Jurnalis9.com Bandung Barat, 22 Juni 2026. Desa kerap dipandang sebagai pengguna terakhir teknologi. Namun anggapan itu dipatahkan Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Melalui Cybernet Cibodas, layanan internet yang dibangun dan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandiri, desa ini justru tampil sebagai pelopor inovasi hingga meraih Juara I Lomba Inovasi Daerah Kategori Pemerintah Desa pada Hari Jadi ke-19 Kabupaten Bandung Barat.
Bagi Kepala Desa Cibodas, Dindin Sukaya, penghargaan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Ia menilai capaian itu merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak 2021 ketika pemerintah desa membaca perubahan kebutuhan masyarakat. Internet tidak lagi dipandang sebagai fasilitas pelengkap, melainkan bagian dari infrastruktur dasar yang menentukan kualitas pelayanan publik dan aktivitas ekonomi.
“Perintisan ini bukan berarti tiba-tiba mendapatkan juara. Saya melihat perjuangan anak-anak Cybernet sejak 2021. Internet sudah menjadi kebutuhan masyarakat, dan mereka mampu menjawab kebutuhan itu melalui inovasi,” kata Dindin saat diwawancarai di Kantor Desa Cibodas, Senin, 22 Juni 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan satu hal penting. Inovasi desa tidak lahir dari perlombaan, melainkan dari kemampuan membaca persoalan nyata di lapangan. Saat banyak penyedia internet masuk ke wilayah Cibodas, pemerintah desa memilih membangun layanan sendiri melalui BUMDes agar manfaat ekonominya tetap berputar di lingkungan masyarakat.
Keputusan itu mengandung risiko. Pengembangan jaringan membutuhkan investasi yang tidak kecil. Infrastruktur harus dibangun, pelanggan harus diyakinkan, sementara kualitas layanan harus mampu bersaing dengan operator yang lebih dulu hadir. Namun pilihan tersebut perlahan menunjukkan hasil.
Program Cybernet bermula dari bantuan pembangunan menara internet yang diterima pemerintah desa pada 2022. Dari titik awal itu, jaringan RT/RW Net dibentuk dan pada tahun pertama layanan diberikan secara gratis sebagai tahap uji coba. Sambutan masyarakat menjadi modal penting bagi pengembangan berikutnya.

Dalam tiga bulan pertama, sekitar 20 pelanggan bergabung. Setahun kemudian jaringan diperluas hingga mencakup 17 RW dengan sekitar 120 pelanggan. Perkembangan terus berlanjut. Pada 2024 jumlah pelanggan meningkat menjadi sekitar 300, sedangkan pada 2025 telah melampaui 400 pelanggan aktif dengan kapasitas bandwidth mencapai satu terabyte. Koneksi yang lebih stabil kini dimanfaatkan warga untuk belajar daring, bekerja dari rumah, menjalankan usaha digital, hingga siaran langsung penjualan produk.
BUMDes juga sempat memperoleh pembiayaan sekitar Rp400 juta dari penyedia layanan internet untuk membangun jaringan. Pembiayaan tersebut berhasil dilunasi dalam waktu tiga tahun, menunjukkan bahwa pengelolaan usaha desa dapat berjalan secara profesional apabila didukung perencanaan yang matang.
Dindin menegaskan Cybernet tidak berhenti sebagai penyedia internet. Pemerintah desa sedang menyiapkan integrasi jaringan tersebut dengan sistem pelayanan digital melalui konsep Simpel Desa. Arah kebijakan ini bertujuan memangkas waktu pelayanan administrasi sehingga warga tidak selalu harus datang ke kantor desa untuk mengurus berbagai kebutuhan.
“Kami ingin Cybernet menjadi dasar pelayanan desa yang lebih sederhana. Dengan dukungan anak-anak muda yang memahami teknologi informasi, pelayanan kepada masyarakat bisa semakin mudah dan cepat,” ujarnya.
Pada hari yang sama, Desa Cibodas juga memulai pelaksanaan Car Free Day yang diisi aktivitas puluhan pelaku UMKM. Seluruh produk yang dipasarkan mendapat respons positif dari pengunjung. Dindin menilai keberhasilan itu lahir dari kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, Koperasi Merah Putih, DPRD Kabupaten Bandung Barat, panitia pelaksana, pelaku usaha, serta media yang ikut memperkenalkan kegiatan tersebut kepada masyarakat.
Keberhasilan Cybernet Cibodas memberi pesan bahwa pembangunan desa tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran. Yang lebih menentukan adalah kemampuan pemerintah desa membangun kolaborasi, mempercayai kreativitas generasi muda, serta menjadikan teknologi sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan warga.
Penghargaan sebagai juara inovasi daerah memang menjadi pengakuan atas capaian tersebut. Namun nilai yang lebih penting terletak pada perubahan cara berpikir. Desa tidak lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi dari luar, melainkan mampu menciptakan ekosistem digitalnya sendiri yang memberi manfaat ekonomi, memperluas akses informasi, dan memperbaiki kualitas pelayanan publik. Dari Cibodas, transformasi digital menunjukkan bahwa kemajuan dapat tumbuh dari tingkat desa ketika inovasi dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar mengejar penghargaan.
Reporter : Komala Sari