Jurnalis9.com Cihampelas, 7 Juli 2026 Upaya menekan angka stunting di Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, menghadapi tantangan baru. Setelah sempat keluar dari status wilayah lokus stunting, data terbaru menunjukkan jumlah anak yang terindikasi stunting kembali meningkat. Kondisi itu menjadi perhatian dalam Rembuk Stunting Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Aula Desa Cipatik, Selasa, 7 Juli 2026.
Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas angka. Pemerintah desa, tenaga kesehatan, pendamping desa, hingga unsur masyarakat mencoba membaca persoalan stunting secara lebih utuh. Mereka menilai masalah ini tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kurang gizi, melainkan berkaitan erat dengan pola pengasuhan, kualitas lingkungan, sanitasi, kondisi rumah, hingga tingkat kesadaran keluarga terhadap kesehatan ibu dan anak.
Bidan Desa Cipatik, Endah Suci Danarti, Am.Keb., mengungkapkan bahwa hasil pendataan terbaru memperlihatkan adanya kenaikan jumlah anak yang mengalami stunting.
“Data sebelumnya sebanyak 115 anak, sekarang menjadi 119 anak. Karena itu kami akan melakukan penyuluhan kembali sekaligus pengukuran ulang agar kondisi setiap anak dapat dipastikan,” ujarnya.

Kenaikan tersebut memang belum menunjukkan lonjakan yang besar. Namun dalam pendekatan kesehatan masyarakat, perubahan sekecil apa pun menjadi sinyal bahwa intervensi tidak boleh berhenti. Setiap tambahan kasus berarti ada anak yang berpotensi mengalami hambatan pertumbuhan fisik maupun perkembangan kognitif apabila tidak segera ditangani.
Endah menjelaskan bahwa pencegahan dimulai sejak masa kehamilan. Pemantauan status gizi ibu dilakukan melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA), disertai pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang membutuhkan. Pendampingan juga diteruskan pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan melalui pemberian makanan tambahan kepada balita yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.
Menurutnya, penyuluhan tidak cukup diberikan kepada ibu. Peran ayah juga harus diperkuat karena pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama dalam keluarga.
Kepala Desa Cipatik, Drs. H. Asep Agus, menilai penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Ia mengatakan desa terus melakukan pemantauan setiap tahun sebagai bagian dari pelaksanaan program nasional penurunan stunting.
“Yang kami lakukan adalah berupaya dari hulu sampai hilir agar angka stunting terus berkurang dari tahun ke tahun. Pemberian makanan tambahan terus dilakukan, tetapi harus diikuti kesadaran orang tua agar bantuan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh anak yang membutuhkan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa penyebab stunting jauh lebih kompleks dibanding sekadar kekurangan makanan bergizi. Kondisi rumah yang kurang layak, sanitasi lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, hingga pola pengasuhan menjadi faktor yang saling berkaitan.
Desa Cipatik, kata Asep Agus, pernah masuk kategori lokus stunting. Berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah desa bersama tenaga kesehatan berhasil menurunkan angka kasus hingga desa tersebut tidak lagi berstatus sebagai wilayah lokus. Meski demikian, capaian itu tidak otomatis menjamin persoalan selesai. Fluktuasi jumlah kasus menunjukkan bahwa pengendalian stunting membutuhkan konsistensi yang tidak boleh terhenti setelah target administratif tercapai.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan pemerintah dalam penanganan stunting yang menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai strategi utama. Program kesehatan hanya menjadi satu bagian dari upaya yang lebih luas. Intervensi terhadap sanitasi, penyediaan air bersih, pendidikan keluarga, penanganan rumah tidak layak huni, hingga pencegahan perkawinan usia anak memiliki kontribusi yang sama pentingnya.
Dalam forum rembuk, pemerintah desa juga menekankan pentingnya peran kader Posyandu, Kader Pembangunan Manusia, Tim Pendamping Keluarga, serta para ketua RT dan RW sebagai ujung tombak edukasi di lingkungan masyarakat. Pendekatan dari rumah ke rumah dinilai lebih efektif membangun kesadaran dibanding hanya mengandalkan penyuluhan di fasilitas kesehatan.

Asep Agus bahkan membuka kemungkinan adanya pola pendampingan yang lebih terfokus terhadap anak yang mengalami stunting apabila jumlah kasus tidak menunjukkan penurunan. Gagasan tersebut diarahkan agar setiap anak memperoleh perhatian yang lebih intensif sesuai kebutuhan masing-masing.
Kenaikan angka dari 115 menjadi 119 anak memang belum dapat dijadikan ukuran kegagalan program. Sebaliknya, data itu memperlihatkan bahwa sistem pendataan dan pemantauan masih berjalan aktif sehingga perubahan kondisi di lapangan dapat segera diketahui. Dalam isu kesehatan masyarakat, kemampuan mendeteksi persoalan sejak dini justru menjadi bagian penting dari keberhasilan pengendalian.
Pada akhirnya, tantangan terbesar penurunan stunting bukan hanya menyediakan anggaran atau melaksanakan program. Tantangan yang lebih mendasar adalah membangun perubahan perilaku dalam keluarga. Selama pemenuhan gizi, pola pengasuhan, kebersihan lingkungan, dan pemeriksaan kesehatan rutin belum menjadi budaya bersama, risiko stunting akan tetap muncul. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat menjadi fondasi utama agar setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat dan mencapai potensi terbaiknya.
Reporter : Komala Sari