Jurnalis9.com Ngamprah, 28 Mei 2026. Ribuan warga memadati Masjid Raya Ash Shidiq yang berada di kompleks Kantor Bupati Kabupaten Bandung Barat, Kamis untuk melaksanakan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah.
Perayaan hari besar keagamaan itu tidak hanya menjadi ruang ibadah kolektif, tetapi juga ajang refleksi sosial mengenai relasi antara pemerintah, keluarga dan masyarakat di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Pelaksanaan Sholat Idul Adha berlangsung khidmat sejak pagi hari. Jamaah datang dari berbagai wilayah sekitar Ngamprah dan kawasan perkantoran pemerintahan. Selain aparatur sipil negara, masyarakat umum turut memenuhi area masjid hingga pelataran luar.

Dalam sambutan Bupati Bandung Barat yang dibacakan Asisten Daerah I Kabupaten Bandung Barat, Dudi Prabowo, pemerintah daerah menekankan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan daerah.
“Pemerintah daerah senantiasa berusaha bersama seluruh elemen masyarakat, meskipun dalam perjalanan seringkali kita menghadapi berbagai permasalahan. Namun, dengan kerja keras dan kebersamaan, semua rintangan dapat kita lalui,” ujar Dudi saat membacakan sambutan.
Pernyataan tersebut merefleksikan situasi yang dihadapi banyak daerah, termasuk Bandung Barat, yang masih berhadapan dengan tantangan sosial-ekonomi, mulai dari pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pendidikan, hingga penguatan ketahanan keluarga di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pola interaksi sosial.
Pesan pemerintah daerah dalam peringatan Idul Adha kali ini tampak diarahkan bukan sekadar pada dimensi spiritual, melainkan juga penguatan solidaritas sosial. Dalam sambutan itu, pemerintah mengajak masyarakat menjaga optimisme dan membangun kolaborasi lintas elemen.
“Kita harus memiliki keyakinan bahwa perubahan positif akan terjadi jika kita bergandengan tangan, saling mendukung, dan tidak mudah berputus asa,” kata Dudi melanjutkan sambutan.

Selepas pelaksanaan sholat, kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama yang mengangkat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tema tersebut menjadi salah satu narasi sentral dalam Idul Adha, terutama terkait nilai pengorbanan, kepatuhan, dan pendidikan anak dalam keluarga.
Penceramah menyoroti dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, hubungan ayah dan anak dalam kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak dibangun melalui tekanan, melainkan komunikasi dan keteladanan.
“Pendidikan anak harus dibangun dengan dialog, bukan paksaan. Orang tua dan guru wajib menjadi teladan yang baik,” ujar penceramah di hadapan jamaah.
Pesan itu menjadi relevan di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak media sosial, teknologi digital, dan perubahan pola pergaulan anak. Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketahanan keluarga dan pendidikan karakter semakin sering dibicarakan seiring tingginya paparan informasi digital terhadap anak-anak dan remaja.

Ceramah juga menyinggung makna ibadah kurban sebagai sarana membangun kepedulian sosial. Nilai berbagi dinilai penting dipertahankan ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang membuat kesenjangan sosial semakin terasa.
Dalam pandangan penceramah, ibadah kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi juga mengandung dimensi pendidikan moral. Anak-anak perlu diperkenalkan pada nilai empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
“Hikmah ibadah qurban antara lain mendidik anak agar peduli sesama, membentuk pribadi yang dermawan, serta membangun empati terhadap komunitas,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya budaya individualisme perkotaan, pesan tersebut memperoleh konteks yang lebih luas. Tradisi berbagi daging kurban selama Idul Adha selama ini tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, melainkan mekanisme sosial yang memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan puluhan bingkisan sembako dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kepada masyarakat sekitar yang mengikuti Sholat Idul Adha. Bantuan tersebut diserahkan secara langsung di lingkungan masjid.
Distribusi bantuan sosial dalam peringatan hari besar keagamaan kerap menjadi bagian dari upaya menjaga keterhubungan pemerintah dengan masyarakat. Meski bersifat simbolik, langkah itu memperlihatkan adanya perhatian terhadap kelompok warga yang membutuhkan dukungan ekonomi, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat.
Idul Adha pada akhirnya bukan hanya tentang ritual tahunan, tetapi juga ruang untuk membaca ulang hubungan antara nilai agama, tanggung jawab sosial, dan tantangan kehidupan modern. Dari mimbar masjid di pusat pemerintahan Bandung Barat, pesan yang muncul bukan semata ajakan beribadah, melainkan dorongan untuk menjaga keteladanan, solidaritas, dan daya tahan sosial masyarakat.
Reporter : Komala Sari