Jurnalis9.com Bandung, 7 Mei 2026. Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 menggelar Konvensi Tahunan ke-50 di HARRIS Hotel & Conventions Festival Citylink Bandung. Forum yang mempertemukan anggota Lions Club dari berbagai daerah di Indonesia itu tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga memunculkan pembicaraan lebih luas mengenai posisi gerakan kemanusiaan di tengah masyarakat yang makin sensitif terhadap isu identitas dan kepentingan kelompok. “Acara di isi juga dengan pagelaran seni budaya, dan parade pakean tradisional Nusantara
Konvensi emas atau Golden Convention tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Ketua Dewan Gubernur Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 Yahya Yasputera, Ketua Panitia Toni Sutarman, serta delegasi Lions dari berbagai distrik di Indonesia.
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi menilai organisasi pelayanan sosial seperti Lions sering kali belum dipahami secara utuh oleh masyarakat. Menurut dia, kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan organisasi tersebut kerap tertutup oleh prasangka sosial yang berkembang di ruang publik.
“Kalau publik tidak mengetahui, sering kali ada kelompok tertentu yang menuduh bahwa kegiatan ini mengarah pada agama tertentu atau kepentingan golongan tertentu,” kata Dedi.

Pernyataan itu menjadi salah satu bagian paling penting dalam forum tersebut. Sebab, di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan menguatnya identitas kelompok dalam ruang publik Indonesia, organisasi kemanusiaan memang tidak selalu berdiri di ruang netral. Aktivitas sosial yang sejatinya bersifat universal kadang justru dicurigai memiliki agenda tersembunyi.
Karena itu, Dedi menilai kegiatan Lions perlu lebih terbuka kepada masyarakat agar fungsi sosialnya dipahami secara luas. Ia menegaskan bahwa inti gerakan tersebut adalah pelayanan kemanusiaan lintas identitas.
“Perbuatan baik yang melintasi agama itu adalah berbuat baik terhadap sesama manusia,” ujarnya.
Pidato Dedi juga menyinggung soal keberagaman manusia yang menurutnya merupakan ketentuan alam. Setiap orang lahir dalam lingkungan budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Namun di balik seluruh perbedaan itu, manusia tetap memiliki kesamaan mendasar: rasa takut, sedih, lapar, dan harapan untuk hidup lebih baik.

Dari titik itu, ia menempatkan empati sebagai bahasa universal yang seharusnya melampaui sekat agama, suku, maupun kelompok sosial.
Ketua Dewan Gubernur Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 Yahya Yasputera mengatakan konvensi tahunan tersebut menjadi forum strategis organisasi untuk memilih kepemimpinan baru, menyampaikan laporan pertanggungjawaban, serta menentukan arah program pelayanan masyarakat ke depan.
“Di Lions, setiap konvensi tentu kami memilih para pemimpin Lions untuk periode yang akan datang. Selain itu, ada beberapa keputusan dan laporan yang harus dikerjakan,” kata Yahya.
Ia mengakui masih banyak masyarakat yang hanya mengenal Lions Club dari permukaan. Padahal, menurut dia, organisasi tersebut selama bertahun-tahun aktif dalam pelayanan kesehatan, pendidikan, penanganan kemiskinan, dan bantuan sosial kemanusiaan.

Pengalaman Dedi Mulyadi saat menjabat Bupati Purwakarta juga disebut memperlihatkan keterlibatan Lions dalam berbagai kegiatan sosial di daerah. Hal itu, menurut Yahya, menjadi alasan penting mengapa organisasi perlu tampil lebih terbuka kepada publik.
Di sisi lain, penyelenggaraan konvensi nasional di Bandung juga membawa dampak ekonomi yang tidak kecil. Kehadiran ratusan peserta dari berbagai daerah mendorong aktivitas hotel, transportasi, kuliner, hingga usaha kecil di sekitar lokasi kegiatan. Dedi bahkan mengibaratkan kehadiran anggota Lions seperti singa dalam ekosistem alam: bukan hanya simbol kekuatan, melainkan penjaga keseimbangan kehidupan.
Meski demikian, forum ini memperlihatkan tantangan yang kini dihadapi organisasi sosial modern. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan kehadiran kelompok-kelompok sukarelawan untuk membantu persoalan pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan yang belum sepenuhnya tertangani negara. Namun di sisi lain, ruang sosial yang dipenuhi prasangka membuat kerja kemanusiaan pun tak luput dari tuduhan dan kecurigaan.

Karena itu, konvensi ke-50 Lions Indonesia di Bandung tampaknya tidak hanya berbicara soal pergantian kepemimpinan organisasi. Forum ini sekaligus menjadi upaya mempertegas kembali bahwa kerja kemanusiaan seharusnya ditempatkan di atas kepentingan identitas.
Di tengah masyarakat yang makin mudah terbelah oleh perbedaan, pesan yang paling menonjol dari forum tersebut justru sederhana: ketika manusia lapar, sakit, atau kesulitan hidup, yang paling dibutuhkan tetap pertolongan dari manusia lain.
Reporter : Komala – Evie