Jurnalis9.com Bandung, 1 Mei 2026. Di gedung Graha Manggala Siliwangi, diskusi terbuka mengenai film terbaru garapan sutradara Deddie berlangsung selama dua jam lebih. Bertajuk “Silent Dance”, film ini menghadirkan tawaran yang jarang ditemui dalam lanskap perfilman nasional belakangan: perjumpaan antara tari tradisional Sunda dengan gerakan K-pop, tanpa menjadikan salah satunya sebagai musuh. Produser Syamsudin, para aktor seperti Ambu Rita Laraswati, Kang Arul, Ale, Kang Deni, Abah Ajo, serta perwakilan tim produksi hadir dalam talk show yang juga menjadi rangkaian awal menuju gala premiere pada 8 Mei dan penayangan serentak 14 Mei 2026. Lokasi penayangan di seluruh pulau Jawa dan Labuan Bajo. Penayangan ini diputar di Bioskop Sam’s Studio dan New Star Cinema serta CGV di Mall BEC Bandung.
Di tengah derasnya arus budaya populer global yang kerap dipandang sebagai ancaman bagi kearifan lokal, “Silent Dance” justru memilih jalan berbeda. Film ini tidak bercerita tentang perlawanan terhadap pengaruh luar, melainkan tentang penyerapan yang sadar. “Seorang dewi itu bukan menolak, tapi menerima kolaborasi tari K-pop dan tari tradisional,” ujar Syamsudin di hadapan audiens. Diceritakan peran Laras adalah Ale yang masih mempertahankan tarian tradisional. Sedangkan peran Dewi adalah Kezia Starbe sebagai gadis yang akhirnya mendapat kesempatan untuk menari di panggung pertunjukan yang sebelumnya adalah tim kebersihan.

Salah satu cerita paling menarik yang mengemuka dalam diskusi adalah ihwal “penari tersembunyi”. Syamsudin menjelaskan bahwa tidak semua orang yang tampil menari di film ini berasal dari jalur profesional sejak awal. “Tidak ada kesempatan, ketika kesempatan itu ada maka diorbitkan, diperhatikan,” katanya merujuk pada alur cerita film yang menemukan bakat-bakat terpendam.
Lokasi syuting dipusatkan di Kampung Bareto, Garut, yang menurut tim produksi memiliki kesesuaian visual dan atmosfer dengan skenario. Garut kemudian diposisikan sebagai ikon geografis film ini. Selain itu, pengambilan gambar juga dilakukan di kawasan Cihideung dan Braga, Bandung. Seluruh proses produksi berlangsung sekitar dua tahun, dengan pengambilan gambar utama selama tujuh hari di Garut dan sisanya di kawasan Bandung. Meski tergolong singkat, para aktor mengakui intensitas latihan yang tinggi, terutama untuk adegan tari.

Ambu Rita Laraswati, yang berperan sebagai sesepuh kampung pemilik sanggar tari “Mekar Asih”, menuturkan bahwa tantangan terbesar justru terjadi di luar jam syuting normal. “Melatih sampai jam tiga subuh di lapangan permainan adat, yang terkadang nge-blank dalam melatih,” katanya. Sebagai praktisi budaya yang juga mengacu pada undang-undang pelestarian warisan tak benda, Ambu Rita menekankan bahwa sanggarnya tidak sekadar tempat menari, tetapi juga ruang pewarisan nilai. Dalam film, sanggar itu menjadi benteng terakhir yang menjaga tarian laras hate yang diterjemahkan sebagai “tarian jiwa-jiwa yang merdeka”.
Dimensi sosial yang diangkat tidak berhenti pada persoalan budaya. Aktor Kang Deni memerankan tokoh antagonis bernama Omo, seseorang yang dipakai sebagai alat kampanye oleh penguasa desa bernama Gurniwa untuk mempertahankan kekuasaan dan menguasai tanah. “Menjaga tanah yang akan dikuasai Pak Gurniwa,” ujar Kang Deni menjelaskan konflik dalam skenario. Sementara itu, Kang Arul yang memerankan Gurniwa menggambarkan karakternya sebagai figur arogan namun penyayang dimana seorang ayah yang segala tindakannya, termasuk yang merugikan orang lain, ia lakukan demi anaknya.

