Jurnalis9.com Bandung, 29 Mei 2026. Transformasi layanan kesehatan menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan kualitas hidup masyarakat. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan fasilitas medis yang modern, mudah dijangkau, dan didukung tenaga profesional, Primaya Hospital Rajawali memperkenalkan berbagai pengembangan layanan kesehatan kepada publik dalam ajang National Roadshow IFBC Expo 2026 yang berlangsung di Sudirman Grand Ballroom, Kota Bandung.
Keikutsertaan Primaya Hospital Rajawali dalam pameran yang mempertemukan pelaku usaha, investor, pemilik merek waralaba, UMKM, dan masyarakat umum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan wajah baru rumah sakit yang selama puluhan tahun dikenal masyarakat Bandung sebagai Rumah Sakit Rajawali.
Kini, rumah sakit tersebut telah bergabung dalam jaringan Primaya Hospital Group dan beroperasi dengan nama Primaya Hospital Rajawali. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut identitas, tetapi juga menghadirkan penguatan layanan, peningkatan fasilitas, serta integrasi dengan jaringan rumah sakit nasional yang terus berkembang.

Hospital Marketing Primaya Hospital Rajawali, Gatot T. Sunandar, menjelaskan bahwa rumah sakit tersebut kini menjadi bagian dari jaringan Primaya Hospital Group yang memiliki lebih dari 20 cabang di berbagai daerah di Indonesia.
“Saat ini yang dulu Rumah Sakit Rajawali menjadi Primaya Rajawali Hospital. Kita bergabung di Primaya Hospital Group. Saat ini cabangnya sudah lebih dari 20 dan kami menjadi salah satu cabang dalam jaringan tersebut,” ujar Gatot saat ditemui di sela-sela IFBC Expo 2026.
Bagi masyarakat Bandung, nama Rajawali memiliki sejarah panjang dalam pelayanan kesehatan. Karena itu, transformasi yang dilakukan tidak menghilangkan karakter pelayanan yang selama ini dikenal masyarakat, melainkan memperkuatnya dengan dukungan sistem manajemen dan teknologi yang lebih modern.
Menurut Gatot, sejumlah layanan unggulan kini menjadi fokus pengembangan Primaya Hospital Rajawali, antara lain Oncology Center, Trauma Center, serta Mother and Child Center yang dirancang untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat secara lebih komprehensif.

Layanan onkologi menjadi salah satu kekuatan utama yang terus dikembangkan. Kebutuhan penanganan kanker yang semakin meningkat mendorong rumah sakit menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi, mulai dari deteksi dini, konsultasi spesialis, tindakan bedah, hingga terapi lanjutan.
“Unggulan kami saat ini adalah pelayanan onkologi. Untuk kanker payudara kami sudah dapat melakukan tindakan bedah onkologi seperti mastektomi. Selain itu untuk kanker paru kami juga sudah memiliki layanan kemoterapi dan imunoterapi,” kata Gatot.
Perkembangan teknologi medis dalam bidang onkologi memungkinkan pasien memperoleh penanganan yang lebih tepat dan terukur. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat Bandung dan Jawa Barat memperoleh akses layanan kanker tanpa harus melakukan rujukan ke kota lain.
Selain onkologi, Trauma Center juga menjadi salah satu layanan yang mendapatkan perhatian khusus. Bandung sebagai kota besar dengan aktivitas ekonomi dan industri yang terus berkembang memerlukan fasilitas kesehatan yang mampu memberikan penanganan cepat terhadap berbagai kasus cedera maupun kecelakaan.

Menurut Gatot, layanan trauma ditujukan untuk mendukung penanganan kasus kecelakaan kerja maupun kecelakaan lainnya yang membutuhkan respons medis cepat dan terintegrasi.
Di sisi lain, layanan kesehatan ibu dan anak tetap menjadi salah satu prioritas. Melalui Mother and Child Center, rumah sakit menyediakan layanan kesehatan yang mendampingi keluarga mulai dari masa kehamilan, persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
Penguatan layanan unggulan tersebut didukung oleh ketersediaan dokter spesialis dan subspesialis yang semakin lengkap. Gatot menjelaskan bahwa saat ini layanan rawat jalan telah mencakup berbagai bidang spesialisasi yang banyak dibutuhkan masyarakat.
“Untuk rawat jalan dokter kami sudah sangat lengkap. Mulai dari obstetri dan ginekologi, dokter anak, penyakit dalam, jantung, hingga bedah sudah tersedia,” ujarnya.

Tidak hanya menghadirkan layanan baru, Primaya Hospital Rajawali juga tetap mempertahankan sejumlah layanan yang selama ini telah menjadi ciri khas rumah sakit tersebut. Salah satunya adalah penanganan hemoroid atau wasir yang sejak lama dikenal masyarakat.
“Untuk hemoroid kami masih tetap menjalankan pelayanan seperti sebelumnya. Tindakan dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti laser, radiofrekuensi, maupun ligasi sesuai kebutuhan pasien,” kata Gatot.
Transformasi yang dilakukan rumah sakit juga mencakup pengembangan fasilitas dan teknologi penunjang pelayanan. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor kesehatan mengalami percepatan digitalisasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan sekaligus kenyamanan pasien.
Melalui integrasi dengan jaringan Primaya Hospital Group, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan digital, termasuk kemudahan pendaftaran, informasi jadwal dokter, hingga sistem layanan yang semakin terhubung antarjaringan rumah sakit.

Terkait akses layanan kesehatan bagi masyarakat luas, Gatot menjelaskan bahwa Primaya Hospital Rajawali saat ini tengah menjalani proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
“Kami sedang berproses untuk kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Tentunya kami mendukung program pemerintah dan ingin memberikan fasilitas kesehatan yang dapat diakses masyarakat lebih luas,” ujarnya.
Komitmen memperluas akses layanan tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang berkualitas sekaligus terjangkau.
Kehadiran Primaya Hospital Rajawali dalam IFBC Expo 2026 juga menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem usaha tidak hanya berkaitan dengan sektor perdagangan dan kewirausahaan, tetapi juga membutuhkan dukungan sektor kesehatan yang kuat.
IFBC Expo 2026 sendiri menghadirkan ratusan peluang usaha dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, pendidikan, jasa, teknologi, hingga layanan pendukung bisnis. Acara yang berlangsung pada 29–31 Mei 2026 itu mendapat dukungan berbagai kementerian, asosiasi, institusi pendidikan, komunitas bisnis, dan perusahaan nasional.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menekankan pentingnya peningkatan jumlah wirausaha Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
Di tengah dinamika tersebut, sektor kesehatan menjadi salah satu fondasi penting yang menopang produktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Menutup perbincangan, Gatot menyampaikan harapannya agar Primaya Hospital Rajawali dapat kembali menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama yang dipercaya masyarakat.
“Harapan kami ke depan, Primaya Hospital Rajawali dapat kembali menjadi pilihan masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik, menjangkau lebih luas masyarakat Kota Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia,” tuturnya.

Dengan kombinasi pengalaman panjang, dukungan jaringan nasional, tenaga medis profesional, serta pengembangan layanan berbasis teknologi, Primaya Hospital Rajawali berupaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Reporter : Komala Sari