Jurnalis9.com Cililin, 24 Okt 2026 Pimpinan Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung (P3SB) Cililin, KH Ari Gumanti, S.T., S.Sos., berharap peringatan Hari Santri Nasional menjadi langkah untuk memperkuat kembali identitas Cililin sebagai Kota Santri. Harapan tersebut disampaikan di tengah kegiatan tabligh akbar dan talkshow bertajuk History Santri Membangun Negeri yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung Barat di lingkungan P3SB, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Bagi Ari, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang berkumpulnya para kiai dan santri, tetapi juga kesempatan mempererat hubungan antar pesantren serta membangun perhatian bersama terhadap masa depan pendidikan Islam di Kabupaten Bandung Barat.

Ia mengatakan, P3SB mendapat kepercayaan dari PCNU Kabupaten Bandung Barat untuk menjadi tempat pelaksanaan kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional. Kepercayaan itu diharapkan membawa manfaat bagi pesantren sekaligus memperluas syiar Islam di tengah masyarakat.
“Ini mudah-mudahan jadi keberkahan buat pondok juga dan mudah-mudahan jadi syiar,” kata Ari saat diwawancarai secara terpisah.

Menurut Ari, Cililin memiliki akar sejarah yang kuat dalam perkembangan keilmuan dan penyebaran Islam di wilayah Bandung Barat. Karena itu, gagasan menghidupkan kembali sebutan Cililin sebagai Kota Santri perlu disertai upaya nyata untuk memperkuat pendidikan, menjaga tradisi keilmuan, dan meningkatkan kualitas generasi muda.
Ia berharap, keberadaan pesantren di Cililin dapat terus berkembang serta melahirkan santri yang memiliki bekal keagamaan, kemampuan intelektual, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman.

P3SB sendiri merupakan lembaga pendidikan Islam yang memadukan pembelajaran pesantren dengan pendidikan formal. Keberadaan lembaga tersebut menjadi bagian dari perkembangan pendidikan Islam di Kecamatan Cililin, yang memiliki tradisi keagamaan dan kehidupan pesantren yang panjang.
Ari juga menaruh perhatian pada dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan pesantren. Ia berharap Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Nomor 5 Tahun 2022 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren dapat diimplementasikan secara nyata sehingga memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan Islam.

“Harapannya setelah muncul Perda, ada perkembangan, perhatian khusus dari pemerintah terhadap pesantren-pesantren yang ada di Kabupaten Bandung Barat,” ujarnya.
Menurut Ari, komunikasi antara pengasuh pesantren, tokoh masyarakat, dan anggota DPRD perlu dilanjutkan agar kebutuhan pesantren dapat dibicarakan secara konkret. Dukungan tersebut diharapkan mencakup pengembangan pendidikan, peningkatan fasilitas, serta penguatan kapasitas lembaga.

Santri dan Tantangan Zaman
Kegiatan di P3SB turut menjadi ruang pembahasan mengenai sejarah perjuangan santri dan perannya dalam pembangunan bangsa. Melalui talkshow History Santri Membangun Negeri, sejumlah tokoh NU, pengasuh pesantren, dan anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat mendiskusikan pentingnya menjaga nilai keislaman sekaligus mempersiapkan santri menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat, Asep Sudrajat, S.Kom., M.M., mengatakan, santri perlu mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan setelah menyelesaikan pendidikan pesantren.

Menurut dia, pelatihan menjahit, tata boga, tata rias, perbengkelan, dan keterampilan lainnya dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kemandirian santri.
Sementara itu, Asep Miftah Sofwan, anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Fraksi Golkar, menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital bagi pesantren. Kemampuan tersebut dinilai dapat membantu santri memperluas akses informasi dan memperkenalkan kegiatan pendidikan kepada masyarakat.

Ia juga berharap pengembangan pesantren dapat dilakukan secara bertahap melalui perencanaan yang mempertimbangkan kebutuhan lembaga dan kemampuan keuangan daerah.
Bagi Ari Gumanti, penguatan pesantren harus berjalan seiring dengan terjaganya tradisi keilmuan dan akhlak santri. Kemajuan pendidikan tidak cukup diukur dari fasilitas, tetapi juga dari kemampuan pesantren membentuk generasi yang berpengetahuan, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan.

Pendidikan dan Kepedulian Sosial
Rangkaian Hari Santri di P3SB juga diisi dengan kegiatan sosial, antara lain donor darah, penyediaan sembako murah berupa beras dan minyak, serta penyuluhan kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat.
Dalam kegiatan tersebut, Gerak Muslimah Indonesia (GMI), melalui perwakilannya, Nela, memberikan donasi untuk pembangunan tempat wudu di lingkungan P3SB.
Selain itu, Ustaz Totoh Naufal Istikhory, yang dikenal sebagai Ustaz Boboko, mengingatkan santri agar bersungguh-sungguh menuntut ilmu, menghormati guru, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian dari pembentukan generasi muda. Santri diharapkan tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga mampu menerapkan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Bagi P3SB, rangkaian kegiatan Hari Santri menjadi kesempatan memperkuat hubungan antara pesantren dan masyarakat. Adapun harapan menjadikan Cililin sebagai Kota Santri memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pengasuh pesantren, santri, masyarakat, hingga pemerintah daerah.

Dengan dukungan yang berkelanjutan, pesantren diharapkan mampu mempertahankan tradisi keilmuan sekaligus membuka ruang bagi santri untuk berkembang dan mengambil peran lebih luas dalam pembangunan Kabupaten Bandung Barat.
Reporter : A.Wana