Jurnalis9.com Padalarang, 15 Juni 2026. Pemerintah Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, menggelar Rembug Stunting Tahun Anggaran 2026 di GOR Desa Kertamulya. Kegiatan ini menjadi forum evaluasi sekaligus penyusunan langkah strategis dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di tingkat desa.
Rembug stunting tersebut dihadiri Camat Padalarang Hendi Setiadi, Kepala Desa Kertamulya Farhan Fauzi, Ketua TP PKK Desa Kertamulya Feni Hermawanti, kader Posyandu, Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TP3S), Babinsa, Bhabinkamtibmas, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bandung Barat.
Dalam pemaparannya, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Bandung Barat, Ujang Aliyudin, menyampaikan bahwa Desa Kertamulya mencatat capaian yang cukup baik dalam pelaporan konvergensi stunting.
“Desa Kertamulya mencapai angka di atas 87 persen dalam laporan pemantauan konvergensi stunting melalui aplikasi eHDW yang diisi oleh Kader Pembangunan Manusia (KPM),” ujarnya.

Menurut Ujang, capaian tersebut menunjukkan tingkat partisipasi dan komitmen desa dalam melakukan pemantauan terhadap sasaran program pencegahan stunting. Data yang akurat dan tepat waktu menjadi fondasi utama dalam menentukan kebijakan dan intervensi yang efektif.
Ia menjelaskan, TP3S memiliki lima tugas utama yang menjadi tulang punggung percepatan penurunan stunting. Pertama, melakukan koordinasi dan konsolidasi data sasaran agar data keluarga berisiko stunting selalu mutakhir. Kedua, melakukan penggerakan serta pendampingan lapangan terhadap kelompok sasaran seperti calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ketiga, mengawal proses perencanaan dan penggunaan anggaran agar program stunting memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai. Keempat, memastikan pemenuhan standar pelayanan dasar seperti layanan gizi, sanitasi, dan akses air bersih. Kelima, melakukan monitoring, evaluasi, serta pembinaan terhadap pelaksanaan program pencegahan stunting di tingkat desa.
“Hasil rembug stunting nantinya akan menjadi bagian dari penyusunan RKPDes sehingga program yang dirancang benar-benar berdasarkan kebutuhan dan kondisi lapangan,” kata Ujang.

Sementara itu, Kepala Desa Kertamulya Farhan Fauzi menegaskan bahwa persoalan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat.
“Hari ini kita melaksanakan kegiatan yang sangat penting. Stunting jangan sampai dianggap hal biasa. Kita harus terus melakukan upaya preventif dan aktif menjaganya. Ini merupakan tugas bersama pemerintah desa dan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Farhan mengatakan kegiatan rembuk stunting tahun ini difokuskan untuk mengevaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya sekaligus mengidentifikasi kebutuhan baru yang perlu diakomodasi dalam perencanaan pembangunan desa.

Dalam sesi wawancara, Farhan menjelaskan bahwa rembuk stunting menjadi salah satu prioritas penggunaan Dana Desa karena memiliki dampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Rembuk stunting ini sangat baik untuk mengidentifikasi masalah dan mengevaluasi hasil program yang telah berjalan pada tahun 2025. Dari kegiatan ini akan lahir program-program prioritas yang nantinya dirumuskan dan dimasukkan ke dalam APBDes tahun 2027,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan laporan yang diterima dari seluruh wilayah RW di Desa Kertamulya, hingga saat ini belum ditemukan warga yang masuk kategori stunting.
“Alhamdulillah dari RW 1 sampai RW 26 tidak ada warga yang masuk kategori stunting. Namun kalau berbicara tentang kerawanan, tentu ada. Untuk warga yang terindikasi rawan, kami langsung melakukan intervensi bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan,” ujar Farhan.
Selain itu, ia menyebutkan tidak ditemukan kasus gizi buruk maupun permasalahan serius pada ibu hamil di wilayahnya. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan program kesehatan masyarakat dan sektor swasta.

“Kami terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Ada program CSR, kelas ibu hamil, pemberian makanan tambahan, dan berbagai kegiatan edukasi kesehatan. Jika ditemukan anak dengan risiko gizi buruk, kami akan segera melakukan intervensi,” katanya.
Di sisi lain, Camat Padalarang Hendi Setiadi mengingatkan bahwa persoalan stunting masih menjadi tantangan besar di Kabupaten Bandung Barat. Ia menyebut data prevalensi stunting di daerah tersebut masih menjadi perhatian pemerintah.
Menurut Hendi, kualitas data menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan program penanganan stunting. Ia menyoroti masih adanya alat ukur posyandu yang rusak sehingga berpotensi menghasilkan data yang kurang akurat.
“Semakin banyak data yang masuk, maka pemetaan program akan semakin tepat. Dari situ kita bisa menentukan intervensi yang sesuai untuk mengurangi angka stunting,” ujarnya.
Hendi juga mengaitkan upaya penurunan stunting dengan visi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi yang sehat dan bebas stunting merupakan modal utama untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Melalui rembug stunting ini, Desa Kertamulya berharap seluruh pemangku kepentingan tetap menjaga semangat kolaborasi dalam mengawal kesehatan ibu, remaja, dan anak. Langkah tersebut dinilai penting agar desa mampu mempertahankan kondisi bebas stunting sekaligus mencegah munculnya kasus baru di masa mendatang.
Reporter : Komala Sari