Jurnalis9.com Bandung, 8 Mei 2026. Riuh tepuk tangan pecah di ruang auditorium CGV BEC ketika layar mulai menampilkan adegan pembuka Silent Dance, Kamis malam, 8 Mei 2026. Gala premiere film garapan Deddie itu tidak sekadar menjadi seremoni peluncuran film baru. Di balik sorotan lampu red carpet dan antusiasme penggemar StarBe, tersimpan upaya lain yang lebih besar: menguji sejauh mana budaya tradisional Sunda masih mampu berbicara kepada generasi muda yang tumbuh bersama gelombang budaya pop global.
Film dengan jargon “Tarian Jiwa-Jiwa yang Merdeka” itu dijadwalkan tayang serentak mulai 14 Mei 2026 di sejumlah jaringan bioskop di Pulau Jawa dan Labuan Bajo, termasuk Sam’s Studio, New Star Cinema, serta CGV Bandung.
Film produksi Sanggar Mekar Asih yang didukung Triduta Film tersebut memosisikan tari tradisional bukan sebagai simbol nostalgia, melainkan bagian dari identitas yang sedang bernegosiasi dengan zaman. Tema itu terasa relevan di tengah dominasi budaya populer asing yang kini mengisi ruang digital anak muda Indonesia, mulai dari musik, fashion, hingga pola ekspresi di media sosial.
Produser Sjamsudin mengakui sejak awal film ini memang dirancang untuk menjembatani dua dunia yang kerap dipertentangkan: tradisi dan modernitas.
“Budaya luar, termasuk K-pop, memang punya pengaruh besar pada generasi muda. Karena itu kami mencoba menunjukkan bahwa tari tradisional Sunda juga bisa dikembangkan secara modern tanpa kehilangan identitasnya,” kata Sjamsudin dalam konferensi pers usai pemutaran film.

Pernyataan itu menjadi inti dari keseluruhan narasi Silent Dance. Film ini tidak memosisikan budaya asing sebagai ancaman yang harus ditolak. Sebaliknya, ia mencoba menawarkan jalan kompromi: budaya lokal tetap dipertahankan, tetapi dikemas dengan bahasa visual yang lebih dekat dengan generasi hari ini.
Pilihan menghadirkan StarBe sebagai bagian dari film tampaknya bukan keputusan kebetulan. Grup remaja yang digawangi Annabelle Feodora Senjaya, Shella Fernanda Wibowo, Chelsea Van Meijr, dan Kezia Lizina Alexandra itu menjadi representasi budaya pop modern yang sedang digemari remaja. Kehadiran mereka otomatis menarik perhatian penonton muda yang memadati area bioskop.
Namun film ini tidak berhenti pada eksploitasi popularitas idol group. Dalam beberapa bagian, penonton diperlihatkan bagaimana gerak tari tradisional Sunda dipadukan dengan ritme modern tanpa sepenuhnya kehilangan akar estetikanya. StarBe mengakui proses tersebut bukan hal mudah.
“Karakter musik tradisional dan modern sangat berbeda. Tapi justru di situ tantangannya dan hasilnya terasa indah,” ujar salah satu personel grup tersebut.

Upaya memadukan tradisi dan budaya pop sebenarnya bukan formula baru di industri hiburan Indonesia. Dalam dua dekade terakhir, berbagai karya musik dan film mencoba melakukan pendekatan serupa. Namun tidak sedikit yang akhirnya berhenti pada simbol permukaan: batik sekadar kostum, alat musik tradisional hanya dekorasi, dan budaya lokal menjadi ornamen tanpa makna mendalam.
Silent Dance berupaya menghindari jebakan itu dengan memasukkan nilai budaya sebagai bagian dari konflik cerita. Salah satu simbol yang cukup kuat muncul melalui tarian “Laras Hati”, yang dijelaskan oleh budayawan sekaligus pemeran film, Ambu Laras.
Menurut Ambu Laras, “Laras Hati” menggambarkan pentingnya keselarasan dalam hidup diantara ucapan, tindakan, dan perasaan manusia. Filosofi itu kemudian diterjemahkan ke dalam koreografi yang menjadi bagian penting dalam film.
“Budaya luar tidak harus ditolak sepenuhnya, tetapi bisa dipadukan. Yang penting generasi muda tetap mencintai budaya sendiri,” kata Ambu Laras.
Pernyataan tersebut terasa seperti refleksi atas realitas sosial hari ini. Anak muda Indonesia hidup dalam arus budaya digital tanpa batas. K-pop, anime, hingga budaya Barat menjadi konsumsi sehari-hari yang sulit dibendung. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan budaya tradisional dengan pendekatan konservatif justru berpotensi menjauhkan generasi muda dari akar budayanya sendiri.

Karena itu, pendekatan kolaboratif yang ditawarkan Silent Dance dapat dibaca sebagai strategi adaptasi budaya. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang kaku, melainkan ruang yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman.
Secara visual, film ini juga memanfaatkan lanskap Garut, Braga Bandung, dan kawasan Cihideung sebagai ruang budaya yang hidup. Pilihan lokasi tersebut memperkuat nuansa lokal sekaligus menjadi pengingat bahwa identitas Sunda tidak hanya hadir lewat dialog atau kostum, tetapi juga melalui ruang sosial yang membentuk kehidupan masyarakatnya.
Meski demikian, tantangan terbesar film semacam ini terletak pada keberlanjutan pengaruhnya. Film berdurasi dua jam mungkin mampu membangkitkan kebanggaan sesaat terhadap budaya lokal, tetapi perubahan selera generasi muda berlangsung jauh lebih cepat daripada produksi karya budaya itu sendiri. Tren di media sosial berganti tiap minggu, sementara pelestarian budaya membutuhkan proses panjang lintas generasi.

Di titik itu, Silent Dance setidaknya membuka ruang percakapan penting: bahwa budaya tradisional tidak selalu harus berdiri berhadapan dengan modernitas. Di tengah derasnya arus budaya global, identitas lokal masih memiliki peluang bertahan—bukan dengan menutup diri, melainkan dengan menemukan cara baru untuk hadir di tengah generasi yang terus berubah.
Reporter : Ray – Komala