan menyedot dari Waduk Saguling. Sedangkan biaya menyedot air dari Saguling itu per jam hampir Rp20.000–Rp30.000, jadi menambah biaya produksi,” jelas Tintin Marlina.

Biaya operasional yang membengkak itu secara langsung menggerus keuntungan dan menyulitkan para petani, yang sebagian besar merupakan petani kecil. Padahal, potensi untuk meningkat jauh lebih besar jika irigasi berjalan lancar. “Karena kalau irigasi airnya berjalan, warga bisa panen tiga kali. Sedangkan saat ini panen padi hanya dua kali karena terkendala air,” tambahnya.

Secara teknis, saluran irigasi menuju daerah tersebut memang ada, namun kondisinya memprihatinkan. “Irigasinya ada, tapi tidak berfungsi, hampir hilang karena sudah lama airnya tidak sampai,” tutur Tintin. Kondisi ini mengukuhkan status sawah di Tanjungjaya sebagai sawah tadah hujan, yang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan ketidakpastian musim.

Upaya perbaikan telah dilakukan oleh Pemerintah Desa. Melalui musyawarah dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, mereka telah mengajukan permohonan tertulis berupa proposal ke Balai Pengelolaan Waduk dan Sungai (BPWS) setempat. “Mudah-mudahan sudah sampai, kami sudah berusaha,” harap Tintin.

Harapan itu sederhana namun mendasar: pemerataan. “Harapan saya, wilayah Cihampelas, Cipatik, Pataruman sudah dinormalisasi. Kenapa Desa Tanjungjaya tidak? Padahal kami juga warga Bandung Barat. Masyarakat Desa Tanjungjaya ingin merasakan aliran irigasi yang bisa meningkatkan kualitas padi dan penghasilan mereka,” tegasnya.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan bahwa sistem irigasi memegang peranan kritis dalam ketahanan pangan, dengan potensi peningkatan indeks pertanaman (IP) dari 100-150 menjadi 200 jika jaringan tersedia dan terpelihara baik. Kisah Tanjungjaya adalah potret nyata dari dampak ketika akses terhadap infrastruktur dasar ini tidak merata.

Di balik keluhan yang disampaikan, tersirat semangat pantang menyerah para petani Tanjungjaya. Mereka terus berproduksi meski dengan biaya tinggi dan ketidakpastian. Normalisasi irigasi bukan sekadar soal memperbaiki saluran air, melainkan tentang mengalirkan harapan, mengurangi beban ekonomi, dan mewujudkan kedaulatan air bagi para pelaku utama pangan di daerah tersebut. Perhatian dan percepatan dari pihak terkait sangat dinantikan agar sawah-sawah di Tanjungjaya tidak lagi menjadi anak tiri dalam pembangunan. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....