Kolaborasi Akademisi, Dewan, dan UMKM Hidupkan Ekonomi Lokal Bandung.

Bandung, 9 Januari 2026. Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat terus diperkuat di Kota Bandung melalui penyelenggaraan Teras Bazar UMKM Perahu Kita yang digelar di Pasar Modern Batununggal Indah. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), akademisi, serta pemangku kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat yang berkelanjutan.

Acara tersebut dihadiri Ketua Umum Teras Kita sekaligus penggerak Perahu Kita, Dr. Dodi Nugraha, moderator Heri dari tim pemasaran Perahu Kita, perwakilan Universitas INABA, anggota DPRD Kota Bandung, serta unsur Pemerintah Kota Bandung. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan bahwa penguatan UMKM tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak.

Dalam sambutannya, Dr. Dodi Nugraha menekankan bahwa Perahu Kita hadir bukan sekadar menggelar bazar sementara. “Perahu Kita hadir di sini justru untuk membantu teman-teman UMKM, berkaitan dengan apa pun masalah yang mereka miliki, kita coba pecahkan,” ujarnya. Menurut dia, program ini dirancang sebagai pendampingan berkelanjutan selama enam bulan melalui skema inkubator bisnis, berbeda dari bazar pada umumnya yang berhenti tanpa tindak lanjut.

Pasar Modern Batununggal dipilih karena dinilai representatif dan strategis. Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah meningkatkan jumlah pengunjung. “Salah satu pekerjaan rumah kita adalah meningkatkan traffic pasar agar lebih ramai dan hidup,” kata Dodi. Ia berharap, dengan pendampingan yang konsisten, UMKM dapat tumbuh bersama dan pasar menjadi pusat aktivitas ekonomi warga.

Materi utama disampaikan oleh M. Bagja Jaya Wibawa, S.H., anggota DPRD Kota Bandung. Ia memaparkan data bahwa jumlah UMKM terdaftar di Kota Bandung pada 2024 baru mencapai 10.916 unit. Angka tersebut, menurutnya, masih jauh dari ideal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Bandung sekitar 2,5 juta jiwa. Mengacu pada konsep Healthy Entrepreneurial Society, sebuah kota idealnya memiliki wirausaha sebanyak lima persen dari populasi atau sekitar 125.000 UMKM.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. UMKM adalah motor penggerak ekonomi rakyat, menyerap tenaga kerja, dan relatif lebih tangguh menghadapi krisis,” ujar Bagja. Ia juga menekankan pentingnya inovasi produk, pemanfaatan teknologi digital, pelayanan pelanggan, serta akses permodalan dan pelatihan agar UMKM dapat naik kelas.

Pandangan serupa disampaikan Heri dari Perahu Kita. Menurut dia, banyak UMKM selama ini hanya berjuang untuk bertahan hidup tanpa strategi jangka panjang. “Keberadaan fasilitas inkubator ini dipersiapkan untuk itu. Di sini sudah tersedia studio digital, pelatihan pemasaran daring, sekitar 27 kios, serta fasilitas penjualan digital,” katanya.

Sejumlah kajian ekonomi nasional juga menunjukkan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia karena kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi lokal. Dengan pendekatan pendampingan yang terstruktur seperti di Pasar Batununggal, diharapkan UMKM Bandung tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan mandiri, sekaligus menjadikan pasar rakyat sebagai pusat kehidupan ekonomi kota yang tertata dan maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....