Jurnalis9.com Bandung Barat, 21 Juni 2026 Perayaan Milangkala ke-42 Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, pada Ahad, 21 Juni 2026, tidak berhenti sebagai peringatan bertambahnya usia desa. Di balik arak-arakan budaya, penampilan sisingaan, bazar UMKM, hingga hiburan rakyat, tersimpan pesan yang lebih mendasar: pembangunan desa hanya dapat berlangsung apabila pemerintah dan masyarakat berjalan dalam irama yang sama.
Tema “Bangkit Bersama Masyarakat Membangun Desa: Hudang, Mangprang, Caang” dipilih bukan sekadar slogan. Pemerintah Desa Cisomang Barat menempatkannya sebagai arah pembangunan yang menekankan kebangkitan, kerja nyata, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Nilai itu diperkuat dengan semboyan “Lembur Nu Maju, Warga Nu Sauyunan, Cikal Bakal Kahadean” yang menegaskan pentingnya persatuan sebagai fondasi kemajuan.
Kepala Desa Cisomang Barat, Mohamad Ridwan, menilai usia ke-42 menjadi waktu yang tepat untuk meninjau perjalanan desa sekaligus memperkuat semangat gotong royong. Menurutnya, pembangunan tidak hanya diukur melalui infrastruktur, tetapi juga melalui tumbuhnya rasa memiliki terhadap desa.
“Hudang berarti bangkit, mangprang berarti bergerak, dan caang berarti terang. Mari kita bangkit bersama, bergerak membangun desa, agar Cisomang Barat menjadi lembur yang maju, warganya sauyunan, dan menjadi cikal bakal kebaikan bagi generasi mendatang,” ujar Ridwan.

Pernyataan tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak desa saat ini. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks, pemerintah desa dituntut tidak hanya mampu menjalankan administrasi, tetapi juga membangun partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan warga, berbagai program pembangunan akan kehilangan daya dorong.
Perayaan Milangkala kali ini juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Bupati Jeje Ritchie Ismail hadir di tengah jadwal yang padat. Dari Cisomang Barat, ia langsung melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Subang untuk menghadiri agenda bersama Gubernur Jawa Barat. Kehadirannya menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah ingin menjaga komunikasi dengan masyarakat hingga tingkat desa.
Dalam sambutannya, Jeje mengajak seluruh unsur pemerintahan memperkuat kolaborasi.
“Saya berterima kasih kepada masyarakat Cisomang Barat yang selalu kompak. Mari jalin kolaborasi aktif dengan PLT Camat, para kepala desa, dan seluruh birokrasi,” katanya.

Ajakan itu memiliki makna strategis. Pembangunan desa tidak hanya bergantung pada anggaran yang tersedia, tetapi juga pada koordinasi lintas pemerintahan. Hubungan yang harmonis antara pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten menjadi faktor penting agar berbagai program dapat berjalan lebih efektif.
Suasana peringatan semakin hidup ketika warga mengajak bupati bershalawat yang diiringi drum band. Jeje ikut memainkan alat musik bersama para peserta. Sambutan hangat masyarakat memperlihatkan kedekatan emosional yang masih menjadi modal sosial penting dalam kehidupan desa.
Dukungan terhadap pembangunan Cisomang Barat juga disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Fraksi PAN, Ali Rapli Rapsanjani. Ia mengapresiasi kehadiran bupati sekaligus mengingatkan bahwa peringatan hari jadi desa harus menjadi ruang untuk menghargai jasa para pendiri desa.
“Milangkala ini bukan sekadar ulang tahun. Ini mengingatkan kita pada sejarah para pendiri desa, baik yang sudah tiada maupun yang masih ada, sehingga Cisomang Barat bisa berdiri sampai usia 42 tahun,” ujarnya.

Ali juga menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Cikalong Wetan, termasuk mendorong percepatan bantuan keuangan desa melalui sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
Rangkaian kegiatan yang diisi tasyakur, pertunjukan seni budaya Sunda, bazar UMKM, serta pemberian penghargaan kepada warga berprestasi memperlihatkan bahwa identitas desa tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik. Penguatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan penghargaan terhadap prestasi masyarakat menjadi bagian yang saling melengkapi.
Milangkala ke-42 Desa Cisomang Barat pada akhirnya memberi pesan yang lebih luas. Kemajuan desa tidak lahir dari perayaan yang meriah, melainkan dari konsistensi menjaga kolaborasi, memperkuat kepercayaan publik, dan memastikan setiap kebijakan menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika pemerintah desa, pemerintah daerah, legislatif, dan warga mampu menjaga arah yang sama, pembangunan tidak lagi menjadi agenda pemerintah semata, melainkan menjadi ikhtiar bersama yang manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.
Reporter : A. Wana