Mengenalkan Sekolah, Menyatukan Peran Orang Tua dalam MPLS di SMPN 1 Parongpong

Jurnalis9.com Bandung Barat, 22 Juli 2026. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 1 Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, tahun ajaran 2026/2027 diselenggarakan selama lima hari dengan pendekatan yang menempatkan siswa dan orang tua sebagai bagian dari proses adaptasi di lingkungan pendidikan. Selain empat hari kegiatan bagi peserta didik baru, sekolah menyediakan satu hari khusus bagi orang tua untuk mengenalkan kebijakan, budaya sekolah, serta arah pembelajaran yang akan dijalani anak selama menempuh pendidikan.Kepala SMP Negeri 1 Parongpong, Ati Rosmiati, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 465 siswa baru kelas VII. Menurutnya, penyelenggaraan MPLS tetap mengedepankan prinsip ramah anak sebagaimana arah kebijakan pendidikan nasional. “Kami mengusung temanya MPLS ramah anak. Jadi tidak ada perpeloncoan, tidak ada tugas-tugas yang menyulitkan anak. Semua kegiatan mengedukasi dan meningkatkan karakter anak,” ujarnya.Model pelaksanaan itu selaras dengan ketentuan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang menegaskan bahwa MPLS harus berlangsung dalam lingkungan yang aman, inklusif, bebas kekerasan, bebas pungutan, serta berorientasi pada penguatan karakter peserta didik. Regulasi tersebut juga mengharuskan sekolah memperkenalkan budaya belajar, tata tertib, serta nilai-nilai kehidupan di lingkungan pendidikan sejak awal tahun ajaran.Di SMPN 1 Parongpong, hari ketiga dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah bahkan menetapkan setiap siswa baru mengikuti sedikitnya satu kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian dari pengembangan minat dan bakat. Sementara hari keempat dipusatkan pada kegiatan kepramukaan yang diarahkan untuk membangun disiplin, kerja sama, dan kepemimpinan.Berbeda dengan orientasi siswa pada umumnya, sekolah juga mempertahankan kegiatan MPLS bagi orang tua yang telah diterapkan sejak tahun sebelumnya. Selama sekitar dua jam, orang tua memperoleh penjelasan mengenai visi dan misi sekolah, program kurikulum, kesiswaan, hubungan masyarakat, hingga sarana prasarana.Ati Rosmiati menilai keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi sejak awal. “Orang tua juga harus tahu mengenai program-program sekolah,” katanya. Menurut dia, respons wali murid tergolong sangat positif. Salah satu pertanyaan yang muncul dalam forum bahkan berkaitan dengan praktik pungutan liar. Sekolah menegaskan seluruh proses MPLS tidak dipungut biaya.Wakil bidang kesiswaan, Yeyet Sriharyati, menjelaskan seluruh materi MPLS disusun mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta dinas pendidikan. Materi tidak hanya disampaikan guru, tetapi juga melibatkan sejumlah instansi sesuai bidang keahlian masing-masing.Materi kebencanaan, misalnya, diberikan dengan mempertimbangkan kondisi geografis Parongpong yang berada di kawasan sekitar Sesar Lembang. Pengetahuan mengenai mitigasi dinilai penting agar siswa memahami langkah penyelamatan apabila terjadi keadaan darurat. Selain itu, sekolah juga menghadirkan materi mengenai bahaya narkoba serta pendidikan lingkungan hidup melalui kolaborasi dengan instansi terkait.Sementara itu, isu perundungan menjadi salah satu materi yang diberikan langsung oleh pihak sekolah. Menurut Yeyet, pengenalan antarsiswa sejak awal menjadi salah satu upaya membangun relasi yang sehat sehingga potensi konflik dapat diminimalkan. Di sisi lain, sekolah juga memperkuat aturan melalui tata tertib dan buku saku siswa yang memuat larangan tindakan perundungan beserta pembinaan karakter.”Kami berharap antara orang tua dengan sekolah ada kolaborasi yang baik, sehingga tujuan sekolah dan tujuan orang tua bisa sejalan dalam membentuk anak-anak yang berkarakter,” kata Yeyet.Keterlibatan orang tua juga berkaitan dengan pelaksanaan berbagai program pembiasaan di rumah. Sekolah memperkenalkan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat, budaya 5S, etika bermedia sosial, hingga penjelasan mengenai struktur pembelajaran baru, termasuk mata pelajaran coding yang mulai diterapkan. Informasi tersebut diberikan agar orang tua memahami aktivitas belajar anak dan mampu memberikan dukungan secara konsisten.Pendekatan ini menunjukkan bahwa orientasi peserta didik tidak lagi dipahami sebatas pengenalan ruang kelas atau tata tertib sekolah. MPLS berkembang menjadi ruang membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan komunikasi yang dibangun sejak awal, proses adaptasi siswa diharapkan berlangsung lebih baik sekaligus memperkuat pembentukan karakter sebagai fondasi pembelajaran pada jenjang pendidikan berikutnya.Reporter : Komala Sari

Mengenalkan Sekolah, Menyatukan Peran Orang Tua dalam MPLS di SMPN 1 Parongpong

Jurnalis9.com Bandung Barat, 22 Juli 2026. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 1 Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, tahun ajaran 2026/2027 diselenggarakan selama lima hari dengan pendekatan yang menempatkan siswa dan orang tua sebagai bagian dari proses adaptasi di lingkungan pendidikan. Selain empat hari kegiatan bagi peserta didik baru, sekolah menyediakan satu hari khusus bagi orang tua untuk mengenalkan kebijakan, budaya sekolah, serta arah pembelajaran yang akan dijalani anak selama menempuh pendidikan.

