Ketika Prabu Siliwangi Berpindah ke Atas Kain
Poppy Sri Hendriani tidak memulai Batik Gending Amarta dengan ambisi membuat kain yang sekadar indah dipandang. Sejak 2017, ia memilih jalan yang lebih panjang: menjadikan batik sebagai ruang untuk menulis ulang ingatan tentang Indonesia.
Motif bagi Poppy bukan hanya persoalan garis dan warna. Di baliknya ada cerita yang ingin dipertahankan. Karena itu, legenda Nusantara menjadi sumber utama gagasan kreatifnya, terutama kisah-kisah yang tumbuh dari Jawa Barat.

Prabu Siliwangi menjadi salah satu tokoh yang kemudian ia pindahkan dari cerita sejarah dan tradisi lisan ke atas kain. Figur yang mempunyai tempat kuat dalam ingatan masyarakat Jawa Barat itu diterjemahkan menjadi batik tulis, busana, dan karya visual yang dapat dikenakan sekaligus dibaca sebagai narasi budaya.
Di titik itu, Gending Amarta menemukan identitasnya.
Poppy memproduksi batik cap, batik tulis, busana batik, hingga lukisan batik tulis. Namun, yang membedakan produknya bukan semata teknik produksi. Ia mencoba menawarkan alasan kepada konsumen untuk mengenakan batik: ada cerita yang ikut dibawa bersama kain tersebut.

Pendekatan itu juga menuntut Poppy untuk memahami kembali apa yang ia gambar. Ia tidak cukup mengambil bentuk Prabu Siliwangi lalu menjadikannya motif. Filosofi cerita harus diterjemahkan ke dalam karya agar batik mempunyai hubungan dengan sejarah dan kebudayaan yang menjadi sumber inspirasinya.
Gagasan tersebut pernah diuji dalam sebuah perlombaan di Kantor BRIN Pusat Jakarta. Poppy membuat karya di hadapan enam juri. Salah satunya adalah Sandiaga Salahuddin Uno.
Sebuah pertanyaan kemudian muncul: apa yang membedakan batik Gending Amarta dari batik lain di Indonesia?

- Jawaban Poppy bertumpu pada satu kata: legenda*
Ia memilih cerita-cerita Indonesia sebagai nilai tawar produk, dengan perhatian khusus pada legenda Jawa Barat. Strategi itu membuat batik tidak hanya diposisikan sebagai komoditas fesyen, tetapi juga sebagai produk budaya yang mempunyai narasi.

Gagasan tersebut membawanya memperoleh penghargaan dalam program INOTEK Foundation atau Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia, lembaga inkubator bisnis nirlaba yang didirikan Sandiaga Salahuddin Uno bersama Arief Surowidjojo pada 17 Januari 2008. Poppy masuk dalam jajaran lima UMKM terbaik. Ia juga memperoleh sejumlah penghargaan dari BRIN.
Pencapaian itu tidak membuatnya berhenti. Justru sebaliknya. Penghargaan, bagi Poppy, menjadi alasan untuk menciptakan desain baru dan memperluas kemungkinan batik.

*Di sinilah cerita Gending Amarta bergerak dari produk menuju pemberdayaan*
Poppy mengajak anak-anak muda mempelajari batik. Anak-anak dari sekolah luar biasa juga diberi ruang untuk ikut membatik. Ia ingin keterampilan tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun kemandirian dan membuka kemungkinan memperoleh penghasilan.

Pilihan itu menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi tidak selalu harus dibicarakan dalam bahasa museum atau ruang kebudayaan. Tradisi dapat diwariskan melalui keterampilan yang menghasilkan nilai ekonomi.

- Batik, dalam kerangka Poppy, menjadi titik temu antara kebudayaan dan pekerjaan*
Produk Gending Amarta kemudian bergerak ke pasar yang lebih luas. Selain dipasarkan di berbagai daerah Indonesia, produk tersebut telah mencapai Korea Selatan. Bagi Poppy, pasar luar negeri bukan hanya persoalan ekspor. Ia menjadi pengujian apakah cerita yang berasal dari Jawa Barat dapat dipahami dan diterima ketika keluar dari lingkungan budayanya sendiri.

- Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memperbesar pasar tersebut*
Poppy berharap pemerintah memberikan dukungan yang lebih kuat kepada UMKM, terutama dalam pemasaran. Ia melihat banyak pelaku usaha kecil mempunyai kemampuan berinovasi, tetapi tidak semuanya memiliki akses yang sama untuk membawa produknya ke pasar nasional dan internasional.

Ada kepentingan yang lebih besar di balik permintaan itu. Poppy ingin karya batik berbasis legenda Jawa Barat tidak berhenti sebagai produk UMKM miliknya. Ia ingin karya tersebut memperoleh ruang sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya daerah.
Poppy memahami bahwa pasar mempunyai logikanya sendiri. Konsumen membutuhkan desain yang menarik, produk yang berkualitas, dan cerita yang mudah dikenali. Karena itu, mempertahankan tradisi tanpa inovasi justru dapat membuat batik kehilangan daya hidupnya.
Ia memilih sebaliknya: mempertahankan cerita, tetapi mengubah cara cerita itu hadir.

Panggung yang Mempertemukan Budaya dan Pasar
Gagasan tersebut menemukan ruang tampil dalam Kembang Nusa 2026 dan Culture Preneur Festival 2026 di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat, 2 Oktober 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Trisindo by Sinergi bersama Bandung Preneur Squad itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional. Pameran berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 dengan menghadirkan produk batik, wastra, kerajinan, fesyen, dan kuliner Nusantara.

Sejumlah pejabat dan tokoh hadir, antara lain Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung Aditya Yanuarsah, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Bidang Ekonomi Kreatif Kota Bandung Faisal Tachir, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung H. Dindin Syahidin, serta Ketua Bandung Preneur Squad Hani Handayani bersama jajaran pengurus.
Poppy hadir sebagai Founder Batik Gending Amarta sekaligus desainer yang membawa tema legenda Jawa Barat ke panggung fesyen. Karya bertema Prabu Siliwangi diperagakan melalui busana yang dikenakan model dari berbagai kelompok usia.

Panggung itu memperlihatkan satu persoalan yang sering dihadapi produk berbasis tradisi: bagaimana menjaga identitas tanpa membuatnya terasa usang.
Gending Amarta menjawabnya melalui busana. Motif tradisional dipertahankan, sementara bentuk pakaian disesuaikan dengan selera masa kini.
Di arena yang sama, pengunjung dapat melihat batik dari Solo, Cirebon, dan Pekalongan, kain songket, kerajinan tangan, aksesori fesyen, serta berbagai produk kreatif lainnya. Nuansa Sunda diperkuat melalui rampak gendang, penari tradisional, dan Lengser.

Hani Handayani menempatkan kegiatan tersebut sebagai ruang kolaborasi antara kebudayaan dan kewirausahaan. Aditya Yanuarsah melihat keberadaan pelaku UMKM kreatif sebagai bagian dari kekuatan ekonomi yang bertumpu pada identitas budaya.
Bagi Poppy, panggung itu memberi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa cerita lokal dapat memiliki nilai ekonomi ketika dikemas dengan strategi yang tepat.

Pada akhirnya, kekuatan Gending Amarta tidak hanya terletak pada seberapa rumit sebuah motif dibuat. Nilainya berada pada kemampuan Poppy mempertahankan cerita di tengah tuntutan pasar yang terus berubah.
Ia memilih kain sebagai medianya. Prabu Siliwangi menjadi salah satu ceritanya. Anak muda dan penyandang disabilitas menjadi bagian dari proses pemberdayaannya. Pasar Korea Selatan menjadi salah satu bukti bahwa produknya dapat bergerak lebih jauh.
Dari sana, Poppy seperti sedang mengajukan satu tesis sederhana: warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan. Ia harus terus dikerjakan, diproduksi, dipasarkan, dan diberi kesempatan untuk menemukan generasi baru.

Gending Amarta adalah upaya Poppy untuk melakukan itu yaitu dengan menulis legenda di atas kain, lalu membawanya berjalan mengikuti zaman.
Reporter : Komala