Jurnalis9.com Mukapayung, 28 Agustus 2026 Lapang bola Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menjadi pusat perayaan milangkala ke-44 Desa Mukapayung. Wayang golek, santunan anak yatim, kesenian lokal, dan kegiatan UMKM menjadi bagian dari rangkaian acara yang untuk pertama kalinya dilaksanakan secara besar oleh pemerintah desa.
Peringatan itu menghadirkan Putra Giri Harja 3 Dadan Sunandar Sunarya dengan lakon “Cepot Kembar”. Pertunjukan wayang golek ditempatkan sebagai acara puncak setelah rangkaian kegiatan sosial dan budaya. Bagi pemerintah desa, pilihan kesenian tradisional itu berkaitan dengan upaya menjaga hubungan masyarakat dengan kebudayaan Sunda yang tumbuh di lingkungannya.

Namun, alasan utama perayaan milangkala kali ini justru berangkat dari persoalan yang lebih mendasar: sejarah desa yang mulai berjarak dari ingatan sebagian warga. Kepala Desa Mukapayung Firman Supianto Hadi mengatakan masih ada masyarakat yang belum mengetahui secara utuh asal-usul Desa Mukapayung, termasuk proses pembentukannya.
“Kita ingin menggali lagi sejarah-sejarah yang sudah lampau,” kata Firman.
Desa Mukapayung merupakan hasil pemekaran dari Desa Rancapanggung. Proses pemekaran telah dibahas sejak 1979, sedangkan pemerintahan Desa Mukapayung mulai berjalan pada 1982. Perbedaan antara proses pemekaran dan awal pemerintahan itu penting dicatat agar sejarah desa tidak berhenti pada penyebutan satu tahun tanpa konteks.

Firman mengatakan pemerintah desa berencana memperkenalkan sejarah tersebut kepada masyarakat dalam rangkaian kegiatan milangkala. Gagasan itu muncul setelah pemerintah desa berkomunikasi dengan warga dan menemukan bahwa pengetahuan mengenai sejarah desa belum merata.
Masalah tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi pembangunan lokal. Desa tidak hanya terdiri atas wilayah administratif dan perangkat pemerintahan. Di dalamnya terdapat sejarah pembentukan, tokoh, kebudayaan, serta pengalaman sosial yang membentuk identitas masyarakat. Ketika pengetahuan mengenai hal itu semakin tipis, hubungan warga dengan sejarah tempat tinggalnya juga berpotensi melemah.

Karena itu, milangkala kali ini diarahkan sebagai ruang untuk mempertemukan sejarah dengan kehidupan masyarakat sekarang. Wayang golek menjadi salah satu medianya. Kesenian tradisional dipilih bukan hanya karena memiliki daya tarik hiburan, tetapi juga karena masih memiliki kedekatan dengan kehidupan sosial masyarakat Sunda.
Lakon “Cepot Kembar” menghadirkan tokoh Cepot atau Astrajingga dalam cerita yang sarat kelucuan, konflik, dan permainan identitas. Sosok Cepot yang memiliki kembaran atau peniru menjadi bagian dari alur cerita. Dalam tradisi wayang golek Sunda, unsur humor kerap berjalan bersamaan dengan pesan sosial dan nilai kehidupan.

Di sisi lain, pemerintah desa mencoba menghubungkan perayaan budaya dengan kegiatan ekonomi. UMKM lokal diberi ruang untuk memperkenalkan produk. Firman mengatakan kegiatan tersebut diharapkan membantu meningkatkan aktivitas ekonomi warga.
“Yang akan ditonjolkan mungkin yang pertama itu terkait kesenian di Desa Mukapayung, yang kedua produk lokal Desa Mukapayung,” ujarnya.
Pendekatan itu memperlihatkan bahwa perayaan desa tidak hanya diarahkan pada satu jenis kegiatan. Seni, ekonomi lokal, dan kepedulian sosial ditempatkan dalam satu rangkaian. Sebanyak 100 anak yatim menerima santunan dengan dukungan donasi dari Rizki, salah satu tokoh daerah.
Partisipasi warga juga terlihat dalam keterlibatan kader TP-PKK Desa Mukapayung. Sebanyak 44 kader membawa tumpeng yang diberikan kepada Firman dan Ketua TP-PKK Desa Mukapayung Nuraeni. Unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa sekitar, Forkopimcam, Karang Taruna, MUI, tokoh masyarakat, sesepuh, dan warga turut hadir.

Yang menarik justru bukan besarnya acara, melainkan sumber dukungannya. Firman menyebut kegiatan tersebut mendapat dukungan masyarakat, baik dalam bentuk tenaga, pikiran maupun materi. Artinya, keberlanjutan kegiatan semacam ini tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah desa.
Firman kemudian menawarkan gagasan yang sederhana: “Sabengkeutan urang majukeun Desa Mukapayung.” Semangat itu diterjemahkan sebagai ajakan untuk bergerak bersama membangun desa.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan milangkala tidak berhenti pada ramainya lapangan atau panjangnya rangkaian acara. Nilainya akan lebih terlihat dari apa yang tersisa setelah panggung dibongkar: apakah warga semakin mengenal sejarah desanya, kesenian lokal memperoleh ruang, UMKM mendapatkan manfaat ekonomi, dan kepedulian sosial terus tumbuh.
Jika tujuan itu dapat dijaga, perayaan milangkala dapat menjadi bagian dari proses membangun kesadaran kolektif. Desa Mukapayung tidak hanya memperingati usia 44 tahun, tetapi juga mencoba menjawab pertanyaan yang lebih penting: dari mana desa ini berasal dan ke mana masyarakatnya hendak berjalan bersama.
Reporter : Komala