Daster, Gol, dan Adu Penalti: Begini Serunya Ibu-Ibu se-Lembang Berebut Juara Futsal

Jurnalis9.com Lembang, 8 Agustus 2026 Lapangan Futsal Fahmi Jaya, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi tempat 20 tim futsal ibu-ibu dari berbagai desa bertanding dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Turnamen yang baru pertama kali dilaksanakan itu memperlihatkan tingginya minat peserta. Panitia mencatat 45 tim mendaftarkan diri. Namun, hanya 20 tim yang dapat mengikuti pertandingan karena keterbatasan waktu pelaksanaan yang berlangsung satu hari. Sebanyak 25 tim lainnya harus dianulir dari daftar peserta.

Ketua TP PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati mengatakan jumlah pendaftar jauh melampaui perkiraan awal panitia. Kegiatan yang semula dirancang sebagai hiburan bagi kader PKK justru mendapat respons besar dari masyarakat dan peserta.
“Alhamdulillah sekali ternyata antusias dari para kader kami, bahkan masyarakat pun sangat antusias. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan secara per tim,” kata Maya.

Konsep pertandingan memang berbeda dari kompetisi futsal pada umumnya. Peserta diwajibkan tampil dengan daster dan diarahkan untuk membawa suasana pertandingan yang ringan. Ketentuan itu sejak awal tercantum dalam undangan panitia yang menyebut kegiatan sebagai olahraga untuk bersenang-senang, dengan tetap menempatkan sportivitas sebagai prinsip utama.

Di luar lapangan, dukungan penonton ikut menjadi bagian dari suasana pertandingan. Panitia bahkan menyediakan penghargaan untuk sejumlah kategori nonkompetitif, seperti kostum terbaik dan suporter teladan. Ada pula penghargaan untuk pemain terbaik dan kategori hiburan lainnya.

Camat Lembang Bambang Eko mengatakan kegiatan tersebut dibuat untuk memberi ruang rekreasi bagi para kader yang selama ini banyak berkutat dengan pekerjaan administratif dan target program.

“Selama ini kan para kader, para ibu-ibu, tegang, bergelut dengan data, bergelut dengan target. Semuanya dituntut untuk bagus. Tapi hari ini kita bebaskan,” kata Bambang.

Pernyataan tersebut memperlihatkan fungsi lain dari kegiatan olahraga tingkat kecamatan. