Jurnalis9.com Cililin, 20 Okt 2026 Revitalisasi bangunan SD Negeri 3 Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, telah rampung dan kembali dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. Perbaikan tersebut membantu meningkatkan kelayakan fasilitas sekolah, meskipun kebutuhan ruang belajar tambahan masih menjadi perhatian karena keterbatasan lahan.
Kepala SD Negeri 3 Cililin, Engkus Kusnadi, menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan tersebut. Menurut dia, fasilitas yang sebelumnya membutuhkan perbaikan kini dapat digunakan kembali untuk menunjang kegiatan pendidikan.
“Alhamdulillah, sekarang sudah selesai dan bisa dimanfaatkan,” ujar Engkus saat menjelaskan kondisi sekolah setelah revitalisasi.

Selama pembangunan berlangsung, kegiatan belajar siswa dialihkan ke gedung lain untuk menjaga keselamatan dan menghindari gangguan akibat pekerjaan konstruksi. Langkah tersebut dilakukan agar proses pembelajaran tetap berlangsung meskipun bangunan sekolah sedang diperbaiki.
Setelah pekerjaan selesai, para siswa dapat kembali belajar di lingkungan sekolah. Revitalisasi ini diharapkan mendukung terciptanya ruang pendidikan yang lebih layak dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Menurut Engkus, perbaikan mencakup lima ruang kelas serta penataan ruang guru. Dengan selesainya pekerjaan tersebut, fasilitas sekolah kini lebih siap digunakan untuk menunjang aktivitas belajar sehari-hari.

Selain ruang belajar, fasilitas sanitasi juga mengalami penambahan. Sebelumnya, sekolah memiliki tiga unit toilet yang terdiri atas dua toilet siswa dan satu toilet guru. Setelah penambahan satu unit, jumlah toilet menjadi empat.
Engkus menilai fasilitas sanitasi yang tersedia saat ini sudah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga sekolah. Meski demikian, keterbatasan luas lahan masih menjadi kendala dalam pengembangan sarana pendidikan di lingkungan SD Negeri 3 Cililin.
Sekolah tersebut memiliki sekitar 219 siswa. Jumlah itu membutuhkan dukungan ruang belajar yang memadai agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.

Menurut Engkus, keterbatasan lahan menjadi salah satu pertimbangan ketika sekolah mengusulkan pembangunan dengan konsep dua lantai. Namun, pelaksanaan pembangunan yang diterima belum sepenuhnya menjawab kebutuhan penambahan ruang belajar.
Ia mengatakan, sekolah masih membutuhkan ruang kelas tambahan untuk menyesuaikan ketersediaan fasilitas dengan jumlah siswa yang ada. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian setelah revitalisasi bangunan yang ada dinyatakan selesai.
“Harapan saya, apabila ke depannya pemerintah memberikan lagi peluang untuk bantuan, SD Negeri 3 Cililin bisa ditambah ruangannya. Saya membutuhkan tiga ruangan lagi supaya lebih leluasa,” kata Engkus.

Permintaan tersebut berkaitan dengan upaya sekolah menyediakan lingkungan belajar yang lebih memadai. Penambahan ruang kelas diharapkan dapat membantu pengaturan kegiatan pembelajaran sekaligus memberikan keleluasaan bagi sekolah dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Revitalisasi SD Negeri 3 Cililin menunjukkan pentingnya perbaikan sarana pendidikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Namun, penyelesaian pembangunan fisik perlu diikuti dengan pemetaan kebutuhan sekolah secara menyeluruh, termasuk jumlah siswa, ketersediaan ruang kelas, dan kondisi lahan.

Bagi SD Negeri 3 Cililin, selesainya revitalisasi menjadi langkah perbaikan fasilitas yang dapat langsung dimanfaatkan. Sementara itu, kebutuhan tiga ruang tambahan masih menunggu peluang dukungan lebih lanjut agar kapasitas sarana belajar dapat semakin sesuai dengan kebutuhan siswa.
Jurnalis ; Komala