Menyiapkan Tim Khusus, Dinkes Bandung Barat Kawal Jemaah Lansia dan Disabilitas hingga Indramayu

Jurnalis9.com Bandung Barat, 13 Mei 2026. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, dr. Lia N. Sukandar, memastikan kesiapan penuh jajarannya dalam mendukung pemberangkatan jemaah haji Kloter 29 tahun 2026. Tidak sekadar memeriksa kesehatan di awal, Dinkes bahkan mengawal hingga jemaah tiba di Asrama Haji Indramayu.
“Dinas kesehatan bertugas mengawal dari mulai pemeriksaan kesehatan jemaah haji sampai nanti keluar lolos sehat tidaknya,” ujar Lia di sela-sela pelepasan jemaah di Masjid Ash Shiddiq.

Ia menjelaskan, pengawalan dilakukan dengan menurunkan dua tim medis yang dilengkapi perlengkapan lengkap. Kedua tim tersebut akan berangkat langsung ke Indramayu dan menginap di sana hingga jemaah haji diserahterimakan kepada petugas embarkasi.

Sejumlah tenaga kesehatan turut diberangkatkan menyertai perjalanan jemaah. “Kami menurunkan dari dinas kesehatan ada tenaga haji TPHD yang bertugas ada dua orang untuk umum dan kesehatan. Kemudian TKHI, petugas dari kementerian kesehatan tapi dari kita, ada tiga orang yang berangkat,” jelas Lia.

Adapun petugas TKHI yang diberangkatkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat untuk Kloter 29 ini terdiri atas empat orang tenaga medis dari tiga rumah sakit daerah: Feti dari RSUD Cililin, Egi dari RSUD Lembang, serta Doni dan Gugun dari RSUD Cikawet.

Sementara itu, petugas TPHD yang bertugas mendampingi jemaah berasal dari dua orang, yakni Bu Aah dan Mas Waris. Keseluruhan petugas tersebut telah menjalani pembekalan khusus dan siap mendampingi jemaah sejak keberangkatan dari Bandung Barat hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

TPHD atau Tim Pembimbing Haji Daerah bertugas mendampingi jemaah asal daerah masing-masing di Tanah Suci, sementara TKHI atau Tim Kesehatan Haji Indonesia bertanggung jawab pada layanan medis selama di Arab Saudi. Keberadaan kedua jenis petugas ini menjadi krusial mengingat data dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menunjukkan sekitar 73 persen jemaah lansia memiliki riwayat penyakit komorbid. Pemerintah sendiri telah menetapkan tema penyelenggaraan haji tahun 2026 sebagai “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”

Meski demikian, Lia mengakui bahwa data jumlah jemaah disabilitas dari Bandung Barat yang berangkat tahun ini belum dapat dirincikan. “Untuk jumlah dan sebagainya, saat ini kami, saya pribadi belum menerima data. Tapi insyaallah nanti saya susulkan,” katanya.

Meskipun datanya belum final, ia menegaskan bahwa jemaah lanjut usia dan disabilitas menjadi prioritas utama penanganan. “Penanganan yang lanjut usia, yang disabilitas tentunya dia menjadi prioritas. Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita di sana,” tegasnya.

Dari sisi proporsi jumlah tenaga medis, Lia menilai formasi yang tersedia sudah cukup berbanding lurus dengan jumlah jemaah. Saat ini, Dinkes KBB memberangkatkan lima tenaga kesehatan untuk mendampingi 89 jemaah yang tergabung dalam Kloter KJT 29 bersama jemaah dari Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Sumedang.
“Karena saat ini kloternya hanya sedikit, jumlahnya cukup,” ujarnya.

Lia juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan pemberangkatan tahun ini yang dinilai lebih tertib dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Luar biasa bagus, pemberangkatan dari pemerintah Kabupaten Bandung Barat lebih tertib, lumayan luar biasa,” tuturnya.

Penilaian positif itu disampaikan berdasarkan pengalaman Lia yang pernah bertugas sebagai petugas haji. Menurutnya, skema pengawalan yang diterapkan tahun ini mencerminkan keseriusan daerah dalam melayani jemaah, terutama kelompok rentan.

Sebagai bentuk dukungan lanjutan, Pemkab Bandung Barat melalui Dinkes juga rutin menjalankan program pendampingan kesehatan bagi jemaah yang memiliki kebutuhan khusus. Ini menjadi bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah yang menuntut pelayanan kesehatan yang terukur dan berkeadilan bagi seluruh jemaah tanpa terkecuali.

Tak hanya untuk jemaah haji, Dinkes KBB di bawah kepemimpinan Lia juga dikenal aktif dalam berbagai program kesehatan masyarakat lainnya, mulai dari penanganan kasus disabilitas dan pemberian bantuan makan bergizi gratis di tingkat kecamatan, hingga pengendalian wabah penyakit di berbagai wilayah termasuk pengendalian populasi nyamuk di kawasan Waduk Saguling yang dilakukan beberapa waktu lalu sebagai langkah preventif menjelang musim haji.

Dengan skema pengawalan yang terstruktur, dukungan penuh dari berbagai pihak, serta komitmen yang kuat dari unsur pimpinan daerah, Dinkes Kabupaten Bandung Barat berharap seluruh jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan aman, lancar, dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat walafiat.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....