Siti Zulva S.Kep Ners.,M.Kep Pimpin Penyuluhan TBC bagi Kader Kesehatan di Desa Cihanjuang

Jurnalis9.com Cihanjuang, 13 Mei 2026. Dewan Pengurus Komisariat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPK PPNI) STIKes RS Dustira menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan kesehatan mengenai tuberkulosis (TBC) di Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Perawat Sedunia sekaligus upaya memperkuat edukasi kesehatan berbasis masyarakat.

Mengusung tema “Pemberdayaan Keluarga dan Kader dalam Penanganan Tuberkulosis Berbasis Keperawatan Paliatif dan Kegawatdaruratan di Masyarakat”, kegiatan ini melibatkan lebih dari 50 kader kesehatan setempat. Para peserta mendapatkan materi mengenai pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan awal TBC di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Ketua DPK STIKes RS Dustira, Siti Zulva S.Kep Ners.,M.Kep mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari peran profesi perawat dalam promosi kesehatan dan pengabdian kepada masyarakat.
“Kegiatan hari ini kita melakukan penyuluhan kesehatan. Temanya tentang tuberkulosis dalam rangka Hari Perawat Sedunia. Salah satu peran perawat adalah melakukan pengabdian pada masyarakat,” ujar Siti Zulva saat ditemui di sela kegiatan.

Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima penyuluhan secara lisan, tetapi juga mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman sebelum dan sesudah materi diberikan. Selain itu, panitia turut membagikan modul edukasi sebagai bahan pembelajaran lanjutan bagi para kader kesehatan.

Menurut Siti, keterlibatan kader kesehatan memiliki posisi penting dalam upaya pengendalian TBC di tingkat masyarakat. Para kader diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada warga, terutama terkait gejala awal dan pentingnya pengobatan yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama dalam penanganan TBC adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Penghentian obat sebelum waktunya berisiko menyebabkan pengobatan harus diulang dari tahap awal dan meningkatkan potensi komplikasi.
“Kalau TBC ini tidak boleh putus pengobatannya. Satu dosis setelah putus, dia akan lanjut ke dosis awal lagi,” katanya.

Siti juga menyoroti tingginya risiko penularan di lingkungan rumah tangga apabila penderita tidak menjalani penanganan dengan disiplin. Karena itu, edukasi kepada keluarga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal, penderita perlu menjalani deteksi dan pengobatan melalui fasilitas kesehatan, terutama puskesmas. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih juga diperlukan untuk mengurangi risiko penularan.
“Misalnya alat makan dan alat minum dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian kalau meludah tidak boleh sembarangan. Jadi memang harus disiplin,” ujarnya.

Tuberkulosis sendiri masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis itu umumnya menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan dahak saat penderita batuk atau bersin.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya skrining TBC di masyarakat. Skrining dilakukan sebagai langkah deteksi dini terhadap warga yang berisiko atau memiliki gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, penurunan berat badan, hingga kelelahan yang berlangsung lama.

Melalui deteksi lebih awal, proses pengobatan dapat segera dilakukan sehingga risiko penularan dapat ditekan. Upaya ini juga dinilai penting untuk melindungi kelompok rentan, termasuk anak-anak yang berpotensi mengalami gangguan tumbuh kembang apabila terpapar TBC dalam jangka panjang.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut memperlihatkan kolaborasi antara institusi pendidikan kesehatan dan organisasi profesi keperawatan dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat. Selain memberikan edukasi, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya pencegahan penyakit menular di lingkungan keluarga.
“Harapan saya, masyarakat lebih aware terhadap penyakit tuberkulosis, terutama dalam pencegahannya. Karena kalau pengobatan itu lebih mahal biayanya,” kata Siti.

Melalui pendekatan berbasis kader dan keluarga, penyelenggara berharap penanganan TBC di masyarakat dapat berjalan lebih efektif, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam menekan angka penularan penyakit tersebut di tingkat daerah.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....