Pascapengungsian Longsor Sukajaya, Pemkab Bandung Barat Kaji Rencana Relokasi Warga

LEMBANG. 2 Januari 2026. Penanganan dampak bencana tanah longsor di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus dioptimalkan. Hingga Senin (2/2/2026), puluhan warga masih bertahan di tenda pengungsian darurat bantuan dari Kemensos pusat guna menghindari risiko longsor susulan akibat tingginya intensitas hujan.

​Peristiwa yang dipicu hujan lebat ini terjadi pada Sabtu (24/1/2026) di dua titik, yakni Kampung Cipariuk dan Kampung Sukadami. Selain merusak permukiman, bencana ini mengakibatkan sepasang suami istri di Kampung Sukadami meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.

​Berikut adalah laporan terkini mengenai perkembangan situasi dan penanganan di lokasi bencana.

​Kondisi Pengungsi dan Mitigasi Risiko
​Kepala Desa Sukajaya, Asep Jembar Rahmat, menyatakan bahwa evakuasi dilakukan demi menjamin keselamatan jiwa warga. Berdasarkan data terkini, terdapat 30 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak. Sebanyak 16 KK atau sekitar 46 jiwa kini menempati tenda pengungsian dari Kementerian Sosial (Kemensos), sementara 14 KK lainnya mengungsi ke rumah kerabat.

​”Kami mengimbau warga untuk tidak tinggal di rumah masing-masing karena kondisi di bawah sangat berisiko terdampak longsor susulan. Akses jalan menuju permukiman juga sangat terjal dan diapit dinding pasir,” ujar Asep Jembar saat ditemui di posko pengungsian, Senin (2/2/2026).

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Sosial KBB, H. Idad Sa’adudin, menegaskan pentingnya penggunaan tenda pengungsian sebagai langkah preventif.

​”Penyediaan tenda ini adalah upaya kami bersama Kemensos untuk menghadirkan tempat yang aman. Rumah warga dinilai rawan ambruk. Jika tetap tinggal di sana, dikhawatirkan terjadi longsor susulan yang membahayakan,” kata Idad.

​Kolaborasi Bantuan dan Layanan Kesehatan
​Penanganan bencana ini melibatkan kolaborasi lintas sektor. Berbagai pihak telah menyalurkan bantuan logistik, mulai dari pemerintah daerah hingga swadaya masyarakat.

​Pemerintah & Lembaga: Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail telah meninjau lokasi dan menyalurkan sembako. Bantuan juga mengalir dari Kemensos (tenda), Baznas, Dinsos, BNPB, BPBD, serta TP-PKK Kecamatan Lembang dan Pemerintahan Kecamatan Lembang yang menjadi pihak pertama di lokasi.

​Solidaritas Warga: Bantuan datang dari warga Desa Lembang, Desa Cikole (koordinasi RW 10 Bapak Apud Juna), Desa Cilumber (koordinasi Haji Eutik), hingga Pemerintahan Desa Pagerwangi dan Ciwaruga.

​Sektor Swasta & Organisasi: IGTKI PGRI Lembang serta pelaku usaha lokal seperti Bubuna Snack turut memberikan dukungan.

​Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang, Maya Ekawati, memastikan kebutuhan kelompok rentan menjadi prioritas. “Kami fokus pada anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Dapur umum sudah didirikan sejak kemarin untuk memastikan asupan makanan bagi penyintas,” jelasnya.

​Dari sisi kesehatan, Kepala Puskesmas Jayagiri, dr. Siswanto, menerjunkan tim medis yang terdiri dari dokter, tenaga gizi, dan surveilans. “Kami memantau risiko penyakit ISPA karena cuaca dingin di pengungsian. Sanitasi dan pengelolaan makanan di dapur umum juga kami dampingi agar tetap higienis,” kata Siswanto.

​Rencana Relokasi dan Evaluasi Geologi
​Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kini sedang mengkaji rencana relokasi permanen bagi warga yang rumahnya berada di zona merah. Namun, pencarian lahan aman di wilayah Lembang menjadi tantangan tersendiri.

​”Sesuai arahan Wakil Bupati, kami mengajukan wilayah ini untuk diteliti tim geologi. Secara pribadi, saya menilai lokasi ini sudah tidak layak huni, namun keputusan resmi menunggu hasil survei,” tambah Kades Asep Jembar.

​Dinas Sosial juga memberikan layanan dukungan psikososial (trauma healing) untuk membantu warga pulih dari dampak traumatis pascabencana. Warga diimbau tetap waspada mengingat curah hujan di wilayah Lembang diprediksi masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. (ks)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....