Antusiasme Warga Warnai Pengobatan Gratis Fakultas Kedokteran Unisba di Parongpong

Jurnalis9.com Parongpong, 13 Mei 2026. Aula dan halaman kegiatan di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, sejak pagi dipenuhi warga yang datang membawa lembar undangan pemeriksaan kesehatan gratis. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga dan warga lanjut usia dari tujuh desa di wilayah tersebut. Mereka datang untuk memeriksa tekanan darah, kadar gula, kolesterol, hingga mengikuti skrining kanker serviks melalui metode IVA test.

Di tengah antrean warga itu, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung menjalankan salah satu agenda pengabdian masyarakat yang menjadi bagian dari rangkaian milad ke-22 fakultas tersebut. Kegiatan dilakukan bekerja sama dengan Konsorsium Ilmu Biomedik Indonesia atau KIBI, organisasi yang menghimpun para ahli biomedis dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun kegiatan ini tidak sekadar pengobatan gratis yang lazim dilakukan perguruan tinggi. Ada upaya membaca persoalan kesehatan masyarakat dari data dan kondisi lapangan yang lebih spesifik. Fokus utama diarahkan pada tiga persoalan: tuberkulosis, rendahnya partisipasi cek kesehatan, dan deteksi dini kanker serviks.

Dosen Fakultas Kedokteran Unisba, Dr. dr. Maya Tejasari, M.Kes., mengatakan pemilihan program dilakukan setelah pihak kampus berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan di wilayah Parongpong.
“Kami sebelumnya melakukan analisis situasi bersama puskesmas di wilayah Kecamatan Parongpong. Dari hasil itu terlihat masih perlunya peningkatan cakupan skrining TB, penanganan TB, cek kesehatan gratis, dan IVA test,” ujar Maya kepada wartawan.

Dalam praktiknya, layanan yang diberikan cukup lengkap untuk ukuran kegiatan pengabdian masyarakat. Warga tidak hanya menjalani pemeriksaan umum, tetapi juga melalui tahapan anamnesis, pemeriksaan status gizi, pemeriksaan laboratorium sederhana, hingga konsultasi dokter.
“Mini lab yang dilakukan meliputi pemeriksaan kadar kolesterol, gula darah, dan asam urat. Selain itu ada pemeriksaan tanda vital, konsultasi dokter, pemberian resep, hingga obat untuk membantu mengatasi keluhan masyarakat,” kata Maya.

Pilihan memasukkan IVA test sebagai layanan utama menjadi menarik. Di banyak daerah, pemeriksaan deteksi dini kanker serviks masih belum menjadi budaya kesehatan masyarakat. Faktor rasa takut, minim informasi, hingga keterbatasan akses masih menjadi hambatan.

Menurut Maya, kondisi itu membuat banyak pasien baru datang ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
“Jangan sampai pasien datang ketika sudah dalam stadium berat dan sulit ditangani. Karena itu deteksi dini menjadi sangat penting,” ujarnya.

Pemerintah Kecamatan Parongpong melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kesehatan masyarakat yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah di banyak wilayah. Camat Parongpong Agus Ganjar Hidayat menyebut tingginya partisipasi warga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala.
“Saya sangat bahagia dan bangga ketika Kecamatan Parongpong dipercaya menjadi lokasi pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran Unisba. Antusiasme masyarakat hari ini menunjukkan semangat hidup sehat yang semakin baik,” kata Agus.

Menurut dia, keterlibatan pemerintah desa, kader kesehatan, PKK, dan unsur masyarakat lain menjadi faktor penting dalam menggerakkan warga untuk hadir. Target awal sebanyak 300 peserta disebut terlampaui.

Agus yang mulai menjabat sebagai Camat Parongpong sejak Maret 2026 itu juga berharap kerja sama antara kampus dan pemerintah daerah tidak berhenti pada kegiatan insidental.
“Ke depan mudah-mudahan ada bentuk kolaborasi lainnya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Di lapangan, pengaturan peserta dilakukan berdasarkan distribusi dari tiap desa. Wendi Binwas Kecamatan Parongpong
menjelaskan bahwa setiap desa mengirimkan sekitar 40 warga, termasuk peserta khusus untuk pemeriksaan IVA test.
“Setiap desa mengirimkan 40 orang peserta. Dari jumlah itu, 10 orang mengikuti IVA test untuk deteksi dini kanker serviks melalui metode IVA,” kata Wendi.

Selain pemeriksaan IVA, peserta juga mengikuti pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga pengukuran lemak tubuh. Skema seperti ini menunjukkan pendekatan yang tidak semata kuratif, tetapi juga preventif dan promotif.

Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba. Salah seorang panitia mahasiswa, Daffa, menyebut keterlibatan langsung di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan dokter.
“Ini pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa. Selain menambah ilmu, kami juga belajar memahami kebutuhan masyarakat secara langsung,” ujar Daffa.

Bagi mahasiswa kedokteran, kegiatan semacam ini bukan hanya ruang praktik teknis medis, melainkan juga latihan memahami konteks sosial kesehatan masyarakat. Di banyak kasus, persoalan kesehatan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan pengetahuan warga, pola hidup, hingga akses layanan kesehatan.

Karena itu, pengabdian masyarakat seperti yang dilakukan Unisba di Parongpong memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan tidak cukup hanya hadir di ruang rumah sakit atau puskesmas. Pendekatan jemput bola masih menjadi kebutuhan, terutama untuk memperluas deteksi dini penyakit yang sering luput diperiksa masyarakat.

Pada titik itu, kegiatan sehari di Parongpong bukan sekadar agenda milad kampus. Ia menjadi cermin bahwa persoalan kesehatan masyarakat masih membutuhkan kolaborasi panjang antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan warga sendiri.

Reporter : Ray – Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....