Bandung, 17 Januari 2026. Perkumpulan Komunitas Sarumpi Nada Entertainment kembali menggelar silaturahmi setelah vakum hampir dua tahun. Kegiatan bertajuk Silaturahmi Sarumpi Sauyunan Rumah Tangga Penuh Doa ini berlangsung di Café Green Fine, Dago Pojok, Kota Bandung, dan dihadiri sekitar 40 anggota dari berbagai wilayah.
Acara ini menjadi momentum kebangkitan Sarumpi sebagai wadah kebersamaan, persaudaraan, serta ruang ekspresi seni dan budaya. Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama, pertunjukan musik secara langsung, serta makan bersama dalam suasana kekeluargaan. Meski dikemas sederhana, pertemuan tersebut sarat makna dan harapan baru bagi keberlangsungan komunitas.
Ketua Sarumpi, Hermawan, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kembali kegiatan kebersamaan tersebut. Ia menegaskan bahwa silaturahmi merupakan inti dari berdirinya Sarumpi sejak awal. “Alhamdulillah, setelah kurang lebih dua setengah tahun, hari ini kita bisa kembali berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi,” ujar Hermawan.

Ia juga mengapresiasi kehadiran anggota baru maupun anggota lama yang datang dari berbagai daerah, termasuk dari Padalarang. Kehadiran lintas wilayah ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa ikatan persaudaraan di Sarumpi tetap terjaga. Dari sekitar 80 undangan yang disebarkan, kehadiran sekitar 50 persen anggota dinilai cukup merepresentasikan semangat kebersamaan.
Pada kesempatan tersebut, Hermawan turut menyampaikan gambaran awal kepengurusan Sarumpi yang tengah ditata kembali. Struktur kepengurusan sementara mencakup Wakil Ketua Diki, Sekretaris Mas Bram dan Aya, serta Seksi Konsumsi yang diemban Enik. Sejumlah bidang lain akan dilengkapi seiring berjalannya waktu dan kebutuhan organisasi.
Lebih jauh, Hermawan menjelaskan filosofi lambang Sarumpi yang menyerupai padi. Filosofi tersebut dimaknai sebagai ajakan untuk senantiasa rendah hati. “Padi yang berisi akan semakin merunduk. Semakin berilmu dan berisi, semakin kita dituntut untuk rendah hati,” tuturnya.

Nilai kebersamaan dan sikap saling menghargai menjadi pesan utama yang terus ditekankan. Ia berharap Sarumpi dapat menjadi ruang yang ramah, terbuka, dan setara bagi seluruh anggotanya, tanpa sekat maupun perbedaan.
Sementara itu, Iwan selaku anggota sekaligus pembawa acara menyampaikan harapan agar soliditas internal dapat terus dijaga. Ia menekankan pentingnya saling menopang dalam organisasi serta menghindari kesalahpahaman yang dapat merusak suasana kebersamaan. “Setiap orang punya peran penting. Jika kita saling mendukung, Sarumpi akan terus berjalan dan berkembang,” ujarnya, seraya mengibaratkan kekompakan komunitas seperti sebuah grup musik yang saling melengkapi.
Dalam sesi wawancara, perwakilan Sarumpi, Asih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengaktifkan kembali Sarumpi setelah vakum selama pandemi. “Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk kembali menyusun arah dan kegiatan Sarumpi ke depan,” katanya.
Sarumpi sendiri berasal dari kata “sauyunan” dalam bahasa Sunda, yang bermakna seirama, sejalan, dan bersama-sama. Ketua Sarumpi menambahkan bahwa komunitas ini lahir dari kebiasaan berkumpul dan berkomunikasi yang kemudian berkembang menjadi ikatan persaudaraan. “Punya banyak kawan dan saudara adalah hal yang paling berharga,” ucap Hermawan.
Saat ini, anggota aktif Sarumpi tercatat sekitar 75 orang, dengan total keseluruhan mencapai kurang lebih 100 orang. Vakumnya kegiatan sebelumnya dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ketua serta situasi pandemi. Sejak 2025, Sarumpi mulai menata kembali langkahnya secara bertahap.
Ke depan, Sarumpi berencana mengembangkan kegiatan sosial, budaya, dan seni. Program yang dirancang mencakup kepedulian terhadap anggota yang sakit, kebersihan lingkungan, kegiatan kebencanaan, hingga pengembangan bakat seni bagi anak-anak dan generasi muda di lingkungan Sarumpi.
Senior Sarumpi bidang budaya, Deddy Mansyur, menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai dan kepentingan masyarakat. “Seni bukan sekadar ekspresi, tetapi juga sarana menyampaikan makna, nilai sosial, dan kepentingan bersama,” ujarnya.
Sarumpi juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, seiring dengan berjalannya program dan dokumentasi kegiatan yang lebih tertata. Sekretariat Sarumpi sendiri beralamat di Jalan Linggawastu Nomor 21, Kota Bandung.
Dengan semangat sauyunan, Sarumpi menegaskan komitmennya untuk terus menumbuhkan kebersamaan, kepedulian sosial, serta pelestarian seni dan budaya, tidak hanya bagi anggotanya, tetapi juga bagi masyarakat luas di Kota Bandung. (kiki)