Bandung Barat Memetakan Talenta Siswa SD: Dari PAI, Bahasa Sunda, hingga Arena Olahraga

Jurnalis9.com Bandung Barat, 11 Mei 2026. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Pendidikan menetapkan hasil penilaian dan daftar pemenang berbagai ajang minat, bakat, dan kreativitas siswa sekolah dasar tingkat kabupaten tahun 2026. Rangkaian kegiatan itu meliputi Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI), Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Ajang Literasi dan Numerasi, serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

Di atas kertas, kegiatan tersebut tampak seperti agenda rutin tahunan sekolah dasar. Namun jika dibaca lebih jauh, kompetisi itu menunjukkan arah baru kebijakan pendidikan dasar yang mulai menempatkan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari proses pendidikan.

Hal itu terlihat dari dasar regulasi yang digunakan panitia pelaksana. Selain merujuk Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, kegiatan ini juga mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid.

Pemerintah daerah tampaknya mulai menerjemahkan konsep tersebut ke tingkat sekolah dasar. Anak-anak tidak lagi dipandang semata dari hasil ujian akademik, melainkan juga dari kemampuan seni, olahraga, budaya, dan keterampilan sosial-keagamaan.

Pada Pentas PAI tingkat SD yang digelar 16 April 2026, sejumlah peserta mencatat capaian tinggi di berbagai cabang lomba. Muhamad Al Misywari dari SD Negeri Cipongkor menjadi juara pertama MTQ putra dengan nilai 193. Sementara kategori putri dimenangkan Najma Fakhira dari SD Negeri 2 Babakantalang, Rongga, dengan nilai 192.

Cabang Musabaqah Hifzil Qur’an memperlihatkan persaingan ketat. Hana Aish Salma dari SD Negeri 4 Cimareme, Ngamprah, meraih nilai 198, tertinggi di antara peserta kategori putri. Pada lomba Da’i Cilik putri, Lutfhia Zahra Talita dari SD Negeri Selacau, Batujajar, memperoleh nilai 597.

Kompetisi keagamaan seperti ini memperlihatkan bagaimana pendidikan karakter masih menjadi poros penting pendidikan dasar. Pemerintah pusat sebelumnya menerbitkan surat edaran bersama lintas kementerian tentang penguatan pendidikan karakter melalui pembiasaan di satuan pendidikan. Di tingkat daerah, kebijakan itu diterjemahkan melalui kompetisi yang menggabungkan aspek keagamaan, kedisiplinan, dan kemampuan tampil di ruang publik.

Namun Bandung Barat tidak berhenti pada dimensi religius. Pada Festival Tunas Bahasa Ibu yang berlangsung 15 April 2026, perhatian diarahkan pada pelestarian bahasa dan budaya Sunda.

Cabang lomba seperti ngadongeng, nembang pupuh, maca sajak, hingga maca nulis aksara Sunda menjadi ruang ekspresi budaya yang mulai jarang ditemukan di kehidupan sehari-hari anak-anak perkotaan dan suburban.

Dalam kategori Maca Nulis Aksara Sunda putri, Gian Shafa Hidayah dari SD Negeri Karyawangi, Parongpong, menjadi juara pertama dengan nilai 346,5. Sementara cabang Nembang Pupuh putri dimenangkan Khoirunnisa Nurmaulana dari SD Negeri 1 Cihampelas dengan nilai 279.

FTBI memperlihatkan satu persoalan yang lebih besar: bahasa daerah kini menghadapi tekanan serius di tengah budaya digital dan perubahan pola komunikasi generasi muda. Anak-anak semakin akrab dengan bahasa populer media sosial dibanding bahasa ibu mereka sendiri.
Karena itu, lomba kebudayaan tidak bisa dipandang sekadar kegiatan tambahan. Ia menjadi bagian dari upaya mempertahankan memori budaya di tengah perubahan sosial yang cepat.

Di bidang akademik, Ajang Literasi dan Numerasi memperlihatkan fokus pemerintah pada kemampuan dasar siswa fase awal. Kompetisi dibagi menjadi kategori kelas 1, 2, dan 3 SD.
Savero Farish Putra Kurniawan dari SD Negeri Margamulya, Ngamprah, menjadi juara pertama kategori kelas 1 dengan nilai 93,26. Untuk kelas 2, posisi tertinggi diraih Arsyila Queenara Syahral dari SD Negeri Karyamulya. Sedangkan kategori kelas 3 dimenangkan Razika Athallah Mulya dari SD Negeri 3 Purabaya, Padalarang.

Sementara itu, O2SN menunjukkan distribusi talenta olahraga yang cukup merata antarwilayah. Pada cabang pencak silat, Moch Alif R. dari Cipeundeuy menjadi juara tunggal putra dengan nilai 9,92. Di kategori putri, Naswa Khaira dari Cikalongwetan menempati posisi pertama.

Cabang renang juga menghadirkan persaingan ketat. Abid Aqila Pranaja dari SDN Batujajar 1 mendominasi kategori putra dengan tiga medali emas dan dua perak. Untuk kategori putri, Ashera Wafa Ardini dari SD Negeri 1 Kayuambon, Lembang, meraih tiga emas dan satu perunggu.
Adapun pada cabang mini soccer, Kecamatan Lembang keluar sebagai juara pertama, disusul Cikalongwetan, Cipeundeuy, dan Cipatat.

Di balik daftar juara itu, tersimpan satu pekerjaan rumah yang lebih besar. Kompetisi memang mampu memetakan bakat, tetapi belum tentu menjamin keberlanjutan pembinaan. Banyak daerah mampu menghasilkan siswa berprestasi di tingkat kabupaten, tetapi kesulitan menjaga kesinambungan pelatihan ketika memasuki jenjang lebih tinggi.

Karena itu, tantangan sesungguhnya bukan hanya menyelenggarakan lomba tahunan, melainkan membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan: pelatih yang memadai, fasilitas yang setara, dukungan sekolah, hingga ruang tumbuh yang sehat bagi anak.

Bandung Barat tahun ini setidaknya memperlihatkan satu hal penting: pendidikan dasar mulai bergerak ke arah yang lebih luas. Anak-anak diberi ruang untuk dikenali bukan hanya karena nilai rapor, tetapi juga karena kemampuan membaca aksara Sunda, melantunkan pupuh, menghafal Al-Qur’an, berenang, bertanding silat, atau bermain sepak bola. Dalam lanskap pendidikan yang sering terjebak pada angka akademik, pendekatan seperti ini memberi makna lain tentang apa yang disebut prestasi.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....