Menjaga Muharram Tetap Bermakna: Pelajaran Solidaritas dari Desa Sukajaya

Jurnalis9.com Bandung Barat, 16 Juni 2026. Di tengah derasnya perubahan sosial dan budaya yang memengaruhi kehidupan masyarakat pedesaan, peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menawarkan gambaran menarik tentang bagaimana tradisi keagamaan masih mampu menjadi perekat sosial sekaligus sarana pendidikan generasi muda.

Perayaan yang digelar selama beberapa hari itu tidak hanya diisi kegiatan seremonial keagamaan. Panitia bersama Pemerintah Desa Sukajaya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Sukajaya, serta berbagai elemen masyarakat mengemasnya dalam bentuk perlombaan keagamaan, festival rebana, hingga pawai tematik yang melibatkan warga dari berbagai kelompok usia.

Jika dicermati lebih jauh, kegiatan tersebut memperlihatkan satu hal penting: peringatan hari besar keagamaan masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat. Lebih dari 400 peserta mengikuti berbagai lomba, mulai dari mewarnai kaligrafi, adzan, tahfiz Al-Qur’an, hingga musabaqah keterampilan keagamaan. Angka partisipasi itu menunjukkan bahwa ruang-ruang pembelajaran berbasis nilai agama masih mendapatkan tempat di tengah dominasi media sosial dan hiburan digital yang semakin menyita perhatian anak-anak dan remaja.

Kepala Desa Sukajaya, Asep Jembar Rahmat, menyebut kegiatan tersebut sebagai tradisi turun-temurun yang diwariskan para tokoh terdahulu. Pernyataan itu mengandung makna yang lebih luas daripada sekadar menjaga agenda tahunan. Di banyak daerah, tradisi yang kehilangan relevansi sosial perlahan ditinggalkan masyarakat. Sebaliknya, tradisi yang mampu menjawab kebutuhan zaman cenderung bertahan dan berkembang.

Di Sukajaya, tradisi Muharram tampaknya berhasil mempertahankan relevansinya karena tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang kebersamaan warga. Pemerintah desa tidak menempatkan diri sebagai penyelenggara tunggal, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sosial yang melibatkan RT, RW, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga para donatur.

Model partisipasi seperti ini penting dicatat. Sebab salah satu tantangan pembangunan desa saat ini adalah munculnya ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah sebagai penyedia utama berbagai kegiatan sosial. Ketika warga hanya menjadi penonton, rasa memiliki terhadap program desa akan semakin menurun.

Karena itu, upaya mendorong swadaya dan gotong royong yang disampaikan Kepala Desa Sukajaya patut diapresiasi. Namun pada saat yang sama, semangat gotong royong tersebut juga perlu dijaga agar tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengurangi tanggung jawabnya dalam mendukung kegiatan sosial masyarakat. Keseimbangan antara partisipasi warga dan dukungan pemerintah tetap menjadi kunci.

Aspek menarik lainnya adalah pemilihan tema yang menekankan sinergi ulama, umara, dan seluruh lapisan masyarakat. Tema tersebut mencerminkan kesadaran bahwa pembangunan karakter generasi muda tidak dapat dibebankan hanya kepada lembaga pendidikan atau keluarga.

Ketua MUI Desa Sukajaya, Undang Ubaidillah, menyebut tujuan kegiatan ini adalah menggali potensi masyarakat dan memperkuat persatuan. Pandangan tersebut relevan dengan kondisi saat ini ketika berbagai tantangan sosial, mulai dari perpecahan akibat informasi digital hingga menurunnya interaksi sosial langsung, semakin terasa di tingkat akar rumput.

Meski demikian, pembangunan karakter generasi muda tentu tidak cukup dilakukan melalui kegiatan yang bersifat tahunan. Festival, perlombaan, dan perayaan keagamaan dapat menjadi pemantik, tetapi efektivitasnya akan sangat bergantung pada tindak lanjut yang berlangsung sepanjang tahun. Tanpa program pembinaan yang berkelanjutan, nilai-nilai yang diperkenalkan dalam perayaan Muharram berisiko berhenti sebagai euforia sesaat.

Hal lain yang layak mendapat perhatian adalah upaya mengangkat sosok Sunan Gunung Jati sebagai bagian dari tema kultural kegiatan. Langkah ini menunjukkan adanya usaha menghubungkan generasi muda dengan sejarah Islam di Jawa Barat. Dalam konteks pendidikan budaya, pendekatan seperti ini penting karena dapat memperkuat identitas lokal tanpa harus menutup diri terhadap perkembangan zaman.

Pada akhirnya, peringatan Tahun Baru Islam di Desa Sukajaya memberikan pelajaran bahwa kegiatan keagamaan memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar memperingati pergantian kalender Hijriah. Ia menjadi ruang pertemuan antara nilai agama, budaya, pendidikan, dan solidaritas sosial.

Namun keberhasilan sebuah perayaan tidak seharusnya diukur dari ramainya peserta atau meriahnya acara semata. Ukuran yang lebih penting adalah apakah semangat persatuan, gotong royong, dan pembinaan generasi muda yang digaungkan dalam kegiatan tersebut benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setelah panggung dan perlombaan usai.

Jika nilai-nilai itu mampu dipelihara sepanjang tahun, maka Muharram di Sukajaya bukan hanya menjadi perayaan tahunan, melainkan investasi sosial yang memperkuat fondasi kehidupan masyarakat desa di masa depan.

Reporter : Aki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....