Jurnalis9.com. Sukajaya, 16 Maret 2026. Pemerintah Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menggelar rapat rutin Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) di Aula Kantor Desa Sukajaya, Selasa (17/3/2026). Kegiatan ini dihadiri para kader PKK, perangkat desa, tenaga kesehatan, serta masyarakat yang terlibat dalam berbagai program pelayanan dan pemberdayaan keluarga.
Rapat tersebut menjadi pertemuan pertama PKK Desa Sukajaya pada tahun 2026. Selain sebagai forum evaluasi program kerja, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi antar kader di bulan Ramadan menjelang Idulfitri.
Ketua TP PKK Desa Sukajaya, Mia Sutejawati, S.Pd., mengatakan pertemuan ini menjadi momentum penting untuk kembali menyatukan langkah seluruh kader setelah anggaran kegiatan PKK tahun 2026 mulai tersedia.

“Hari ini kita mengadakan rapat PKK untuk pertama kali di tahun 2026. Hal ini karena anggarannya baru turun. Sekaligus kita bersilaturahmi di bulan Ramadan menjelang Idulfitri,” ujar Mia.
Dalam pertemuan tersebut, seluruh unsur kader PKK di tingkat desa hadir, mulai dari pengurus inti hingga kader yang terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan masyarakat seperti posyandu.
Selain melakukan evaluasi program kerja, rapat juga membahas pembaruan surat keputusan kepengurusan sejumlah lembaga yang berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan keluarga.

Beberapa kepengurusan yang diperbarui antara lain Pos KB, Posyandu, pengurus PKK, organisasi perempuan Al-Hidayah dan Muslimah, serta pengurus Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Program RBM di Desa Sukajaya selama ini memberikan layanan terapi bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan khusus.
“Di sini kita memiliki kegiatan RBM untuk anak-anak yang membutuhkan terapi, dan kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali dengan menghadirkan terapis yang diselenggarakan oleh desa,” kata Mia.
Rapat tersebut juga dihadiri pengurus PKK dari berbagai kelompok kerja, mulai dari Pokja I hingga Pokja IV. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk memperkuat koordinasi program pemberdayaan keluarga di tingkat desa.

Selain unsur internal, pemerintah desa turut mengundang sejumlah mitra kerja dari instansi terkait. Di antaranya perwakilan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) serta penyuluh keluarga berencana.
Tenaga kesehatan dari Puskesmas Jayagiri juga hadir dalam pertemuan tersebut, seperti bidan desa, ahli gizi, tenaga kesehatan lingkungan, serta petugas promosi kesehatan.
Menurut Mia, keterlibatan berbagai pihak ini penting untuk memperkuat kemitraan dalam pelaksanaan program kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Program ini merupakan bagian dari upaya pemenuhan gizi bagi masyarakat, khususnya ibu dan anak.
Wilayah kerja Puskesmas Jayagiri mencakup empat desa, yakni Desa Sukajaya, Jayagiri, Cikahuripan, dan Gudangkahuripan. Namun dalam dua tahun terakhir, dapur pengolahan PMT lokal dipusatkan di Desa Sukajaya.
“Sudah hampir dua tahun dapur PMT lokal berada di Sukajaya. Jadi pengadministrasian dan dapur kita yang pegang, sementara tiga desa lainnya menerima suplai makanan dari sini,” ujar Mia.
Selain itu, pemerintah desa juga membentuk tim baru yang dikenal sebagai Tim Dasyat. Tim ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Tim Pendamping Keluarga dan program Kampung KB yang berfokus pada pemantauan pemenuhan gizi masyarakat.
Dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat, kegiatan posyandu di Desa Sukajaya kini telah menggunakan sistem Integrasi Layanan Primer (ILP). Melalui sistem ini, pelayanan posyandu dilakukan secara bergiliran di setiap dusun.
Kegiatan dilaksanakan setiap hari Senin pada minggu pertama hingga minggu ketiga setiap bulan di Dusun 1, Dusun 2, Dusun 3, dan Dusun 4. Pola tersebut memungkinkan pelayanan kesehatan lebih dekat dengan masyarakat.
“Kalau dulu kegiatannya di satu tempat, sekarang posyandunya yang berpindah-pindah sehingga kader dan tenaga kesehatan bisa menjemput bola ke masyarakat,” kata Mia.
Meski berbagai program terus berjalan, Mia mengakui bahwa pelaksanaan kegiatan PKK tahun ini menghadapi tantangan berupa keterbatasan anggaran.
Ia menyebut adanya kebijakan pemangkasan dana desa berdampak pada berkurangnya alokasi anggaran untuk kegiatan PKK.
“Sekarang ada pemangkasan anggaran dana desa sehingga anggaran untuk PKK juga ikut berkurang, sekitar 50 persen dibanding tahun lalu,” ujarnya.
Di Desa Sukajaya sendiri terdapat sekitar 124 kader yang terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan keluarga, mulai dari kader PKK, posyandu, hingga tenaga pendidik PAUD.
Ia berharap para kader yang bekerja secara sukarela tetap mendapatkan perhatian, setidaknya dalam bentuk dukungan atau insentif sesuai kemampuan desa.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Sukajaya Asep Jembar Rahmat menyampaikan bahwa kegiatan di aula desa tersebut juga dirangkaikan dengan penyaluran insentif bagi pengurus lingkungan.
Sebanyak 59 orang ketua RT dan RW menerima insentif yang diberikan oleh pemerintah desa. Penyaluran kali ini mencakup insentif untuk dua bulan.
“Alhamdulillah tadi selain rapat PKK, juga ada penyaluran insentif untuk RT dan RW. Penerimanya ada 59 orang,” kata Asep.
Ia menjelaskan bahwa insentif biasanya disalurkan setiap tiga bulan. Namun karena dana yang tersedia baru mencukupi dua bulan, pemerintah desa memutuskan untuk segera menyalurkannya.
Selain itu, pemerintah desa juga memfokuskan kegiatan selama bulan Ramadan pada aktivitas keagamaan, salah satunya melalui program Tarawih Keliling di 15 RW di wilayah Desa Sukajaya.
Asep berharap kebersamaan antara pemerintah desa, kader, dan masyarakat dapat terus terjaga. Semangat tersebut sejalan dengan moto Desa Sukajaya yang mengedepankan nilai ramah, religius, aman, maju, amanah, dan hasanah, serta semangat gotong royong melalui slogan “rempug yukung sauyunan” dalam membangun desa bersama.
Reporter : Komala Sari