Jurnalis9.con 18 Juni 2026. Di tengah meningkatnya ancaman terhadap kawasan pesisir akibat sampah plastik, perubahan iklim, dan berkurangnya habitat satwa laut, pelestarian lingkungan tidak lagi cukup dipahami sebagai agenda sesaat. Keberhasilannya justru ditentukan oleh kemampuan membangun kesadaran masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Pendekatan inilah yang menjadi benang merah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Iconnectivity for Green yang dijalankan Srikandi PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Barat di Pantai Batu Hiu, Kabupaten Pangandaran, pada 18 Juni 2026.
Program tersebut memadukan aksi lingkungan dengan pemberdayaan perempuan melalui kerja sama bersama Komunitas Cipta Asri Pesisir Selatan dan Yayasan Pelestari Penyu Raksa Bintana. Pilihan ini menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya berbicara mengenai perlindungan satwa atau kebersihan pantai, melainkan juga mengenai investasi sosial yang mampu mengubah perilaku masyarakat dalam jangka panjang.
Aksi bersih pantai menjadi bagian awal dari rangkaian kegiatan. Para peserta yang terdiri atas Srikandi PLN Icon Plus, anggota komunitas perempuan, dan pegiat lingkungan memungut sampah yang tersebar di sepanjang pesisir Batu Hiu. Langkah tersebut memiliki arti lebih luas dibanding membersihkan kawasan wisata. Sampah plastik yang terbawa ke laut telah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan biota laut, termasuk penyu yang menjadikan pantai sebagai tempat bertelur.

Karena itu, menjaga kebersihan pesisir merupakan bagian dari upaya mempertahankan keseimbangan ekosistem laut. Upaya seperti ini hanya akan memberikan hasil apabila dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan tukik hasil konservasi Yayasan Pelestari Penyu Raksa Bintana. Pelepasan anak penyu ke habitat alaminya menjadi penanda bahwa proses konservasi tidak berhenti pada penyelamatan telur, tetapi berlanjut hingga meningkatkan peluang hidup satwa yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia.
Di balik pelepasan tukik tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan masyarakat. Salah satu kekuatan utama berasal dari Komunitas Cipta Asri Pesisir Selatan yang selama ini aktif mendampingi kegiatan konservasi. Menariknya, sebagian anggota komunitas itu merupakan warga yang sebelumnya pernah terlibat dalam penangkapan maupun perdagangan penyu secara ilegal.
Perubahan itu memperlihatkan bahwa pendekatan persuasif melalui edukasi dan pembinaan mampu menghasilkan dampak yang lebih berkelanjutan. Masyarakat yang dahulu menjadi bagian dari persoalan kini justru berubah menjadi pelindung habitat penyu. Transformasi tersebut menjadi contoh bahwa konservasi akan lebih efektif ketika masyarakat diberi kesempatan untuk terlibat secara aktif, bukan sekadar menjadi objek program.
Dalam proses perubahan tersebut, perempuan memainkan peranan yang sangat penting. Mereka aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, mendampingi aktivitas konservasi, hingga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan di lingkungan keluarga. Peran itu sering kali berlangsung tanpa banyak perhatian, padahal menjadi fondasi dalam membangun budaya pelestarian alam.
Senior Manager PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Barat, Heni Utari Ambarwati, mengatakan keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan masyarakat, termasuk perempuan yang memiliki peran strategis dalam menciptakan perubahan. Melalui kolaborasi bersama Komunitas Cipta Asri Pesisir Selatan, kami ingin menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi motor penggerak konservasi, edukasi lingkungan, dan pembangunan sosial yang berkelanjutan. Inilah semangat yang ingin terus kami dorong melalui program TJSL PLN Icon Plus,” ujar Heni.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Ketua Komunitas Cipta Asri Pesisir Selatan, Sucipto. Menurut dia, perempuan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan konservasi di kawasan Batu Hiu.
“Perempuan-perempuan di komunitas kami memiliki peran yang sangat besar dalam kegiatan konservasi, mulai dari edukasi kepada masyarakat, pendampingan kegiatan penangkaran, hingga menjaga kesadaran lingkungan di keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan dari PLN Icon Plus melalui Iconnectivity for Green menjadi motivasi bagi kami untuk terus bergerak menjaga laut dan melestarikan penyu,” kata Sucipto.
Jika dicermati lebih jauh, nilai utama program ini bukan hanya terletak pada aksi membersihkan pantai atau pelepasan tukik. Yang lebih penting adalah terbentuknya kolaborasi antara dunia usaha, komunitas lokal, dan organisasi konservasi dalam membangun perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan seperti ini memberi peluang lebih besar bagi keberlanjutan program dibanding kegiatan yang hanya berlangsung sesaat tanpa pendampingan.
Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, konservasi membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian. Ia memerlukan partisipasi, pendidikan, dan keberanian mengubah cara pandang masyarakat terhadap alam. Melalui Iconnectivity for Green, Srikandi PLN Icon Plus menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan perempuan.
Ketika komunitas lokal diberi ruang untuk berkembang dan perempuan menjadi penggerak utama, konservasi tidak hanya menghasilkan pantai yang lebih bersih atau penyu yang kembali ke laut, tetapi juga melahirkan masyarakat yang memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Reporter : Komala – Restu