Jurnalis9.com Lembang, 13 Sept 2026 Paguyuban Pengusaha Lokal Kabupaten Bandung Barat (P2LKBB) kembali menempatkan kegiatan sosial sebagai bagian dari aktivitas organisasinya. Kali ini, paguyuban yang dipimpin H. Mochamad Elias tersebut melaksanakan khitanan massal di Villa Putih, Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, September 2026.
Program itu diberi konsep Khitanan Ceria. Anak-anak peserta tidak langsung diarahkan pada tindakan khitan, tetapi lebih dulu diajak mengikuti kegiatan wisata alam dan permainan luar ruang di kawasan Hutan Pinus. Rangkaian kegiatan juga diisi naik sisingaan serta tasyakur dan tawasulan.
Ketua Panitia Khitanan Ceria, Eman Sulaeman, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat agar anak-anak memiliki pengalaman yang lebih menyenangkan sebelum menjalani khitan.

“Dari kemarin, anak-anak yang akan disunat itu dibawa tur piknik ke outbound, di Hutan Pinus. Terus tadi anak-anak naik sisingaan. Ada malamnya tadi ada tasyakur atau merasakan bersyukur, atau tawasulan,” kata Eman.
Camat Lembang Bambang Eko hadir mewakili Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail. Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya ruang kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan sosial.
Namun, ukuran keberhasilan kegiatan sosial tidak hanya terletak pada terlaksananya acara. Hal yang lebih penting adalah ketepatan penerima manfaat, kualitas layanan, keamanan peserta, serta keberlanjutan program setelah kegiatan selesai.
Dari sisi jumlah peserta, terdapat perbedaan antara target awal dan realisasi. Panitia sebelumnya menyiapkan anggaran untuk sekitar 80 anak. Pada tahap awal, jumlah peserta direncanakan sekitar 50 hingga 60 anak. Pada pelaksanaan akhirnya, peserta yang mengikuti khitan tercatat sekitar 15 anak.

Eman mengatakan peserta berasal dari sejumlah wilayah Bandung Barat, antara lain Padalarang dan Ngamprah. Perbedaan antara target dan realisasi menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam perencanaan program sosial berikutnya, terutama berkaitan dengan pendataan dan komunikasi kepada calon penerima manfaat.
Bagi P2LKBB, khitanan massal tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan sosial yang telah dilakukan sebelumnya. Elias menyebut paguyuban pernah memberikan santunan kepada 119 anak yatim di Masjid Agung Ash-Shiddiq, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
“Sekarang P2LKBB mengadakan sunatan massal yang diadakan di Villa Putih Cikole Lembang. Untuk langkah selanjutnya, ke depannya kita mungkin akan mengadakan kegiatan-kegiatan bertaraf sosial, mungkin per kecamatan atau per desa,” ujar Elias.

Rencana memperluas kegiatan hingga tingkat kecamatan dan desa membuat persoalan pengelolaan program menjadi semakin penting. Semakin luas cakupan penerima manfaat, semakin besar pula kebutuhan terhadap data yang akurat, mekanisme seleksi yang transparan, serta koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat setempat.
Elias menyebut sejumlah wilayah yang berpotensi menjadi sasaran kegiatan berikutnya, antara lain Cipongkor, Cililin, Gununghalu, dan Cipatat. P2LKBB, kata dia, ingin membangun koordinasi agar pelaku usaha dapat berkontribusi membantu masyarakat di berbagai wilayah Bandung Barat.

Jejaring dunia usaha menjadi salah satu modal organisasi tersebut. Dalam kegiatan kali ini, P2LKBB bekerja sama dengan sejumlah pihak, di antaranya Rumah Sakit IMC, Rumah Sakit Graha, Kantin K27, dan PT Putra Perdana Selaras. Elias juga menyebut keterlibatan perusahaan lain dalam kegiatan sosial yang pernah dilakukan organisasi.
Di titik ini, posisi P2LKBB menarik untuk dilihat lebih luas. Sebagai wadah pelaku usaha lokal, paguyuban memiliki sumber daya dan jaringan yang dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Tetapi kontribusi sosial akan lebih bermakna jika disusun dalam program yang terukur, memiliki sasaran jelas, dan dapat dievaluasi.
Khitanan massal juga menyangkut aspek kesehatan. Pelaksanaannya membutuhkan tenaga medis yang kompeten, standar kebersihan, keselamatan peserta, serta edukasi kepada orang tua mengenai perawatan setelah tindakan. Pendekatan wisata dan hiburan dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman, tetapi tidak menggantikan standar pelayanan kesehatan.

Elias mengatakan P2LKBB ingin terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kegiatan sosial dapat menjangkau masyarakat Bandung Barat.
“Harapan ke depan, untuk masyarakat Bandung Barat, kita berkoordinasi supaya kita bisa membantu masyarakat Bandung Barat,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi P2LKBB. Kepedulian sosial perlu bergerak dari kegiatan yang bersifat insidental menuju program yang memiliki kesinambungan. Jika pendataan penerima manfaat diperbaiki, kemitraan diperluas, dan hasil kegiatan dievaluasi secara terbuka, kontribusi pengusaha lokal dapat memiliki dampak yang lebih luas.

Pada akhirnya, nilai sebuah program sosial tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan oleh manfaat yang benar-benar diterima masyarakat. Bagi P2LKBB, Khitanan Ceria di Lembang dapat menjadi salah satu pijakan untuk membangun pola kontribusi sosial yang lebih terencana. Ukurannya sederhana: semakin tepat sasaran, semakin aman pelaksanaannya, dan semakin berkelanjutan manfaatnya bagi warga Bandung Barat.
Reporter : Komala