​Wali Kota Bandung M Farhan: Gotong Royong dan Etika Sosial Jangan Jadi Catatan Sejarah Saja

​BANDUNG, 31 Januari 2026. Upaya mengembalikan ruh gotong royong sebagai fondasi kehidupan sosial dan pembangunan kota mengemuka dalam kajian rutin F3 (Forum Ulama, Umaro, Umat) di Pendopo Alun-alun Bandung, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
​Acara yang dihadiri Wali Kota Bandung M. Farhan, tokoh masyarakat, akademisi, hingga pemuka agama ini menjadi ruang refleksi mendalam atas krisis nilai sosial dan tantangan generasi muda di era digital.

​Ancaman Relasi Transaksional
​Budayawan Aat Soeratin menyoroti pergeseran relasi sosial yang kian bersifat transaksional. Ia menggambarkan dunia modern bak “siga sampar” atau tikar yang terhampar; segala sesuatu terasa dekat dan cepat, namun menyimpan keretakan sosial yang nyata.

​”Nilai-nilai luhur yang dahulu menjadi fondasi masyarakat perlahan memudar, digantikan pola hubungan untung-rugi. Pertanyaan yang muncul bukan lagi soal kepedulian, melainkan ‘apa yang saya dapat?’,” ujar Aat dalam forum tersebut.

​Menurut Aat, masyarakat Sunda yang identik dengan sikap someah (ramah) dan tradisi musyawarah kini menghadapi tantangan individualisme. Semangat tolong-menolong mulai tergerus logika kepentingan personal.
​Kondisi ini, lanjutnya, sangat berisiko bagi generasi muda. Tanpa bimbingan kuat, mereka berpotensi menjadi “generasi bingung” di tengah banjir informasi, hoaks, dan debat publik yang tidak lagi mencari mufakat, melainkan saling menjatuhkan.

​Filosofi Silih Asih, Asah, dan Asuh
​Aat menegaskan bahwa pemulihan gotong royong tidak bisa hanya sekadar wacana. Ia menekankan kembalinya filosofi Silih Asih, Silih Asuh, dan Silih Asah.

​”Sering kali kita terbalik, sibuk mengasah sebelum ada rasa asih dan asuh. Padahal, jika rasa saling menyayangi dan menjaga sudah kuat, perbedaan pendapat tidak akan melukai,” tuturnya.

​Ia juga mengajak masyarakat kembali ke prinsip Pok, Pek, Prak—keselarasan antara ucapan, niat, dan tindakan nyata sebagai landasan gotong royong yang otentik.

​Sinergi Ulama, Umara, dan Umat
​Senada dengan Aat, praktisi dakwah Dr. Erick Yusuf menekankan pentingnya integrasi nilai spiritual. Merujuk pada Surat Al-‘Ashr, ia menyebut inti gotong royong adalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (tawāshau bil-ḥaqq wa tawāshau biṣ-ṣabr).

​”Bandung hanya bisa maju jika ada sinergi tulus antara tiga pilar: ulama sebagai penjaga moral, umara sebagai penggerak kebijakan, dan umat sebagai kekuatan sosial,” kata Erick.

​Erick mencontohkan penanganan sampah yang tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Transformasi harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga, melalui keteladanan dan kasih sayang pada kota.

​Pesan Wali Kota: Literasi Digital dan Karakter
​Sementara itu, Wali Kota Bandung M. Farhan menyoroti pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpolarisasi. Ia mengingatkan publik agar tidak hanya membaca judul berita tanpa memahami konteks secara utuh.
​”Jangan hanya membaca judul. Kebiasaan itu melahirkan penilaian prematur dan stigma sosial yang tidak sehat,” tegas Farhan.

​Ia menyatakan bahwa Pemkot Bandung kini mulai menggeser pendekatan pembangunan dari sekadar teknis menjadi pembudayaan sosial. Contohnya, pengelolaan sampah yang kini bertumpu pada pemilahan di rumah tangga.

​”Pembangunan berkelanjutan hanya bisa tumbuh dari masyarakat yang cerdas secara informasi dan kuat secara sosial,” pungkasnya.

​Forum ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, masa depan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh seberapa kuat masyarakat menjaga detak jantung gotong royong dan etika sosialnya. (rai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....