TBC dan Stigma: Pelajaran dari Skrining di Karangtanjung

Jurnalis9.com Bandung Barat, 27 April 2026. Tuberkulosis masih menjadi pekerjaan rumah panjang layanan kesehatan publik. Penyakit menular yang menyerang paru dan organ lain itu kerap terlambat ditemukan, bukan semata karena keterbatasan fasilitas, tetapi juga karena stigma yang membuat warga enggan memeriksakan diri. Di tengah persoalan itu, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menggelar skrining sistematis TBC dan cek kesehatan gratis, Senin, 27 April 2026.

Kegiatan berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Karangtanjung. Sebanyak 135 warga diundang mengikuti pemeriksaan. Mereka bukan dipilih secara acak, melainkan berasal dari keluarga atau lingkungan terdekat penderita TBC. Pendekatan ini menunjukkan perubahan cara pandang penanganan penyakit menular: tidak menunggu pasien datang, melainkan aktif mencari kelompok berisiko.

Program tersebut merupakan kerja sama Rumah Cemara, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Puskesmas Cililin, serta pemerintah desa. Kolaborasi semacam ini penting karena TBC bukan persoalan medis semata. Ia menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga psikologis masyarakat.

Kepala Desa Karangtanjung Rismawan mengatakan kegiatan itu diarahkan untuk memutus rantai penularan sejak awal. “Program ini ditujukan khususnya untuk warga yang memiliki kontak atau tinggal di sekitar penderita TBC. Jadi bukan untuk penderita langsung, tetapi sebagai langkah antisipasi dan pencegahan dini,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan satu hal penting: penanganan TBC bergeser dari pola reaktif menuju preventif. Dalam banyak kasus, penularan terjadi di ruang paling dekat—rumah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Karena itu, pemeriksaan terhadap kontak erat menjadi kunci.

Peserta mendapatkan sejumlah layanan pemeriksaan. Untuk skrining TBC, panitia menyiapkan rontgen dada dengan perangkat X-Ray, pemeriksaan dahak, serta tes Mantoux. Sementara layanan umum mencakup cek kesehatan dasar, termasuk pemeriksaan gula darah.

Kehadiran X-Ray bergerak menjadi penanda bahwa deteksi dini kini semakin mungkin dilakukan di tingkat desa. Selama ini, warga di wilayah pinggiran sering menghadapi hambatan jarak, biaya transportasi, dan waktu ketika harus memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Ketika alat dibawa mendekat ke warga, hambatan itu berkurang.

Namun teknologi saja tidak cukup. Tantangan terbesar justru berada di ranah sosial. Rismawan mengakui masih ada anggapan bahwa TBC adalah aib. Persepsi itu membuat sebagian warga memilih diam, menunda berobat, atau menolak diperiksa.

“Kami memahami hal itu, sehingga pendekatan yang dilakukan lebih persuasif agar masyarakat tetap mau diperiksa tanpa merasa takut atau dikucilkan,” ujarnya.
Stigma terhadap TBC memang bukan masalah baru. Penyakit ini sering dikaitkan dengan kemiskinan, kebersihan, atau ketidakmampuan menjaga diri. Padahal, secara medis TBC dapat menyerang siapa saja, terutama ketika daya tahan tubuh menurun dan kontak dengan penderita terjadi dalam waktu lama.

Di Karangtanjung, pemerintah desa mengaku rutin melakukan pemantauan bulanan dan pendampingan warga menuju puskesmas bila dibutuhkan. Langkah sederhana itu penting karena pengobatan TBC memerlukan kedisiplinan tinggi dan waktu panjang. Pasien yang berhenti di tengah jalan berisiko mengalami kekambuhan bahkan resistensi obat.

Rismawan mengatakan kasus di wilayahnya lebih banyak ditemukan pada usia dewasa hingga lanjut usia. Meski demikian, risiko pada anak tetap ada. Untuk sementara, belum ditemukan kasus pada balita di desa tersebut.

Kegiatan skrining ini dijadwalkan berlangsung bertahap selama enam bulan dan dilakukan setiap hari di tiga lokasi berbeda. Skema itu memperlihatkan upaya memperluas jangkauan layanan, bukan sekadar kegiatan seremonial satu hari.

Pelajaran dari Karangtanjung cukup jelas. Penanganan TBC tidak dapat bergantung pada rumah sakit atau puskesmas semata. Negara perlu hadir hingga level komunitas, membawa alat, tenaga kesehatan, edukasi, dan pendekatan sosial yang manusiawi. Tanpa itu, banyak kasus akan tetap tersembunyi di balik dinding rumah dan rasa malu.

Skrining massal di desa ini mungkin tampak sederhana. Namun dari ruang serbaguna di sebuah desa, tersimpan pesan yang lebih besar: penyakit menular hanya bisa dikalahkan bila deteksi dini berjalan, pengobatan tuntas dijaga, dan masyarakat dibebaskan dari stigma. Tanpa tiga hal itu, TBC akan terus menjadi beban lama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Reporter : Rega

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....