Jurnalis9.com LEMBANG. Sebuah kursi roda yang diantarkan ke rumah Wina, warga RT 1 RW 15 Kampung Ciraten Pentas, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat, 3 Juli 2026, mungkin tampak sebagai bantuan sederhana. Namun, bagi perempuan yang telah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan akibat penyakit dan kecelakaan, bantuan itu memiliki makna yang jauh lebih besar. Ia menjadi simbol bahwa perhatian kepada kelompok rentan masih dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah.
Perjalanan hidup Wina dipenuhi ujian yang datang berturut-turut. Pada 2018, ia didiagnosis menderita tumor kelenjar di leher. Operasi dan kemoterapi telah dijalani sebagai ikhtiar untuk memulihkan kesehatan. Ketika kondisi mulai membaik, cobaan lain datang pada 2021. Kebocoran tabung gas memicu kebakaran yang menyebabkan sekitar 40 persen tubuhnya mengalami luka bakar, termasuk pada wajah, badan, dan kedua tangan.
Dampak yang ditinggalkan tidak berhenti pada luka fisik. Wina mengalami gangguan pernapasan, pendengaran yang menurun, kemampuan mengecap makanan yang berkurang, hingga kesulitan menelan sehingga makanan harus dihaluskan terlebih dahulu. Kemampuan berjalan juga terus menurun sampai akhirnya ia tidak lagi mampu berpindah tempat tanpa bantuan orang lain.

Di tengah kondisi tersebut, keinginan Wina sebenarnya sangat sederhana. Ia hanya ingin memiliki kursi roda agar sesekali dapat keluar rumah, menikmati udara segar, dan berjemur di bawah sinar matahari. Harapan yang tampak sederhana itu justru menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kualitas hidupnya.
Keinginan tersebut kemudian mendapat perhatian dari lingkungan sekitar. Ketua RT, Ketua Dusun, Kepala Desa Wangunsari Diki Rohani, serta Ketua Posyandu Desa Wangunsari Nopiyani Kartika Abidin berupaya mencari jalan agar kebutuhan Wina dapat dipenuhi. Aspirasi itu diteruskan kepada Pemerintah Kecamatan Lembang yang selama ini aktif membantu penyediaan kursi roda bagi warga dengan keterbatasan fisik.
Sehari setelah kegiatan Bimbingan Teknis Posyandu yang juga diisi dengan penyerahan sepuluh kursi roda kepada masyarakat yang membutuhkan, Camat Lembang Bambang Eko bersama Ketua Posyandu Kecamatan Lembang Maya Ekawati mendatangi langsung rumah Wina. Kehadiran mereka bukan sekadar menyerahkan alat bantu, tetapi memastikan bantuan benar-benar diterima oleh warga yang membutuhkan.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang Eko menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk hadir secara nyata di tengah masyarakat.
“Negara hadir untuk membantu rakyatnya secara nyata,” ujarnya.
Pernyataan itu mengandung pesan bahwa pelayanan publik tidak selalu diukur dari besarnya program yang dijalankan. Perhatian terhadap kebutuhan dasar warga, terutama mereka yang hidup dalam kondisi rentan, juga merupakan bagian penting dari tugas pemerintah.
Maya Ekawati, yang memimpin Posyandu Kecamatan Lembang, tidak mampu menyembunyikan rasa harunya saat melihat kondisi Wina. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengatakan masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.
“Masyarakat masih banyak yang membutuhkan. Untuk itu Posyandu Lembang hadir dengan Bergerak, Beraksi, Mangprang,” katanya.
Sementara itu, Nopiyani Kartika Abidin menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterima salah satu warga Desa Wangunsari.
“Hari ini Desa Wangunsari mendapatkan keberkahan karena warga kami memperoleh kursi roda dari Bapak Camat dan Ibu Camat. Terima kasih atas perhatian yang diberikan,” ujarnya.

Di balik suasana haru itu, terselip kisah yang tidak diduga. Menjelang akhir kunjungan, Wina baru menyadari bahwa Maya Ekawati merupakan sosok yang selama ini ia ikuti melalui media sosial TikTok. Pertemuan yang sebelumnya hanya terjadi di ruang digital berubah menjadi perjumpaan langsung. Keduanya kemudian saling berpelukan dengan penuh haru.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa empati tidak berhenti pada ruang virtual. Ketika diwujudkan melalui tindakan nyata, perhatian mampu menghadirkan harapan baru bagi mereka yang sedang menghadapi keterbatasan.
Kisah Wina juga menjadi pengingat bahwa masih banyak warga yang hidup dengan kondisi kesehatan berat dan membutuhkan dukungan berkelanjutan, baik berupa alat bantu, layanan kesehatan, maupun pendampingan sosial. Bantuan yang datang tepat sasaran memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi mampu mengembalikan sebagian kemandirian dan martabat penerimanya.
Pada akhirnya, nilai terpenting dari peristiwa ini bukan semata penyerahan sebuah kursi roda. Yang lebih penting adalah lahirnya kepedulian yang bergerak dari lingkungan terdekat, diteruskan oleh pemerintah desa, dan direspons oleh pemerintah kecamatan. Rantai kepedulian semacam inilah yang layak dipelihara karena menunjukkan bahwa pelayanan publik akan lebih bermakna ketika mampu menjangkau warga yang paling membutuhkan. Di tengah berbagai tantangan sosial, langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan ketulusan sering kali menjadi jawaban paling nyata bagi mereka yang selama ini menunggu untuk diperhatikan.
Jika diinginkan, saya juga dapat membuat versi yang lebih khas Tempo, dengan analisis sosial yang lebih kuat, alur lebih investigatif, dan penutup yang lebih reflektif tanpa meninggalkan prinsip keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik.
Reporter : Komala Sari