Jurnalis9.com. Bandung Barat, 27 Maret 2026. Ratusan chef dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara berkumpul di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Azura Berkah Rejeki, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah.
Sekitar 200 hingga 250 chef hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari sejumlah daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Medan, Makassar, hingga wilayah lain di Indonesia. Kehadiran chef dari luar negeri, termasuk Turki dan Prancis, turut memberi warna dalam kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu.
Kegiatan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang kolaborasi untuk mengembangkan menu bergizi dengan standar kualitas yang tetap terjaga meski menggunakan anggaran terbatas. Para chef terlibat dalam presentasi menu, diskusi, hingga praktik memasak dalam skala besar.

Owner SPPG Pangauban, Lisda Lestari, menjelaskan kegiatan ini bertujuan mempertemukan para chef dari berbagai latar belakang untuk saling berbagi pengalaman sekaligus menunjukkan kemampuan mereka dalam mengolah makanan bergizi.
“Sekarang kegiatannya perkumpulan para chef seluruh Indonesia. Dan kebetulan kita juga kedatangan chef dari Turki. Sekitar 200 orang, kurang lebih,” ujar Lisda.
Ia menuturkan, salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah memasak dalam jumlah besar untuk masyarakat sekitar. Sedikitnya 2.000 porsi makanan disiapkan dan dibagikan secara langsung.
“Kegiatan kali ini untuk masak besar, tentunya untuk warga sekitar juga. Porsinya kurang lebih sekitar 2.000 porsi,” katanya.
Menurut Lisda, masyarakat sekitar memang sengaja diundang agar dapat merasakan langsung hasil olahan para chef dari berbagai daerah. Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya makanan bergizi.

“Kami undang masyarakat setempat, karena ini masak besar juga. Jadi biar masyarakat merasakan masakan para chef yang ada di Indonesia,” ucapnya.
Di sisi lain, Lisda mengakui bahwa operasional SPPG sempat mengikuti kebijakan pemerintah selama masa libur dengan menghentikan sementara distribusi makanan.
“Pendistribusiannya, karena liburan jadi ikut libur. Mengikuti alur dari pemerintah,” ujarnya.
Ia memastikan kegiatan serupa akan terus berlanjut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.
“Harapannya dapur kita dijauhkan dari gosip-gosip yang miring. Kegiatan ini akan terus berlanjut,” katanya.
Sementara itu, mitra sekaligus pengelola SPPG Batujajar, Hendrik Irawan, menegaskan komitmennya dalam mendukung program MBG melalui peningkatan kualitas makanan yang disajikan.

Ia menilai keterbatasan anggaran tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan makanan dengan cita rasa tinggi.
“Kami ingin menunjukkan bagaimana mengolah anggaran Rp10 ribu, bahkan Rp8 ribu, menjadi hidangan dengan kualitas rasa setara hotel bintang lima,” ujar Hendrik.
Dalam kesempatan tersebut, Hendrik juga menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang sempat terjadi dan berdampak pada operasional dapur.
“Saya mohon maaf kepada masyarakat Indonesia dan pihak terkait atas kesalahan yang terjadi. Ini menjadi evaluasi bagi kami untuk ke depan bisa lebih baik,” katanya.
Diskusi yang berlangsung dalam kegiatan ini turut menyoroti pentingnya sinergi antara chef dan ahli gizi dalam menyusun menu MBG. Sejumlah chef menilai kolaborasi menjadi kunci agar makanan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga sesuai dengan selera penerima manfaat.
Chef Pasya menilai penyusunan menu sebaiknya melibatkan chef secara langsung, sementara ahli gizi berperan sebagai pengawas.
“Chef dilahirkan dari pengalaman dan jam terbang. Menu dibuat oleh chef, ahli gizi sebagai pengawas,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Chef Kumink yang menekankan pentingnya peran chef dalam menciptakan variasi menu agar tidak monoton.
“Dari satu menu bisa dibuat beberapa varian rasa. Kita membuat makanan untuk anak sehat, jadi harus disukai,” katanya.
Chef David juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan selera anak-anak sebagai penerima manfaat utama.
“Menu makanan sebaiknya disesuaikan dengan apa yang disukai anak-anak,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan aksi memasak besar menggunakan wajan berdiameter hampir dua meter. Menu ayam teriyaki dimasak untuk ribuan porsi dalam satu kali proses, menjadi simbol kolaborasi dan semangat gotong royong.
Melalui kegiatan ini, para chef berharap kolaborasi lintas daerah dan profesi dapat terus diperkuat guna meningkatkan kualitas dan keberlanjutan program MBG di berbagai wilayah Indonesia.
Reporter : Aki