Bandung, Jawa Barat | Januari 2026. Di balik suara khas dan pembawaan tenang yang melekat kuat di ingatan penonton, Deddy Mansyur menyimpan perjalanan panjang sebagai pelaku seni peran yang setia menapaki dunia perfilman Indonesia. Aktor senior asal Bandung ini dikenal luas melalui perannya sebagai tokoh supranatural dalam film Budak Angon, sebuah karya layar lebar yang mengangkat legenda dan nubuatan Sunda, serta sarat pesan spiritual dan kebudayaan.
Dalam sebuah wawancara, Deddy Mansyur yang akrab disapa Abah Dedi memperkenalkan diri secara sederhana. “Abah Dedi Mansyur, orang Bandung,” ucapnya. Kesederhanaan itu sejalan dengan perjalanan hidupnya yang tidak selalu berada di jalur utama sorotan, namun konsisten dan penuh makna.
Lahir di Bandung pada 10 November 1957, Deddy Mansyur telah melewati berbagai fase kehidupan. Ia menyaksikan langsung dinamika dunia seni dan perfilman Indonesia sejak era film klasik hingga perkembangan digital saat ini. “Hidup itu penuh pengalaman. Ada masanya di atas, ada masanya di bawah. Kepahitan ada, tapi di balik itu ada manisnya,” tutur Deddy, menggambarkan refleksi panjang atas perjalanan hidupnya.
Ketertarikannya pada seni peran tumbuh sejak usia muda. Saat merantau ke Jakarta, Deddy Mansyur bercita-cita menjadi aktor. Namun jalan hidup membawanya lebih banyak berperan sebagai pemeran pembantu dan figuran. Meski demikian, ia tidak memandang peran kecil sebagai sesuatu yang remeh. Baginya, setiap kesempatan adalah ruang belajar dan pengabdian pada seni. “Saya memang asli dari dunia seni peran. Walaupun sering jadi figuran, itu tetap bagian dari proses,” katanya.
Puluhan film telah ia lakoni, meski tidak semuanya tercatat secara rapi. Salah satu yang kembali mengangkat namanya ke perhatian publik adalah film Budak Angon. Film ini tidak hanya diputar di Indonesia, tetapi juga menjangkau penonton di Amerika Serikat dan Australia, serta tersedia di platform YouTube. Dalam film tersebut, Deddy Mansyur memerankan tokoh supranatural yang memahami dunia mistis, sebuah karakter yang menuntut kedalaman ekspresi dan pemahaman budaya lokal.
Film Budak Angon sendiri diangkat dari Uga Wangsit Prabu Siliwangi, sebuah nubuatan yang hidup dalam khazanah budaya Sunda. Uga Wangsit itu menyebutkan akan hadir sosok Budak Angon yang kelak membawa keselamatan, keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Sunda dan kelompok lainnya. Kisah ini kemudian ditafsirkan ulang melalui perjalanan sekelompok mahasiswa yang mencari makna dan jati diri Budak Angon di tengah berbagai tantangan. Puncak cerita membuka rahasia besar yang menjadi inti pesan film tersebut.
Selain Budak Angon, Deddy Mansyur juga tercatat pernah terlibat dalam film Sarkawi sebagai Juragan Sarkawi, serta berperan dalam film Kabayan dan Eksotika Situ Ciburuy. Keterlibatannya dalam film-film bernuansa lokal menunjukkan konsistensinya dalam merawat nilai budaya melalui medium perfilman.
Tidak berhenti di situ, Deddy Mansyur saat ini juga tengah terlibat dalam proyek film baru berjudul Majeti, yang digarap bersama Forum Kreatif Perfilman Nasional. Film tersebut mengangkat kisah mistis tentang sebuah pulau bernama Majeti, yang juga dikenal sebagai nama sebuah perkampungan di wilayah Ciamis, Jawa Barat. “Ceritanya tentang pusaran yang sering menarik orang masuk ke dalamnya,” ujar Deddy.
Film Majeti turut melibatkan aktris legendaris Ambusonia, sosok yang dikenal luas pada masanya. Keterlibatan Ambusonia menambah bobot historis sekaligus artistik dalam proyek tersebut, yang diharapkan dapat menjembatani generasi lama dan baru dalam dunia perfilman nasional.
Di luar dunia film, Deddy Mansyur juga aktif mengembangkan seni tradisi Sunda. Ia terlibat dalam seni Poka dan Sekasundaan melalui komunitas Barakatang. Komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menekuni seni, baik seni peran, seni suara, maupun bentuk ekspresi budaya lainnya. “Barakatang itu untuk mengorbitkan generasi mendatang yang punya minat di bidang seni,” katanya.
Bagi Deddy Mansyur, usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Ia memandang setiap umur sebagai kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan memberi manfaat. Harapannya sederhana namun mendalam, terutama bagi generasi muda. “Teruslah bersemangat. Raih cita-cita dan berikan yang terbaik di bidang yang kalian tekuni,” pesannya.
Melalui perjalanan panjang yang dijalaninya, Deddy Mansyur menjadi contoh bahwa ketekunan, kesetiaan pada proses, dan kecintaan pada budaya dapat berjalan beriringan. Di tengah perubahan zaman dan industri yang terus bergerak cepat, ia tetap berdiri sebagai pelaku seni yang merawat nilai, menjaga tradisi, dan memberi makna pada setiap peran, sekecil apa pun itu di layar maupun di kehidupan nyata. (ks)