Jurnalis9.com Kabupaten Bandung, 15 Februari 2026. Ribuan jamaah dari berbagai daerah menghadiri Haul Akbar ke-17 Abuya KH Muhammad Yahya sekaligus peringatan hari lahir ke-78 Pondok Pesantren Darussurur Pusat yang berlangsung di kawasan pesantren Darussurur, Kampung Mencrut, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Ahad malam.
Kegiatan yang menjadi agenda tahunan ini digelar selama dua hari, 14–15 Februari 2026, sebagai momentum mengenang jasa pendiri pesantren sekaligus memperkuat nilai spiritual menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Rangkaian acara meliputi ziarah kubro, pengajian, doa bersama, dzikir, hingga tausiyah yang diikuti jamaah secara khidmat.

Suasana kawasan pesantren tampak dipadati jamaah sejak pagi. Rombongan datang dari berbagai wilayah seperti Bogor, Indramayu, Cirebon, Jakarta, Karawang, Sumedang, hingga daerah lain di luar provinsi. Panitia sebelumnya telah mengimbau penggunaan jalur alternatif untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas di sekitar Jalan Raya Nanjung.
Pondok Pesantren Darussurur dikenal sebagai pesantren salafiyah yang memiliki puluhan cabang di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Pesantren ini didirikan dengan visi membentuk santri berakhlak, menguasai ilmu keagamaan klasik, serta memiliki wawasan umum dan kemampuan bahasa.
Kehadiran sejumlah tokoh agama turut menambah kekhidmatan acara, di antaranya Habib Abdurrahman Bilfaqih, Habib Ahmad Alyidrus, dan KH Ahmad Salimul Afif yang memimpin doa serta memberikan tausiyah kepada jamaah.

Selain kegiatan keagamaan, aspek keamanan menjadi perhatian utama mengingat tingginya jumlah peserta. Pengamanan dilakukan oleh aparat kepolisian bersama unsur relawan dari Komunitas Informasi Citarum (KIC) di bawah koordinasi kepolisian setempat.
Ketua KIC Koordinator Wilayah 09 Cimahi, Oskar, menjelaskan keterlibatan relawan didasari kepedulian sosial untuk menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
“Iya, persiapan ini setelah mendengar berita hari Rabu kemarin bahwa di sini ada haul. Kami mempunyai rasa tanggung jawab, karena kami sifatnya sosial, ikut terjun untuk membantu,” ujar Oskar saat ditemui di lokasi.

Ia menyebutkan, jumlah relawan yang bertugas sekitar belasan orang, menyesuaikan dengan kondisi masing-masing anggota yang bekerja secara sukarela. Menurutnya, kehadiran relawan bertujuan mendukung terciptanya situasi yang aman dan nyaman bagi jamaah.
“Kami ini relawan, tidak digaji dan tidak memaksa anggota untuk selalu hadir. Intinya kami membantu masyarakat, khususnya dalam menjaga kamtibmas,” katanya.
Oskar juga menjelaskan bahwa KIC merupakan komunitas yang berfokus pada penyampaian informasi dan partisipasi sosial di wilayah hukum kepolisian, dengan jaringan yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Terkait pelaksanaan acara, ia menilai antusiasme jamaah cukup tinggi, termasuk dari luar kota. Hal tersebut terlihat dari arus kedatangan rombongan yang terus berdatangan hingga malam hari.
“Harapannya mudah-mudahan yang hadir bisa menyerap apa yang disampaikan para habaib dan untuk keamanannya tetap kondusif,” ujarnya.
Secara umum, kegiatan haul memiliki makna penting dalam tradisi pesantren sebagai sarana mengenang perjuangan ulama, mempererat silaturahmi, serta memperkuat nilai keagamaan di tengah masyarakat. Tradisi ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami sejarah dan keteladanan tokoh agama.
Rangkaian ziarah kubro dilaksanakan terpisah untuk jamaah perempuan pada pagi hingga sore hari, sementara jamaah laki-laki mengikuti ziarah pada malam hari hingga dini hari. Puncak acara berlangsung ba’da Maghrib dengan pembacaan doa dan tausiyah.
Untuk mengakomodasi jamaah yang tidak dapat hadir langsung, panitia menyediakan siaran langsung melalui kanal media daring pesantren sehingga masyarakat tetap dapat mengikuti rangkaian kegiatan dari jarak jauh.
Pelaksanaan haul berlangsung tertib dan lancar dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari panitia, aparat keamanan, relawan, hingga masyarakat sekitar yang turut membantu kelancaran kegiatan.
Momentum haul tahun ini diharapkan semakin mempererat hubungan antara pesantren dan masyarakat serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menyambut bulan Ramadhan.
Dengan berakhirnya rangkaian acara pada malam hari, jamaah kembali ke daerah masing-masing dengan membawa pesan spiritual dan harapan untuk terus menjaga nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter : Komala Sari