Kades Firman Supianto Percayakan Pengibaran Merah Putih kepada Satlinmas Mukapayung

Jurnalis9.com Cililin, 28 Agustus 2026. Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, 17 Agustus 2026 di Lapangan upacara Desa Mukapayung pagi itu menyajikan pemandangan yang tidak lazim. Ketika pasukan pengibar bendera biasanya diisi pelajar, Sang Merah Putih justru berada di tangan anggota Satuan Perlindungan Masyarakat atau Satlinmas. Usia mereka rata-rata lebih dari 40 tahun. Sebagian bahkan mendekati 60 tahun.

Pilihan itu lahir dari gagasan Kepala Desa Mukapayung Firman Supianto. Ia ingin peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada rutinitas tahunan, tetapi memberi ruang bagi warga untuk menunjukkan kemampuan. Satlinmas dipilih karena selama ini kelompok tersebut identik dengan tugas keamanan, ketertiban, dan bantuan sosial di lingkungan desa.
“Kita ingin memberikan contoh kepada para pemuda. Kenapa tidak Linmas, orang Linmas juga yang sudah berusia, ya lanjutlah anggap saja mereka bisa. Kenapa yang muda tidak bisa mencontoh kepada Bapak-Bapak Linmas,” kata Firman.

Ada alasan lain di balik keputusan itu. Firman melihat disiplin sebagai kemampuan yang tidak mengenal batas usia. Karena itu, para anggota Satlinmas diberi kesempatan menjalankan tugas yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi. Mereka dituntut memahami aba-aba, menjaga formasi, serta memastikan bendera dapat dikibarkan dengan benar.

Tantangannya tidak ringan. Pelajar yang menjadi pasukan pengibar umumnya masih berada pada usia sekolah sehingga relatif mudah mengikuti pola latihan intensif. Satlinmas Mukapayung menghadapi kondisi berbeda. Para anggotanya memiliki pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Latihan harus menyesuaikan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Latihan berlangsung selama tujuh hari dengan durasi sekitar satu jam setiap sore. Pemerintah desa tidak menerapkan latihan panjang dari pagi hingga sore. Para anggota berlatih dari pukul 16.00 sampai 17.00 agar kewajiban pekerjaan dan keluarga tetap dapat dijalankan.

“Latihan itu kurang lebih tujuh hari. Kita mulai latihan tidak satu hari dari jam 8 sampai jam 4, tapi kita latihan dari jam 4 sampai jam 5,” ujar Firman.

Justru pada aspek teknis sederhana, tekanan terbesar muncul. Lipatan bendera harus ditempatkan secara tepat sebelum pengibaran. Jika posisi keliru, bendera berisiko terbalik atau tidak terbuka sempurna ketika ditarik ke atas tiang. Kesalahan semacam itu dapat terjadi dalam hitungan detik, tetapi berdampak langsung pada jalannya upacara.

Firman mengaku ikut merasakan ketegangan saat pengibaran berlangsung. Sebagai kepala desa yang menggagas kegiatan tersebut, keberhasilan Satlinmas menjadi pertaruhan tersendiri. Setelah latihan selama sepekan, seluruh tahapan akhirnya dapat dijalankan dengan baik.

“Sangat terharu, deg-degan, alhamdulillah sukses,” kata Firman.
Satlinmas Desa Mukapayung memiliki 23 anggota dan dua pembina. Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa kelompok ini bukan organisasi dengan fungsi tunggal. Dalam kerangka pemerintahan desa, Satlinmas memiliki peran membantu menjaga ketenteraman dan ketertiban masyarakat, membantu penanganan bencana dan keadaan darurat, serta mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan.

Karena itu, keterlibatan mereka sebagai pengibar bendera memiliki arti yang lebih luas bagi pemerintah desa. Tugas tersebut memperlihatkan kemampuan lain dari anggota Satlinmas yang selama ini lebih sering berada di belakang kegiatan masyarakat.
Firman berharap perhatian terhadap Satlinmas juga berjalan beriringan dengan pemberian fasilitas yang dibutuhkan. Ia mengatakan dukungan pemerintah daerah sudah mulai dirasakan, termasuk terkait insentif. Namun, masih terdapat kebutuhan fasilitas yang menurutnya perlu dipenuhi.
“Fasilitas-fasilitas yang belum tersampaikan kepada Linmas dan dibutuhkan oleh Linmas bisa dapat cepat terpenuhi oleh pihak pemerintah Kabupaten,” ujarnya.

Satlinmas Mukapayung juga memiliki pengalaman dalam lomba Peraturan Baris-Berbaris. Kelompok tersebut disebut meraih prestasi dalam kompetisi tingkat Kecamatan Cililin dan wilayah sekitarnya. Pengalaman itu menjadi modal ketika mereka harus menjalankan tugas yang menuntut kedisiplinan dan kekompakan.

Namun, keberhasilan mengibarkan bendera tidak ingin dijadikan alasan untuk berhenti. Firman justru meminta para anggota Satlinmas menjadikan pengalaman itu sebagai contoh bagi masyarakat.
“Jangan berbesar hati kita sudah bisa mengibarkan bendera, tapi sesudah pengibaran bendera sukses, berikan contoh yang lebih lanjut kepada warga masyarakat,” katanya.

Pesan itu menjadi inti dari pilihan Desa Mukapayung. Kemerdekaan ditempatkan dalam konteks yang dekat dengan kehidupan warga: kemampuan untuk berkontribusi, kesediaan berlatih, dan kemauan menjalankan tanggung jawab tanpa dibatasi usia.

Bagi generasi muda, para anggota Satlinmas menunjukkan bahwa kemampuan tidak otomatis hilang karena pertambahan usia. Bagi warga yang lebih tua, pengalaman Mukapayung memberi pesan sebaliknya: usia tidak harus menjadi alasan untuk menarik diri dari kehidupan sosial.

Desa Mukapayung tahun ini memasuki usia ke-44. Pemerintah desa menyatakan masih menyiapkan inovasi lain untuk kegiatan berikutnya. Perempuan, misalnya, belum ditempatkan sebagai pengibar bendera dan dalam kegiatan tahun ini lebih banyak terlibat dalam paduan suara.

Pengibaran Merah Putih oleh Satlinmas akhirnya selesai tanpa kendala berarti. Tidak ada klaim besar yang perlu disematkan pada peristiwa itu. Yang tersisa adalah satu pelajaran sederhana dari sebuah lapangan desa: pengabdian kepada masyarakat dapat mengambil banyak bentuk, termasuk berdiri tegak di hadapan tiang bendera setelah tujuh hari latihan, lalu menyelesaikan tugas dengan disiplin dan tanggung jawab.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....