Jurnalis9.com Bandung Barat. Juli 2026. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 3 Parongpong tahun ajaran 2026/2027 memperlihatkan arah baru pelaksanaan orientasi peserta didik. Selama lima hari, sekolah memfokuskan kegiatan pada proses adaptasi, penguatan karakter, kesehatan, serta keselamatan siswa. Pola ini mencerminkan perubahan kebijakan pendidikan nasional yang menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran sejak hari pertama memasuki sekolah.
Kepala SMP Negeri 3 Parongpong, Nani Sulyani, mengatakan MPLS menjadi tahapan penting bagi lulusan sekolah dasar yang tengah memasuki lingkungan pendidikan dengan budaya belajar yang berbeda. Menurutnya, masa transisi tersebut memerlukan pendampingan agar peserta didik mampu mengenali lingkungan sekolah, memahami aturan, serta membangun hubungan positif dengan guru dan teman sebaya.
“Alhamdulillah dengan adanya program pemerintah, sebelum memasuki pembelajaran tahun ajaran baru kami melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dengan tema MPLS Ramah. Kami sangat bersyukur karena kegiatan ini penting bagi siswa untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, teman-teman, serta program yang akan mereka ikuti selama tiga tahun ke depan,” kata Nani saat diwawancarai.

Sebanyak sekitar 240 peserta didik baru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Setiap hari MPLS berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 12.30 WIB dan diakhiri dengan salat zuhur bersama. Waktu pelaksanaan yang konsisten dimanfaatkan sekolah untuk menyampaikan materi yang beragam tanpa membebani siswa dengan aktivitas yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan.
Materi yang diberikan tidak hanya berasal dari tenaga pendidik. SMP Negeri 3 Parongpong melibatkan kepolisian, puskesmas, dan pemerintah kecamatan sebagai mitra edukasi. Kepolisian memberikan penyuluhan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, kewaspadaan terhadap tindak kejahatan, serta pentingnya menjaga keamanan diri. Di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi remaja, materi tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan sejak dini.
Dari sektor kesehatan, puskesmas menyampaikan informasi mengenai stunting, pola hidup sehat, dan pentingnya menjaga kondisi fisik selama masa pertumbuhan. Sementara itu, pihak kecamatan memperkenalkan program Generasi Sehat yang diarahkan untuk membangun kesadaran peserta didik mengenai pentingnya kesehatan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.

Nani menilai pendekatan kolaboratif tersebut membuat MPLS memiliki nilai yang lebih luas dibandingkan sekadar pengenalan ruang kelas atau tata tertib sekolah. Siswa memperoleh bekal mengenai berbagai persoalan yang akan mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
“Anak-anak sangat antusias. Di sekolah dasar jumlah guru lebih sedikit, sedangkan di SMP mereka bertemu lebih banyak guru dan program pembelajaran yang juga lebih beragam. Kami melihat kegiatan ini membantu mereka mengenal lingkungan sekolah dengan lebih baik,” ujarnya.
Pelaksanaan MPLS tahun ini juga menandai semakin kuatnya perubahan paradigma orientasi peserta didik di Indonesia. Praktik perpeloncoan yang dahulu identik dengan masa orientasi kini tidak lagi mendapat ruang dalam penyelenggaraan kegiatan sekolah. Regulasi pemerintah menegaskan bahwa MPLS harus berlangsung aman, inklusif, menyenangkan, serta bebas dari kekerasan maupun tindakan yang merendahkan martabat peserta didik.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa orientasi siswa tidak lagi dipahami sebagai proses menguji ketahanan mental melalui tekanan atau hukuman. Fokusnya bergeser pada pembentukan karakter, pengenalan budaya sekolah, dan pembangunan rasa percaya diri. Pergeseran ini penting karena pengalaman pada hari-hari pertama di sekolah sering kali memengaruhi cara siswa memandang lingkungan belajar selama bertahun-tahun.
Nani menegaskan sekolahnya telah meninggalkan pola lama tersebut. Menurut dia, seluruh aktivitas dirancang agar memberikan pengalaman yang positif bagi peserta didik.
“Sekarang sudah tidak ada perpeloncoan. Membawa atribut yang aneh-aneh juga tidak diperbolehkan. Kami lebih mengarahkan kegiatan kepada program yang mendidik, seperti mencintai lingkungan dan pemilahan sampah,” katanya.
Pendekatan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu disampaikan melalui teori. Pembiasaan menjaga kebersihan, menghargai sesama, memahami kesehatan, serta mengenali risiko penyalahgunaan narkoba menjadi bagian dari proses pembelajaran yang diterapkan sejak hari pertama siswa memasuki sekolah.

Di sisi lain, keterlibatan berbagai instansi memperlihatkan bahwa pendidikan tidak dapat dipikul sekolah sendirian. Kepolisian, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah memiliki peran melengkapi wawasan peserta didik agar mampu menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks. Sinergi tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kualitas pelaksanaan MPLS.
Pada akhirnya, keberhasilan MPLS tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari, melainkan dari seberapa cepat siswa mampu beradaptasi, merasa aman, dan memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti proses pembelajaran. Ketika orientasi sekolah diisi dengan edukasi yang relevan, penghormatan terhadap hak peserta didik, serta penguatan karakter, sekolah sedang membangun fondasi penting bagi iklim belajar yang sehat. Itulah esensi perubahan MPLS saat ini: menghadirkan ruang pendidikan yang lebih manusiawi, sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan dengan pengetahuan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Reporter : A.Wana