Jurnalis9.com. Lembang, 27 Maret 2026. Peningkatan volume sampah pascamasa libur Lebaran menjadi perhatian serius di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Menyikapi kondisi tersebut, Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum sektor B menggelar aksi bersih-bersih lingkungan di sepanjang Jalan Kolonel Masturi (Alam Sejuk) hingga aliran Sungai Imah Seniman, Desa Cikahuripan.
Kegiatan yang diawali dengan apel kesiapan di depan Villa Lagenta ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari prajurit TNI, perangkat kecamatan, kepolisian, kader PKK, tenaga kesehatan, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama.
Puluhan personel TNI bersama warga turun langsung ke lapangan dengan membawa perlengkapan kebersihan seperti sapu, sekop, dan kantong sampah. Sampah yang terkumpul kemudian diangkut menggunakan truk menuju tempat pembuangan sementara. Aksi ini menyasar titik-titik yang mengalami penumpukan, terutama di jalur wisata dan aliran sungai yang rawan tercemar.

Komandan Satgas Citarum Harum sektor B, Kolonel Infanteri Yanto didampingi Camat Lembang Bambang Eko menegaskan bahwa kondisi pascalibur panjang selalu beriringan dengan peningkatan sampah, terutama di daerah wisata seperti Lembang. Aktivitas wisatawan yang tinggi kerap meninggalkan persoalan lingkungan yang harus segera ditangani.
“Setelah Lebaran dan hari libur beberapa hari, sampah pasti meningkat. Lembang sebagai daerah wisata tidak lepas dari persoalan itu, karena banyak pengunjung yang meninggalkan sampah di jalanan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika tidak ditangani dengan baik, sampah yang menumpuk dapat menimbulkan dampak lebih luas, termasuk risiko banjir dan gangguan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, aksi bersih-bersih ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat.

“Dari sampah yang kecil jika terus menumpuk akan menjadi besar dan bisa menyebabkan banjir serta merugikan kita semua,” kata Yanto.
Menurut dia, menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi kesadaran bersama. Lingkungan, lanjutnya, bukan sekadar warisan, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
Di sisi lain, Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang, Maya Ekawati, menilai kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam membangun kepedulian kolektif. Ia mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat yang turut ambil bagian dalam kerja bakti tersebut.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa kerja bakti di lokasi Citarum Harum, dari sekitar Lagenta sampai ke bawah. Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi masyarakat dan pengguna jalan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, menurut dia, masih menjadi tantangan yang harus diatasi melalui edukasi berkelanjutan.
“Jangan lagi membuang sampah sembarangan karena akan membahayakan lingkungan. Mari kita jaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya,” kata Maya.
Keterlibatan berbagai unsur, termasuk pemerintah desa, perangkat kewilayahan, hingga kelompok masyarakat seperti Destana, menunjukkan bahwa kesadaran menjaga lingkungan mulai tumbuh secara kolektif. Hal ini menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan Lembang sebagai daerah wisata sekaligus kawasan hunian.

Secara lebih luas, fenomena peningkatan sampah pascalibur panjang merupakan persoalan yang berulang di banyak daerah wisata. Tanpa pengelolaan yang baik dan kesadaran publik yang kuat, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dan kenyamanan kawasan.
Aksi yang dilakukan di Lembang ini memperlihatkan bahwa solusi tidak cukup hanya dengan pembersihan sesaat. Diperlukan konsistensi, penguatan sistem pengelolaan sampah, serta perubahan perilaku masyarakat dan pengunjung. Edukasi yang dibarengi dengan tindakan nyata menjadi pendekatan yang relevan untuk menjawab persoalan tersebut.
Sebagai kesimpulan, kegiatan bersih-bersih yang digelar Satgas Citarum Harum bersama masyarakat Lembang bukan sekadar rutinitas, melainkan cerminan kepedulian terhadap lingkungan yang mulai diwujudkan secara konkret. Tantangan ke depan terletak pada bagaimana menjaga konsistensi gerakan ini, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya saat terjadi penumpukan sampah, tetapi sebagai bagian dari budaya sehari-hari.
Reporter : Komala Sari