Program “Mba Maya” Dorong UMKM Cililin Naik Kelas Lewat Pelatihan Digital dan Penguatan Usaha

Jurnalis9.com Cililin, 17 April 2026. Upaya mendorong pelaku usaha mikro agar semakin berdaya terus dilakukan melalui Program “Mba Maya” (Membina dan Memberdaya) 2026 yang digelar di Aula Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (17/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas usaha bagi nasabah PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dengan dukungan berbagai pihak, antara lain Danantara Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD).

Sebanyak 35 anggota nasabah PNM Unit 2 Cililin mengikuti kegiatan tersebut. Peserta memperoleh pembekalan mengenai transformasi digital, branding, hingga strategi memperluas pasar melalui platform perdagangan elektronik atau e-commerce.

Penanggung jawab kegiatan, Abdul Rohman, mengatakan pelatihan tersebut merupakan agenda rutin yang dijalankan PNM melalui program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU). Program itu dirancang agar nasabah tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan usaha secara berkelanjutan.

“Setiap nasabah PNM selalu diarahkan untuk mendapatkan materi PKU. Contoh materi yang saat ini disampaikan adalah terkait pengembangan usaha, misalnya bagaimana caranya nasabah bisa berjualan secara online, bukan hanya sekadar offline saja,” ujar Abdul Rohman.

Menurut dia, jumlah peserta sengaja dibatasi agar pelatihan berlangsung lebih efektif dan interaktif. “Saat ini peserta kami batasi sebanyak 35 orang. Kalau tidak dibatasi, mungkin 100 orang pun bisa saja hadir,” katanya.

Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada konsep dasar e-commerce. Materi yang diberikan antara lain mengenali pasar digital, memanfaatkan aplikasi penjualan daring, menyusun deskripsi produk yang tepat, hingga membuat foto produk yang menarik.

Peserta juga diajak memahami bahwa pasar kini tidak hanya berada di toko fisik, melainkan juga berada di gawai konsumen. Sejumlah contoh platform digital yang diperkenalkan antara lain marketplace dan layanan pesan antar makanan yang telah akrab digunakan masyarakat.

Selain itu, pelaku usaha diberi panduan membuat judul produk yang mudah ditemukan calon pembeli, menjelaskan bahan baku dan ukuran produk secara rinci, serta menentukan harga yang kompetitif. Dalam pemasaran digital, kualitas visual juga menjadi perhatian. Karena itu, peserta dilatih memotret produk dengan pencahayaan cukup, latar bersih, dan sudut pengambilan gambar yang menarik.

Abdul Rohman menilai pendampingan semacam itu telah memberi dampak nyata terhadap perkembangan usaha para nasabah. Sejumlah pelaku usaha mikro yang semula menjalankan usaha rumahan sederhana kini mulai berkembang dan membentuk usaha bersama.

“Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan PKU ini, banyak nasabah kami yang naik kelas. Awalnya mungkin usahanya hanya sekadar warung atau jualan olahan sederhana, tetapi dengan adanya PKU mereka memiliki motivasi serta wawasan yang lebih luas,” ujarnya.

Ia mencontohkan kelompok nasabah di wilayah Lembang yang mengembangkan budidaya cacing. Usaha itu lahir dari pemanfaatan potensi lokal di kawasan pertanian dan peternakan.

“Sebelumnya limbah ternak belum dimanfaatkan. Namun dengan adanya PKU, satu kelompok tersebut bisa memanfaatkan kotoran sapi menjadi media untuk ternak cacing,” kata dia.
Model usaha berbasis potensi daerah semacam itu dinilai penting karena dapat menekan biaya produksi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Selain PKU, PNM juga rutin menggelar Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) dan PKU Akbar yang dilaksanakan setahun sekali. Rangkaian kegiatan itu menjadi sarana edukasi, evaluasi usaha, sekaligus memperkuat jejaring antarpelaku UMKM.

Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang terbesar bagi usaha mikro. Banyak pelaku usaha memiliki produk yang baik, namun belum optimal dalam pengemasan, promosi, dan akses pasar. Karena itu, pelatihan yang praktis dan mudah diterapkan dinilai penting agar pelaku UMKM dapat menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen.

Abdul Rohman berharap program pendampingan tersebut dapat terus memperluas manfaat bagi masyarakat. “Harapan dari kami tentu jelas, yaitu menjadikan nasabah kami bisa berkembang dengan baik, naik kelas, dan jumlah nasabah semakin banyak,” ujarnya.
Ia menambahkan, usaha yang berkembang dan stabil juga akan berdampak pada kemampuan pelaku usaha memenuhi kewajiban pembiayaan secara sehat dan berkelanjutan.

Melalui pelatihan yang menyentuh kebutuhan riil pelaku usaha, Program “Mba Maya” diharapkan menjadi ruang belajar yang mendorong UMKM lokal tumbuh lebih tangguh, adaptif, dan mampu bersaing di pasar yang semakin terbuka.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....