LEMBANG, 28 Januari 2026. Di tengah guyuran hujan yang membasahi wilayah Bandung Barat, semangat kemanusiaan justru mengalir hangat dari halaman Kantor Kecamatan Lembang. Hari Rabu (28/1), masyarakat Kampung Cilumber, Desa Cibogo, secara resmi melepas sembilan armada bantuan tahap kedua yang ditujukan bagi para korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.
Pelepasan rombongan yang membawa berbagai kebutuhan pokok ini dipimpin langsung oleh Camat Lembang, Bambang Eko Setyowahjudi. Sebelum iring-iringan kendaraan logistik bergerak menembus jalur sempit dan berlumpur menuju lokasi bencana, suasana haru menyelimuti doa bersama yang dipanjatkan oleh para tokoh masyarakat, pengusaha, serta anggota Karang Taruna yang hadir.

Camat Lembang, Bambang Eko Setyowahjudi, menyatakan rasa bangganya atas inisiatif mandiri warga. Menurutnya, bantuan ini merupakan bentuk nyata solidaritas masyarakat Lembang terhadap penderitaan sesama. “Tadi pagi sekitar pukul sembilan, kami kembali melepas tahap kedua bantuan dari masyarakat Desa Cibogo dengan kekuatan yang cukup besar. Kami berharap bantuan ini benar-benar bisa meringankan beban warga yang terdampak,” ujar Bambang saat ditemui di lokasi pelepasan.
Bantuan yang dikirimkan tergolong komprehensif, mulai dari sembako, perlengkapan perempuan, pakaian, kasur lipat, hingga sayuran segar. Kebutuhan sayuran menjadi prioritas karena lahan pertanian warga di Pasirlangu hancur diterjang material longsor pada 16 November 2025 lalu, sehingga pasokan logistik dapur umum sangat bergantung pada donasi luar.

Namun, di balik antusiasme tersebut, Bambang juga memberikan catatan kritis terkait penyebab bencana. Mengutip arahan Gubernur, ia menyoroti adanya alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi permukiman dan lahan pertanian mulsa yang tidak ramah lingkungan. “Sistem mulsa ini sudah dilarang karena memicu air hujan tidak meresap ke tanah, sehingga meningkatkan risiko longsoran. Kami sudah mengirimkan surat imbauan tegas kepada para kepala desa dan Forkopimcam untuk melarang sistem tersebut,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang, Maya Ekawati, yang turut mengawal pengiriman bantuan, mengingatkan masyarakat agar menjaga etika di lokasi bencana. Ia menekankan bahwa kehadiran mereka adalah untuk misi kemanusiaan, bukan untuk berswafoto di tengah penderitaan orang lain. “Lokasi bencana itu bukan wisata bencana. Kita ke sana tujuannya memberikan bantuan. Jangan sampai kehadiran kita justru menambah beban karena rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya,” tutur Maya.
Di sisi lain, Haji Giri, salah satu koordinator warga Kampung Cilumber, menjelaskan bahwa bantuan ini dikumpulkan dari warga di RW 07, 08, 09, dan 12. “Masyarakat sudah siap dan ketika dikoordinasikan langsung bergerak cepat. Kami akan terus memantau informasi di lapangan untuk melihat apakah masih diperlukan bantuan spesifik pada termin berikutnya,” jelas Giri.
Hingga hari kelima pasca-bencana susulan, jalur menuju titik utama longsor dilaporkan masih padat oleh hilir mudik kendaraan bantuan dan petugas gabungan. Meski akses sempit dan berlumpur seringkali mengakibatkan kemacetan total, hal tersebut tidak menyurutkan langkah para donatur untuk memastikan bantuan sampai ke tangan yang berhak. Bencana ini menjadi alarm keras bagi masyarakat Bandung Barat untuk lebih waspada terhadap kelestarian alam demi mencegah tragedi serupa di masa depan. (rai)