Tokoh spiritual dihadirkan melalui peran Abah Ajo sebagai pemuka masyarakat. Baginya, proses syuting adalah bagian dari pekerjaan yang harus dijalani dengan rasa nikmat. “Selama syuting kita enjoy saja,” katanya dengan polos, menegaskan bahwa tekanan produksi tidak sampai mengganggu eksekusi peran. Hal berbeda disampaikan oleh Ale, yang berperan sebagai Laras, tokoh protagonis dewasa dan baik hati. Tantangan terbesar baginya bukanlah adegan tari, ia telah menari selama 12 tahun, melainkan soal bahasa. “Aslinya saya tidak bisa berbahasa Sunda,” akunya. Namun keterbatasan itu tidak menjadi hambatan karena pendekatan kolektif tim produksi yang dinilainya hangat dan solider.
Dari sisi kebijakan, film ini menarik untuk dicermati karena tidak melibatkan kolaborasi langsung dengan pemerintah, tetapi secara eksplisit mendukung program pelestarian budaya. “Kami tetap mendukung program pemerintah dalam pelestarian budaya lokal karena hal tersebut merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara,” ujar Syamsudin dalam wawancara terpisah. Sanggar Mekar Asih dalam beberapa kesempatan) berkomitmen mengangkat budaya Sunda yang mulai kurang diminati, tanpa menolak kehadiran budaya luar yang digemari generasi muda.

Pilihan memasukkan elemen K-pop, sebagaimana diakui tim produksi, semata-mata untuk mengikuti tren anak muda saat ini. Bukan untuk menggantikan, melainkan untuk menciptakan jembatan. Dalam praktiknya, kolaborasi ini melibatkan para penari dari grup StarBe yang dinilai mampu menampilkan karakter pendukung secara meyakinkan. Produser menambahkan bahwa sinergi antara pemain lokal dan pendatang justru menjadi kekuatan utama produksi. “Masing-masing jadi satu kesatuan yang menjadikan kekuatan besar,” kata Ambu Rita menirukan semangat kebersamaan di lokasi syuting.
Ekonomi produksi film ini relatif mandiri. Sponsor utama berasal dari Air Kemasan merk Siliwangi, perusahaan air minum lokal, yang turut mendukung distribusi dan kegiatan promosi seperti talk show di Graha Manggala Siliwangi. Sementara itu, dukungan teknis seperti grading ditangani oleh REKA FX STUDIO, dan tata suara oleh Dedi Piit serta Maman Soemantri. Tidak disebutkan besaran anggaran secara terbuka, namun dari durasi produksi dua tahun dan keterlibatan puluhan pemain serta kru, film ini masuk kategori film independen dengan skala menengah.

Dampak publik yang diharapkan, menurut para pemain dan produser, bukan sekadar hiburan. Kang Arul berharap masyarakat, khususnya di Bandung dan Indonesia pada umumnya, dapat mengambil pelajaran tentang nilai budaya dan kasih sayang. Ambu Rita bahkan lebih jauh: “Semoga film ini tidak hanya ditonton masyarakat Jawa Barat, tetapi juga seluruh Indonesia, bahkan dunia.” Harapan itu disampaikan karena “Silent Dance” dinilai sebagai contoh kolaborasi budaya lokal dan luar yang tidak saling meniadakan.
Dalam penutupan talk show, Syamsudin kembali mengingatkan pesan inti yang ingin disampaikan film ini. “Kita mempunyai jati diri, kita harus menjaganya budaya asli bangsa kita,” kataya. Ia kemudian mengajak hadirin untuk menonton “Silent Dance” sebagai bentuk dukungan terhadap karya yang lahir dari ekosistem produksi lokal namun membuka diri pada pengaruh global. Sutradara Deddie, melalui pesan yang dibacakan salah satu kru, menyampaikan amanat singkat: penari harus menari dengan hati. Sebab pada akhirnya, tarik menarik antara tradisi dan modernitas tidak harus dimenangkan salah satu pihak yang diperlukan adalah tarian jiwa yang merdeka.
Reporter : Komala Sari