Jurnalis9.com Bandung, 3 Okt 2026. Panggung Kembang Nusa 2026 di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, menjadi ruang pertemuan antara produk usaha, fesyen, kerajinan, dan kekayaan budaya Nusantara. Di tengah pameran yang berlangsung 30 September hingga 4 Oktober 2026 itu, Bandung Preneur Squad (BPS) membawa gagasan tentang pentingnya kolaborasi dalam memperkuat pelaku usaha lokal.
Komunitas yang dipimpin Hani Handayani, S.E. tersebut kini menaungi sekitar 500 pelaku usaha dari berbagai sektor ekonomi kreatif. Anggotanya bergerak di bidang kuliner, kriya, fesyen, serta sejumlah subsektor kreatif lainnya.
Kehadiran BPS dalam Kembang Nusa 2026 menjadi bagian dari upaya mempertemukan kewirausahaan dengan kebudayaan. Melalui Culture-Preneur Festival, pelaku UMKM memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus menunjukkan kemampuan lain di luar aktivitas produksi dan pemasaran.

“Semangat kami adalah berkolaborasi. Kami membesar itu melalui kolaborasi, bukan rivalitas,” ujar Hani Handayani saat ditemui dalam kegiatan Kembang Nusa 2026, Jumat (2/10/2026).
Bagi BPS, membangun komunitas pengusaha tidak cukup hanya dengan memperbanyak anggota. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan pelaku usaha saling belajar, bertukar jaringan, menemukan mitra, dan membuka akses pasar.
Gagasan itu diterapkan melalui sejumlah kegiatan komunitas. Salah satunya Business Matching Trip yang dirancang untuk memperluas hubungan bisnis lintas daerah. Kunjungan ke Yogyakarta menjadi salah satu contoh kegiatan yang diarahkan untuk membuka peluang kemitraan baru.

BPS juga memiliki Company Profile Competition yang mendorong anggota meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan identitas dan profil usaha secara profesional. Sementara Culture-Preneur Festival mempertemukan produk UMKM dengan seni dan budaya lokal.
Dalam Kembang Nusa 2026, pendekatan tersebut terlihat melalui fashion show yang menampilkan produk fesyen lokal. Sejumlah anggota BPS turut tampil sebagai model untuk memperkenalkan produk usaha mereka.
Wakil Ketua BPS Lina Andriana mengatakan keterlibatan anggota menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan yang selama ini berkembang di lingkungan komunitas.
“Anggota kami tidak hanya mampu membuat produk yang biasa mereka kerjakan, tetapi juga bisa mempersembahkan seni,” kata Lina.

Menurut dia, kegiatan seperti ini memberikan pengalaman berbeda bagi pelaku usaha. Aktivitas produksi yang menjadi keseharian anggota bertemu dengan kreativitas seni dan kebudayaan.
Kembang Nusa 2026 sendiri menghadirkan batik, kain Nusantara, aksesori, kerajinan, fesyen, serta produk kuliner dari sejumlah daerah. Beberapa peserta berasal dari luar Bandung, termasuk Tasikmalaya dan Cirebon. Keragaman tersebut memperluas ruang interaksi antara pelaku usaha dan pengunjung.
Rangkaian acara pada Jumat, 2 Oktober, juga diisi pertunjukan rampak kendang, tari Jaipong, pencak silat, prosesi adat Lengser, talkshow kebudayaan dan bisnis, serta pemberian penghargaan kepada sejumlah pihak yang terlibat.

Fashion show menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung. Karya batik ditampilkan dalam berbagai rancangan modern, termasuk karya desainer nasional Poppy Sri Hendriani melalui Batik Gending Amarta. Busana bertema Batik Prabu Siliwangi serta kreasi Mojang dan Jajaka Kabupaten Bandung turut tampil di panggung.
Bagi BPS, ruang seperti ini memperlihatkan bahwa budaya dan bisnis dapat berjalan beriringan. Batik tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Hani berharap pola kolaborasi tersebut dapat terus diperluas dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Dengan jaringan sekitar 500 pelaku usaha, BPS menempatkan tiga nilai utama yaitu belajar, berjejaring, dan berkolaborasi sebagai fondasi pengembangan komunitas.

Kembang Nusa 2026 akhirnya menjadi salah satu contoh bagaimana komunitas usaha dapat mengambil peran dalam mempertemukan tradisi dan pasar. Dari budaya lahir identitas produk, dari kreativitas muncul inovasi, dan melalui jejaring yang kuat, pelaku UMKM memiliki ruang lebih besar untuk berkembang.
Reporter : Komala