Jurnalis9.com Bandung, 2 April 2026. Sebuah pertemuan komunitas yang berlangsung di Jalan Tasikmalaya 2, Kota Bandung, Kamis siang, menjadi titik awal pembicaraan serius tentang rencana produksi film Aing Kabayan. Agenda yang semula dikemas sebagai silaturahmi ini berkembang menjadi ruang diskusi lintas pelaku seni, budaya, dan komunitas, dengan fokus pada strategi produksi sekaligus perluasan makna film sebagai medium sosial.
Pertemuan yang dimulai pukul 13.30 WIB itu dihadiri sekitar 17 orang, dengan latar belakang beragam. Di antaranya Agus sebagai pemerhati pendidikan, Mang Koko sebagai artis senior, Wawan selaku Ketua Komunitas Koes Plus Bandung, Sofyan sebagai bendahara komunitas, Abah Pandi dari unsur budaya, Deny Suherman dari LSM, Tana sebagai aktor dan sutradara muda Bandung, serta Chandra Gautama yang bertindak sebagai penulis dan sutradara film.
Dalam forum tersebut, Chandra Gautama menegaskan bahwa proyek Aing Kabayan tidak semata dimaknai sebagai produksi hiburan, melainkan juga sebagai instrumen representasi daerah. Ia menyebut, film ini dirancang untuk membawa narasi lokal Jawa Barat ke ruang publik yang lebih luas.

“Ini adalah momen yang bagus, termasuk jika Gubernur Jawa Barat bisa ikut terlibat sebagai pemain. Film ini bisa menjadi cara memperlihatkan program-program pemerintah kepada masyarakat melalui tontonan,” ujar Chandra dalam forum diskusi.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya upaya mengaitkan produksi film dengan dimensi kebijakan publik. Dalam konteks ini, film tidak hanya diposisikan sebagai karya seni, tetapi juga sebagai medium komunikasi pembangunan. Meski demikian, gagasan tersebut masih berada pada tahap wacana dan memerlukan kajian lebih lanjut terkait relevansi serta batas antara ekspresi artistik dan representasi kebijakan.
Di sisi lain, diskusi juga berkembang pada proyek lain yang beririsan, yakni rencana pembuatan film semi-dokumenter musikal bertajuk The Best of Koes Plus. Wawan, Ketua Komunitas Koes Plus Bandung, mengungkapkan bahwa gagasan tersebut telah lama menjadi aspirasi komunitas.

“Saya sejak lama punya keinginan agar band legendaris ini dibuatkan film, supaya masyarakat tahu bahwa di Indonesia ada band yang konsisten dengan lagu-lagu sederhana dan mencintai tanah air,” ujar Wawan.
Ia menambahkan, Koes Plus memiliki katalog lagu yang sangat luas, mencapai sekitar 1.500 lagu dengan beragam genre, mulai dari keroncong, melayu, pop, hingga lagu anak-anak. Bagi komunitas, angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi menjadi penanda kontribusi budaya yang belum sepenuhnya terdokumentasikan secara audiovisual.
Pertemuan dengan Chandra Gautama, yang juga mengaku sebagai penggemar Koes Plus, memperkuat inisiatif tersebut. Chandra bahkan disebut telah lebih dahulu menggagas konsep film tentang band legendaris itu. Dalam rencana awal, ia akan bertindak sebagai penulis skenario sekaligus sutradara.

Secara struktural, munculnya dua proyek film dalam satu forum mencerminkan dinamika komunitas budaya di tingkat lokal yang mencoba bergerak dari sekadar konsumsi karya menuju produksi. Hal ini juga menunjukkan adanya pergeseran peran komunitas—dari penggemar menjadi aktor kreatif.
Rencana konkret terdekat adalah penyelenggaraan pertemuan lanjutan pada 25 April 2026 yang akan melibatkan komunitas Koes Plus dari berbagai daerah di Jawa Barat dan luar provinsi. Dalam agenda tersebut, Chandra Gautama dijadwalkan memaparkan konsep film secara lebih rinci, termasuk keterkaitannya dengan jaringan komunitas nasional. Pihak penyelenggara juga berencana mengundang perwakilan keluarga Koes Plus.
Selain aspek produksi, diskusi juga menyinggung keterlibatan aktor dan budayawan dalam proyek Aing Kabayan. Nama Abah Pandi dan Deny Suherman disebut akan berperan dalam film tersebut, bersama Mang Koko sebagai aktor senior dan Tana sebagai representasi generasi muda perfilman Bandung.
Keterlibatan lintas generasi ini menjadi salah satu indikator bahwa proyek tersebut berupaya menjembatani pengalaman dan perspektif berbeda dalam satu produksi. Namun, efektivitas kolaborasi tersebut akan sangat bergantung pada konsolidasi peran dan kejelasan konsep artistik.
Secara sosial-budaya, figur Kabayan sendiri memiliki posisi penting dalam khazanah budaya Sunda. Karakter ini kerap digunakan sebagai medium kritik sosial yang ringan namun reflektif. Dengan demikian, adaptasi ke dalam film modern berpotensi membuka ruang reinterpretasi terhadap nilai-nilai lokal di tengah perubahan sosial.
Sementara itu, dari sisi ekonomi kreatif, inisiatif ini mencerminkan upaya komunitas untuk masuk ke dalam ekosistem industri film yang lebih luas. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait pendanaan, tetapi juga distribusi, pemasaran, dan keberlanjutan produksi.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama di tengah rintik hujan, yang oleh peserta dimaknai sebagai simbol harapan atas kelancaran dua proyek film tersebut. Meski masih dalam tahap awal, forum ini menunjukkan adanya konsolidasi niat dan gagasan yang, jika dikelola secara sistematis, berpotensi berkembang menjadi produksi yang lebih konkret.
Di tengah dinamika industri kreatif yang semakin kompetitif, inisiatif berbasis komunitas seperti ini memperlihatkan bahwa produksi budaya tidak selalu berangkat dari institusi besar. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap akan ditentukan oleh kapasitas manajerial, kedalaman riset, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas industri.
Reporter : Komala Sari