Hendrik Irawan Undang Derry Sulaiman Antara Spiritualitas dan Tanggung Jawab Sosial

Jurnalis9.com Batujajar, 3 Mei 2026. Ratusan warga menghadiri pengajian dan tausiah yang digelar Yayasan Azura Berkah Rezeki di SPPG Pangauban, Kabupaten Bandung Barat, Ahad. Kegiatan ini menghadirkan pendakwah Derry Sulaiman, serta sejumlah figur publik seperti Elly Sugigi, DJ Amoy Karamoy, dan Saipul Jamil.

Acara berlangsung dalam suasana sederhana namun padat. Tokoh agama setempat dan masyarakat sekitar memadati lokasi sejak pagi. Seluruh peserta dijamu makan oleh penyelenggara, Hendrik Irawan, pemilik SPPG Pangauban yang juga menjadi penggerak kegiatan.

Dalam tausiahnya, Derry Sulaiman mengangkat tema klasik namun tetap relevan: ketergantungan manusia kepada Tuhan. Ia menekankan bahwa fluktuasi iman kerap berakar pada ketidakkonsistenan dalam menggantungkan harapan kepada Allah.
“Kenapa iman kita turun naik, karena tidak istiqamah berharap kepada Allah. Yang utama itu hanya kepada-Nya,” ujar Derry.

Ia mengingatkan bahwa seluruh aspek kehidupan berada dalam kendali Tuhan. Perspektif ini, menurut dia, bukan sekadar ajaran normatif, melainkan fondasi untuk membangun ketenangan batin.
“Berharap pada makhluk akan kecewa. Semua dalam genggaman Allah,” katanya.

Derry juga menyoroti pentingnya disiplin spiritual dalam rutinitas sehari-hari. Ia mengajak jamaah membiasakan memulai aktivitas dengan kesadaran religius dan mengakhirinya dengan rasa syukur.
“Mulai segala urusan dengan bismillah, akhiri dengan alhamdulillah,” ucapnya.

Lebih jauh, ia menggarisbawahi perbedaan antara dunia dan akhirat sebagai kerangka berpikir dalam menjalani kehidupan. Dunia, kata dia, bersifat sementara dan kerap menipu persepsi manusia tentang keberhasilan.
“Dunia itu hanya sebentar saja. Akhirat itu selamanya,” ujar Derry.
Pesan tersebut diperkuat dengan penekanan pada ibadah sebagai instrumen pembenahan diri. “Siapa yang memperbaiki salat, maka Allah akan memperbaiki hidupnya,” katanya.

Di luar aspek spiritual, kegiatan ini juga menampilkan dimensi sosial yang cukup kuat. Hendrik Irawan menyebut pengajian ini sebagai bagian dari ikhtiar menggabungkan nilai keagamaan dengan program penyediaan makanan bergizi.
“Alhamdulillah, tanggapannya sangat positif. Kami juga memohon doa agar program MBG ini bisa bermanfaat bagi anak-anak, agar tumbuh sehat dan kuat,” ujar Hendrik.

Ia menilai kehadiran masyarakat yang mencapai ratusan orang mencerminkan kebutuhan ruang interaksi yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga fungsional.
“Respons warga sangat bahagia. Kami menyediakan makanan gratis untuk semua yang hadir,” katanya.

Hendrik menargetkan SPPG Pangauban dapat berkembang menjadi model layanan penyediaan makanan bergizi yang konsisten dalam kualitas.
“Harapannya bisa menjadi percontohan. Kami akan terus menjaga kualitas menu dan pelayanan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan keterbukaan terhadap kritik sebagai bagian dari mekanisme kontrol publik. “Jika ada kekurangan, kami siap memperbaiki,” kata dia.

Pandangan kritis datang dari Saipul Jamil yang menyoroti aspek teknis pengelolaan dapur dan kualitas makanan. Ia menilai fasilitas yang ada sudah cukup baik, tetapi mengingatkan pentingnya standar yang konsisten.
“Dapurnya bersih dan makanannya enak. Ini harus jadi contoh bahwa program seperti ini tidak boleh asal-asalan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa program makanan bergizi tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral pelaksana. Menurut dia, kualitas makanan harus menjadi prioritas, bukan sekadar pemenuhan administratif.
“Jangan hanya mengejar keuntungan. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” katanya.

Saipul juga menyinggung perlunya evaluasi berkelanjutan, terutama di tengah munculnya kasus-kasus yang mencoreng program serupa di tempat lain.
“Kalau tidak mampu, lebih baik jujur. Jangan sampai anggaran negara terbuang karena kualitas yang buruk,” ujarnya.

Sementara itu, Derry Sulaiman dalam sesi terpisah menyoroti pentingnya profesionalisme dalam mengelola fasilitas publik seperti dapur MBG. Ia mengaitkan hal ini dengan prinsip dasar dalam ajaran agama.
“Kalau pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, akan membawa kehancuran,” ujarnya.
Namun, ia menilai pengelolaan di SPPG Pangauban menunjukkan indikasi positif. “Saya melihat ini dikelola oleh orang yang ahli,” katanya.

Kegiatan ini memperlihatkan pertemuan dua ranah yang kerap berjalan terpisah: spiritualitas dan pelayanan publik. Tausiah menghadirkan refleksi keagamaan, sementara program makanan bergizi menyentuh kebutuhan konkret masyarakat.

Di titik ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan acara, melainkan dari konsistensi antara pesan moral dan praktik di lapangan. Penguatan iman yang disampaikan dalam ceramah menemukan relevansinya ketika diterjemahkan ke dalam tanggung jawab sosial yang nyata.

Pengajian di Pangauban menjadi contoh bagaimana ruang keagamaan dapat berfungsi lebih luas dari sekadar ritual. Ia menjadi medium edukasi, kontrol sosial, sekaligus pengingat bahwa kualitas pelayanan publik, dalam konteks apa pun, tetap bertumpu pada integritas pelaksananya.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....