Jurnalis9.com Lembang, 4 Juni 2026. Kunjungan Tim Penggerak (TP) PKK Kota Tangerang Selatan ke Posyandu Flamboyan di Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, bukan sekadar agenda kaji tiru. Di balik prestasi Posyandu Flamboyan yang meraih juara pertama tingkat nasional, terdapat kerja panjang para kader dan penggerak masyarakat yang membangun pelayanan publik dari lingkungan terkecil.
Kunjungan tersebut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Barat Syahnaz Sadiqah, Ketua TP PKK Kota Tangerang Selatan Tini Indrayanthi, Ketua I TP PKK Kabupaten Bandung Barat Neneng Nurul Sa’adah, Ketua II TP PKK Kabupaten Bandung Barat Silvy Eriska, Camat Lembang Bambang Eko, Ketua TP PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati, Kepala Desa Kayuambon Hari Irawan, Ketua TP PKK Desa Kayuambon Irma Rachmawati, Ketua Posyandu Flamboyan Nani Yuningsih, Bidan Desa Dian, para pengurus TP PKK, kader posyandu Kabupaten Bandung Barat, serta 30 anggota kelompok kerja TP PKK Kota Tangerang Selatan.
Dalam berbagai sambutan yang disampaikan, perhatian banyak tertuju pada capaian Posyandu Flamboyan. Namun di balik pencapaian tersebut, terdapat tiga sosok perempuan yang selama bertahun-tahun berada di garis depan pembinaan, pengorganisasian, dan pelayanan masyarakat, yakni Maya Ekawati, Irma Rachmawati, dan Nani Yuningsih.

Sebagai Ketua TP PKK Kecamatan Lembang, Maya Ekawati memandang kunjungan dari Tangerang Selatan sebagai bentuk apresiasi sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.
Ia mengaku memiliki hubungan komunikasi yang telah terjalin sebelumnya dengan jajaran Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Karena itu, kedatangan rombongan ke Posyandu Flamboyan menjadi sesuatu yang istimewa sekaligus membanggakan bagi Kecamatan Lembang.
“Ini menjadi pecutan semangat untuk kami agar lebih maju lagi, lebih termotivasi lagi, dan lebih fokus mengedukasi enam bidang Standar Pelayanan Minimal atau 6 SPM kepada masyarakat,” kata Maya.
Menurut Maya, keberhasilan Posyandu Flamboyan tidak lahir dari proses yang singkat. Prestasi nasional yang diraih merupakan hasil sinergi antara kader, pemerintah desa, kecamatan, tenaga kesehatan, serta dukungan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa pola pembinaan yang diterapkan selama ini tidak dibangun melalui hubungan formal antara atasan dan bawahan, melainkan melalui pendekatan kebersamaan.
“Kalau saya dengan kader itu bukan ketua dan kader, tetapi seperti sahabat. Kita mengajak, mengedukasi, dan mengimplementasikan program bersama-sama,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam membangun rasa memiliki terhadap program posyandu. Ketika persiapan menghadapi penilaian tingkat nasional dilakukan, seluruh kader bekerja secara kolektif untuk memastikan setiap program benar-benar berjalan dan terdokumentasikan dengan baik.
Bagi Maya, gelar juara bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah manfaat yang dirasakan masyarakat dari setiap program yang dijalankan.

Karena itu, setelah Posyandu Flamboyan meraih juara nasional, fokus berikutnya adalah mempertahankan kualitas pelayanan. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi kompetisi, melainkan bagaimana menjadikan posyandu sebagai kebutuhan masyarakat.
“Bukan lagi posyandu yang membutuhkan masyarakat, tetapi masyarakat yang membutuhkan posyandu,” katanya.
Maya juga menaruh perhatian besar pada upaya penurunan angka stunting. Bersama kader dan puskesmas, ia aktif melakukan pendekatan langsung kepada ibu hamil dan keluarga yang memiliki anak dengan risiko gizi kurang.
Pendekatan tersebut dilakukan secara personal, mulai dari mengenali kebutuhan keluarga hingga memberikan pendampingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing warga.

Di tingkat desa, peran penggerak masyarakat dijalankan oleh Ketua TP PKK Desa Kayuambon Irma Rachmawati. Ia menjadi salah satu penghubung penting antara kebijakan, program, dan pelaksanaan di lapangan.
Irma mengatakan Posyandu Flamboyan telah berulang kali menerima kunjungan dari berbagai daerah maupun institusi yang ingin mempelajari praktik pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan di Kayuambon.
“Alhamdulillah, saya merasa bangga atas kunjungan ini. Mudah-mudahan bisa memberikan motivasi untuk posyandu di daerah lain,” ujarnya.
Menurut Irma, transformasi posyandu melalui pendekatan 6 SPM membuka ruang yang lebih luas bagi pelayanan masyarakat. Posyandu tidak hanya berbicara tentang kesehatan ibu dan anak, tetapi juga pendidikan, sosial, lingkungan, hingga perumahan rakyat.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah anak asuh PAUD bagi keluarga kurang mampu. Melalui program tersebut, anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap memperoleh akses pendidikan usia dini.

Selain itu, pihaknya juga aktif menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan pemerintah desa, termasuk ketika terdapat warga yang membutuhkan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni.
Di Desa Kayuambon sendiri terdapat 12 posyandu, sedangkan Posyandu Flamboyan didukung oleh 15 kader aktif yang menjalankan berbagai kegiatan pelayanan masyarakat.
Sementara itu, sosok yang paling dekat dengan aktivitas harian Posyandu Flamboyan adalah Nani Yuningsih. Sebagai Ketua Posyandu Flamboyan, ia memimpin langsung pelaksanaan berbagai program yang menjadikan posyandu tersebut dikenal secara nasional.
Nani menyebut kunjungan dari berbagai daerah merupakan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.
“Yang kami harapkan bukan hanya kunjungan dari luar daerah, tetapi bagaimana pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi posyandu di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Di bawah koordinasinya, Posyandu Flamboyan mengembangkan puluhan inovasi, mulai dari Homebin, Warbin, Library Home, Anak Asuh PAUD, Mobil Pintar, hingga berbagai program lingkungan dan pemberdayaan keluarga.
Posyandu Flamboyan juga menjadi salah satu contoh implementasi 6 SPM yang berjalan aktif setiap hari. Pelayanan tidak lagi terbatas pada penimbangan balita bulanan, melainkan mencakup kesehatan, pendidikan, sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat secara terpadu.
Nani menegaskan bahwa kekuatan utama Posyandu Flamboyan terletak pada kekompakan kader.
“Di posyandu tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan banyak pemikiran, banyak ide kreatif, dan semua itu lahir dari musyawarah bersama,” katanya.
Melalui kolaborasi yang dibangun dari tingkat kecamatan, desa, hingga kader lapangan, Posyandu Flamboyan berkembang menjadi ruang pelayanan publik yang hidup dan dekat dengan masyarakat. Prestasi juara pertama tingkat nasional menjadi pengakuan atas kerja bersama tersebut, namun bagi Maya Ekawati, Irma Rachmawati, dan Nani Yuningsih, penghargaan terbesar tetaplah ketika program yang mereka jalankan mampu memberi manfaat nyata bagi warga.
Dari sebuah lingkungan di kaki Gunung Tangkuban Parahu, ketiga perempuan itu menunjukkan bahwa pelayanan masyarakat yang kuat berawal dari kedekatan dengan warga, kerja sama yang konsisten, dan kemauan untuk terus belajar. (aq-nk)
Reporter : Komala Sari