Jurnalis9.com Bandung Barat, 8 Juli 2026. Upaya menurunkan angka stunting tidak cukup hanya melalui intervensi gizi. Tantangan itu menuntut pelayanan dasar yang mampu menjangkau masyarakat hingga lapisan paling bawah, hadir lebih cepat, dan bekerja dengan data yang akurat. Di titik inilah Posyandu kembali mendapat peran strategis. Tidak lagi sebatas tempat penimbangan balita setiap bulan, tetapi menjadi simpul pelayanan yang menghubungkan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, hingga pembangunan keluarga.
Arah baru tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis Kader Posyandu se-Kecamatan Batujajar yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan operasional bagi Tim Pembina Posyandu Desa dan Posyandu se-Kecamatan Batujajar Tahun 2026 di Aula SMK Cendekia Batujajar.
Sekitar 236 kader dari 118 Posyandu yang tersebar di tujuh desa mengikuti kegiatan itu. Jumlah tersebut menggambarkan besarnya jaringan pelayanan masyarakat yang dimiliki Kecamatan Batujajar. Apabila seluruh kader memiliki kompetensi yang seragam, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh keluarga di setiap lingkungan.

Ketua Posyandu Kecamatan Batujajar, Marlina Sari Utami, mengatakan perubahan fungsi Posyandu merupakan konsekuensi dari meningkatnya kebutuhan pelayanan masyarakat. Persoalan kesehatan saat ini tidak hanya berkutat pada balita dengan berat badan kurang, tetapi juga menyangkut ibu hamil, penyakit tidak menular, kesehatan lansia, hingga ketepatan data yang menjadi dasar penyusunan kebijakan.
“Posyandu bukan lagi sekadar tempat menimbang bayi dan memberikan makanan tambahan. Kader harus tahu cara bertindak, mampu memberikan edukasi, melakukan pengukuran yang benar, serta menjadi tempat bertanya yang dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, bimbingan teknis diarahkan agar kader memiliki keterampilan yang sama dalam mengukur tinggi badan dan berat badan balita, memahami pencatatan digital, serta mampu memberikan penyuluhan kepada keluarga. Kesalahan pengukuran yang tampak sederhana dapat berpengaruh terhadap kualitas data stunting dan menentukan arah kebijakan penanganan di lapangan.

Optimisme juga disampaikan Camat Batujajar Andi M. Hikmat. Meski baru sekitar empat bulan memimpin wilayah tersebut, ia mengaku telah melihat dedikasi kader Posyandu saat berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurut Andi, kehadiran kader semakin terasa ketika pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil dan balita. Para kader menjadi bagian penting dalam menerima, mengatur distribusi, hingga memastikan bantuan diterima keluarga sasaran.
“Kader Posyandu menunjukkan pengabdian yang luar biasa. Mereka hadir setiap hari membantu masyarakat, termasuk mendukung pelaksanaan program pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan warga,” katanya.
Ia berharap semangat itu terus dipelihara sehingga berbagai program Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dapat diterima masyarakat secara utuh. Kedekatan kader dengan warga dinilai menjadi kekuatan yang tidak mudah digantikan oleh sistem pelayanan formal.

Namun pembahasan dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada isu kesehatan. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sedang mendorong transformasi Posyandu menjadi pelaksana enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), yaitu bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, serta sosial.
Wakil Ketua II Tim Pembina Posyandu Kabupaten Bandung Barat, Eni Ade Zakir, yang membacakan sambutan Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Bandung Barat, menyebut perubahan itu membutuhkan peningkatan kapasitas kader sekaligus kolaborasi lintas sektor.
“Kader diharapkan tidak hanya memahami pelayanan dasar, tetapi juga mampu menjadi penggerak masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan partisipasi masyarakat untuk datang ke Posyandu setiap bulan. Tingkat kunjungan bayi dan balita masih menjadi salah satu indikator dalam Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Semakin tinggi tingkat kehadiran masyarakat, semakin besar peluang mendeteksi persoalan gizi dan tumbuh kembang anak sejak dini.

Pandangan tersebut diperkuat Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bandung Barat, Dudi Supriadi, dalam sesi dialog bertema Kader Sejahtera, Masyarakat Bahagia. Menurutnya, transformasi Posyandu merupakan bagian dari perubahan tata kelola pelayanan publik yang berlangsung secara nasional.
Dudi mengungkapkan bahwa Kabupaten Bandung Barat memiliki sekitar 2.352 Posyandu yang tersebar di 165 desa pada 16 kecamatan. Jaringan sebesar itu menjadi modal sosial yang sangat berharga apabila dikelola secara baik.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan efisiensi anggaran yang berdampak pada kemampuan keuangan desa. Kendati demikian, bantuan operasional bagi Posyandu tetap dialokasikan agar pelayanan kepada masyarakat tidak mengalami penurunan kualitas.
Ia mengingatkan para kepala desa agar tetap memberikan perhatian terhadap keberadaan Posyandu melalui regulasi desa, pembinaan, maupun dukungan terhadap kesejahteraan kader sesuai kemampuan anggaran masing-masing.

“Generasi sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045 dimulai dari Posyandu. Karena itu seluruh pihak harus menjaga keberlanjutan pelayanan yang dilakukan para kader,” katanya.
Dalam diskusi yang sama, Kepala Desa Batujajar Barat Erfan Hariawan menjelaskan bahwa penerapan enam SPM mulai dijalankan melalui edukasi kepada perangkat desa, RT, RW, dan kader Posyandu. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat memahami bahwa Posyandu kini tidak hanya berbicara mengenai kesehatan, tetapi juga menjadi ruang koordinasi berbagai pelayanan dasar.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan operasional kepada Tim Pembina Posyandu Desa dan Posyandu se-Kecamatan Batujajar. Bantuan tersebut diharapkan mendukung aktivitas kader dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sekaligus memperkuat pelaksanaan transformasi Posyandu di tingkat desa.

Di balik rangkaian kegiatan tersebut tersimpan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Penurunan stunting memerlukan ketepatan data, peningkatan kualitas pelayanan, perubahan perilaku keluarga, serta dukungan lintas sektor yang berlangsung secara berkesinambungan. Tidak ada satu lembaga yang mampu menyelesaikannya sendiri.
Karena itu, keberadaan ratusan kader Posyandu di Batujajar menjadi aset sosial yang bernilai besar. Mereka adalah orang-orang yang mengenal kondisi warganya, memahami persoalan keluarga di lingkungannya, sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.

Apabila kapasitas kader terus diperkuat, didukung kebijakan yang konsisten, serta diiringi kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Posyandu akan berkembang menjadi pusat pelayanan masyarakat yang jauh lebih utuh. Dari ruang sederhana di tingkat desa itulah fondasi pembangunan manusia dibangun bukan hanya untuk menurunkan angka stunting, melainkan juga menyiapkan generasi Bandung Barat yang lebih sehat, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Reporter : Komala Sari