Kepala SMP Negeri 1 Parongpong, Ati Rosmiati, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 465 siswa baru kelas VII. Menurutnya, penyelenggaraan MPLS tetap mengedepankan prinsip ramah anak sebagaimana arah kebijakan pendidikan nasional. “Kami mengusung temanya MPLS ramah anak. Jadi tidak ada perpeloncoan, tidak ada tugas-tugas yang menyulitkan anak. Semua kegiatan mengedukasi dan meningkatkan karakter anak,” ujarnya.

Model pelaksanaan itu selaras dengan ketentuan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang menegaskan bahwa MPLS harus berlangsung dalam lingkungan yang aman, inklusif, bebas kekerasan, bebas pungutan, serta berorientasi pada penguatan karakter peserta didik. Regulasi tersebut juga mengharuskan sekolah memperkenalkan budaya belajar, tata tertib, serta nilai-nilai kehidupan di lingkungan pendidikan sejak awal tahun ajaran.

Di SMPN 1 Parongpong, hari ketiga dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah bahkan menetapkan setiap siswa baru mengikuti sedikitnya satu kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian dari pengembangan minat dan bakat. Sementara hari keempat dipusatkan pada kegiatan kepramukaan yang diarahkan untuk membangun disiplin, kerja sama, dan kepemimpinan.

Berbeda dengan orientasi siswa pada umumnya, sekolah juga mempertahankan kegiatan MPLS bagi orang tua yang telah diterapkan sejak tahun sebelumnya. Selama sekitar dua jam, orang tua memperoleh penjelasan mengenai visi dan misi sekolah, program kurikulum, kesiswaan, hubungan masyarakat, hingga sarana prasarana.

Ati Rosmiati menilai keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi sejak awal. “Orang tua juga harus tahu mengenai program-program sekolah,” katanya. Menurut dia, respons wali murid tergolong sangat positif. Salah satu pertanyaan yang muncul dalam forum bahkan berkaitan dengan praktik pungutan liar. Sekolah menegaskan seluruh proses MPLS tidak dipungut biaya.

Wakil bidang kesiswaan, Yeyet Sriharyati, menjelaskan seluruh materi MPLS disusun mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta dinas pendidikan. Materi tidak hanya disampaikan guru, tetapi juga melibatkan sejumlah instansi sesuai bidang keahlian masing-masing.

Materi kebencanaan, misalnya, diberikan dengan mempertimbangkan kondisi geografis Parongpong yang berada di kawasan sekitar Sesar Lembang. Pengetahuan mengenai mitigasi dinilai penting agar siswa memahami langkah penyelamatan apabila terjadi keadaan darurat. Selain itu, sekolah juga menghadirkan materi mengenai bahaya narkoba serta pendidikan lingkungan hidup melalui kolaborasi dengan instansi terkait.

Sementara itu, isu perundungan menjadi salah satu materi yang diberikan langsung oleh pihak sekolah. Menurut Yeyet, pengenalan antarsiswa sejak awal menjadi salah satu upaya membangun relasi yang sehat sehingga potensi konflik dapat diminimalkan. Di sisi lain, sekolah juga memperkuat aturan melalui tata tertib dan buku saku siswa yang memuat larangan tindakan perundungan beserta pembinaan karakter.

“Kami berharap antara orang tua dengan sekolah ada kolaborasi yang baik, sehingga tujuan sekolah dan tujuan orang tua bisa sejalan dalam membentuk anak-anak yang berkarakter,” kata Yeyet.
Keterlibatan orang tua juga berkaitan dengan pelaksanaan berbagai program pembiasaan di rumah. Sekolah memperkenalkan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat, budaya 5S, etika bermedia sosial, hingga penjelasan mengenai struktur pembelajaran baru, termasuk mata pelajaran coding yang mulai diterapkan. Informasi tersebut diberikan agar orang tua memahami aktivitas belajar anak dan mampu memberikan dukungan secara konsisten.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa orientasi peserta didik tidak lagi dipahami sebatas pengenalan ruang kelas atau tata tertib sekolah. MPLS berkembang menjadi ruang membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan komunikasi yang dibangun sejak awal, proses adaptasi siswa diharapkan berlangsung lebih baik sekaligus memperkuat pembentukan karakter sebagai fondasi pembelajaran pada jenjang pendidikan berikutnya.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....