Reses Dedi Hernawan di Cibodas: Ketika Aspirasi UMKM Didorong Menjadi Agenda Aksi

Jurnalis9.com Lembang, 12 Juni 2026. Forum reses anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Komisi II Fraksi Gerindra, Dedi Hernawan, di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Jumat, 12 Juni 2026, tidak hanya menjadi ruang penyerapan aspirasi warga. Pertemuan itu juga memperlihatkan persoalan yang selama ini berulang dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM): potensi besar yang belum ditopang oleh kelembagaan, legalitas, akses pasar, dan permodalan yang memadai.

Dalam forum yang dihadiri pelaku UMKM dari Desa Cibodas dan Suntenjaya tersebut, Dedi menempatkan persoalan ekonomi lokal sebagai isu utama. Di tengah tekanan biaya hidup yang terus menjadi perhatian masyarakat, keberadaan UMKM dinilai bukan sekadar aktivitas ekonomi skala kecil, melainkan salah satu fondasi ketahanan ekonomi warga.

Sejumlah keluhan yang muncul dalam diskusi menunjukkan persoalan klasik yang masih membayangi pelaku usaha di tingkat desa. Banyak usaha rumah tangga berjalan dengan modal terbatas, belum memiliki izin usaha yang lengkap, belum mengantongi sertifikat halal maupun PIRT, serta menghadapi kesulitan memasarkan produk di luar lingkungan terdekat.

Kondisi tersebut sebenarnya bukan persoalan baru. Berbagai program pemberdayaan UMKM telah berjalan selama bertahun-tahun. Namun, tantangan yang sama masih terus muncul di banyak wilayah, termasuk di Kabupaten Bandung Barat. Karena itu, persoalan utama bukan lagi soal minimnya gagasan, melainkan bagaimana memastikan berbagai rencana dapat diwujudkan menjadi tindakan yang terukur.

Dalam forum tersebut, Dedi secara terbuka mengakui bahwa banyak program sering berhenti pada tahap perencanaan. Menurut dia, tanpa langkah konkret, berbagai forum diskusi hanya akan menghasilkan daftar keinginan tanpa perubahan nyata bagi masyarakat.

Pernyataan itu menjadi catatan penting. Sebab, pelaku UMKM pada dasarnya tidak hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar usaha mereka mampu naik kelas.

Karena itu, salah satu langkah yang ditawarkan adalah pembentukan forum UMKM Desa Cibodas. Gagasan ini bertujuan menciptakan wadah yang dapat menghubungkan pelaku usaha dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan, maupun program bantuan yang tersedia.

Dari perspektif pembangunan ekonomi lokal, keberadaan forum semacam itu dapat menjadi titik awal yang penting. Banyak program pemerintah mensyaratkan adanya kelompok atau kelembagaan sebagai pintu masuk penyaluran bantuan, pelatihan, hingga akses pembiayaan. Tanpa organisasi yang jelas, pelaku usaha sering kali bergerak sendiri-sendiri dan sulit memperoleh dukungan yang lebih luas.

Selain persoalan UMKM, diskusi juga menyinggung dampak kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap kehidupan masyarakat. Dedi menyoroti kecenderungan naiknya harga kebutuhan pokok setiap kali terjadi penyesuaian harga BBM. Menurut dia, tidak semua kenaikan harga dapat dibenarkan hanya dengan alasan biaya transportasi.

Pandangan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang banyak dirasakan masyarakat. Kenaikan biaya energi sering menimbulkan efek berantai terhadap harga barang dan jasa. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah maupun pelaku usaha kecil, perubahan harga sekecil apa pun dapat memengaruhi daya beli dan keberlangsungan usaha.

Di sisi lain, forum reses ini juga digunakan untuk memperkenalkan agenda yang lebih konkret melalui rencana penyelenggaraan Car Free Day (CFD) Cibodas pada 21 Juni 2026. Kegiatan yang mengusung slogan “Badan Sehat, Ekonomi Kuat” dan semangat Jajaway (nama pohon Jajaway) yang kemudian menjadi singkatan jalan jalan on the way, itu dirancang sebagai ruang pertemuan antara aktivitas sosial dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Target kehadiran seribu peserta menunjukkan bahwa CFD tidak semata dipandang sebagai kegiatan olahraga. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi etalase produk UMKM lokal sekaligus sarana memperluas pasar bagi pelaku usaha di Cibodas dan sekitarnya.

Dedi mencontohkan keberhasilan sejumlah CFD di wilayah lain yang mampu menghasilkan perputaran ekonomi dalam jumlah besar. Namun keberhasilan itu, menurut dia, tidak datang dengan sendirinya. Kualitas produk, kebersihan lingkungan, keramahan pelaku usaha, serta strategi promosi yang efektif menjadi faktor penentu.

Karena itu, pemanfaatan media sosial juga menjadi bagian dari strategi yang didorong dalam forum tersebut. Menariknya, Dedi menekankan pentingnya promosi yang jujur dan tidak berlebihan. Pesan ini relevan di tengah kecenderungan pemasaran digital yang kerap menampilkan citra produk yang tidak selalu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Pada akhirnya, reses di Cibodas memperlihatkan bahwa tantangan utama pembangunan ekonomi desa bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada kemampuan mengorganisasi potensi tersebut menjadi kekuatan yang produktif. Aspirasi yang muncul dalam forum menunjukkan kebutuhan akan pendampingan, legalitas usaha, akses pasar, dan dukungan permodalan yang lebih sistematis.

Jika tindak lanjut yang dijanjikan benar-benar dijalankan—mulai dari pembentukan forum UMKM, fasilitasi legalitas usaha, hingga pembukaan akses ke perbankan dan dinas terkait—maka reses ini dapat menghasilkan dampak yang lebih nyata dibanding sekadar pencatatan aspirasi. Sebaliknya, tanpa implementasi yang konsisten, persoalan yang sama berpotensi kembali muncul dalam forum-forum berikutnya.

Di titik itulah ukuran keberhasilan sebuah reses sesungguhnya dapat dinilai: bukan pada banyaknya aspirasi yang disampaikan, melainkan pada sejauh mana aspirasi tersebut berubah menjadi kebijakan, program, dan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....