Jurnalis9.com Lembang, 22 Juni 2026
Car Free Day (CFD) Jajaway di Jalan Sukarasa, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tidak sekadar menghadirkan keramaian warga pada akhir pekan. Kegiatan perdana ini menjadi uji coba bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dari tingkat desa. Di balik senam bersama, lapak kuliner, dan aktivitas warga, terdapat upaya membangun ekosistem usaha yang selama ini belum dimiliki pelaku UMKM setempat.
Penggagas kegiatan, anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat Fraksi Gerindra, Dedi Hernawan, menegaskan bahwa ide tersebut lahir dari kebutuhan menghadirkan solusi, bukan sekadar membahas persoalan ekonomi masyarakat. Menurutnya, Desa Cibodas belum memiliki paguyuban maupun ruang yang mampu mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen secara rutin.
Pendekatan yang dipilih bukan berupa bantuan modal. Dedi justru memulai dari sisi yang lebih mendasar, yakni menciptakan pasar. Dalam pandangannya, akses terhadap pembeli sering kali menjadi persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha kecil. Karena itu, ruang publik dimanfaatkan sebagai tempat bertemunya pedagang dan masyarakat dalam suasana yang lebih terbuka.

Hasil pelaksanaan perdana menunjukkan respons yang melampaui perkiraan panitia. Dari target sekitar 50 pelaku UMKM, jumlah peserta yang hadir mencapai 96 stan. Nilai transaksi yang dihimpun berdasarkan laporan para pedagang bahkan menembus lebih dari Rp69 juta hanya dalam satu hari kegiatan.
Angka tersebut memang masih berupa data awal yang bersumber dari pengakuan pedagang. Namun, bagi penyelenggara, informasi itu memiliki arti penting sebagai dasar evaluasi. Perbedaan omzet antarpedagang akan dianalisis untuk mengetahui faktor yang memengaruhi penjualan, mulai dari kualitas produk, variasi menu, penyajian hingga strategi pemasaran.
“Kami membutuhkan data sebagai barometer. Dari situ bisa diketahui apa yang harus diperbaiki sehingga pembinaan terhadap UMKM lebih tepat sasaran,” kata Dedi.
Tidak hanya pedagang yang memperoleh manfaat. Jumlah pengunjung diperkirakan melampaui dua ribu orang atau dua kali lipat dari target awal. Tingginya antusiasme warga memperlihatkan bahwa ruang publik yang memadukan aktivitas olahraga, hiburan, dan perdagangan masih memiliki daya tarik yang kuat.

Meski demikian, keberhasilan hari pertama belum cukup untuk menjadi ukuran keberlanjutan program. Tantangan yang lebih besar justru berada pada kemampuan menjaga konsistensi penyelenggaraan. Dedi mengakui skema pembiayaan masih perlu disempurnakan. Selama ini biaya pendaftaran pedagang hanya Rp10 ribu yang sebagian besar digunakan untuk kebutuhan kebersihan, listrik, dan air.
Artinya, apabila kegiatan ingin berkembang menjadi agenda mingguan yang stabil, diperlukan tata kelola yang lebih matang tanpa membebani pelaku UMKM. Keseimbangan antara kepentingan penyelenggara dan pedagang menjadi faktor penting agar program tidak berhenti setelah euforia pelaksanaan perdana.

Ke depan, panitia juga menyiapkan pengembangan kawasan. Area olahraga dan area perdagangan direncanakan dipisahkan agar aktivitas pengunjung lebih nyaman. Bahkan terdapat gagasan menjadikan lokasi tersebut sebagai pasar permanen yang melayani UMKM Desa Cibodas maupun desa-desa di sekitarnya.
Konsep itu diperluas dengan menghadirkan dinas teknis serta perusahaan benih, pupuk, dan pestisida. Langkah tersebut menunjukkan bahwa CFD tidak hanya diarahkan menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang edukasi bagi petani yang menjadi bagian penting dari struktur ekonomi Desa Cibodas.
Kepala Desa Cibodas, Dindin Sukaya, menilai keberhasilan pelaksanaan perdana merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa, BUMDes, Koperasi Merah Putih, DPRD, panitia hingga masyarakat. Kolaborasi itu dinilai membuka peluang lahirnya kegiatan ekonomi baru yang tumbuh dari potensi lokal.

Optimisme serupa disampaikan Ketua Koordinator Paguyuban CFD Jajaway, Riki Kurnia. Menurutnya, antusiasme pedagang dan masyarakat membuat panitia semakin yakin bahwa kegiatan tersebut layak diteruskan. Jumlah pendaftar bahkan terus bertambah sehingga daftar tunggu mulai terbentuk.
Di sisi lain, kegiatan olahraga juga mendapat respons positif. Masayu Dedi Hernawan mengatakan lima sanggar senam dari Cibodas dan Suntenjaya berkolaborasi mengisi kegiatan pagi. Ke depan, panitia akan menghadirkan instruktur tamu dari berbagai daerah di Lembang agar kegiatan semakin menarik, dari kalangan pendidikan ikut hadir melalui stan International Women University yang memanfaatkan CFD sebagai ruang promosi sekaligus mendukung aktivitas ekonomi warga.
Pelaksanaan perdana CFD Jajaway memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi desa tidak selalu dimulai dari proyek berskala besar. Ruang publik yang dikelola dengan baik dapat menjadi simpul bertemunya perdagangan, edukasi, olahraga, dan interaksi sosial. Namun keberhasilan sesungguhnya baru dapat diukur apabila kegiatan ini mampu bertahan dalam jangka panjang, menghasilkan pembinaan yang berbasis data, serta benar-benar meningkatkan pendapatan UMKM dan petani secara berkelanjutan. Di titik itulah sebuah inovasi tidak berhenti sebagai kegiatan mingguan, melainkan berkembang menjadi model penguatan ekonomi lokal yang memiliki dampak nyata.
Reporter : KKomala Sari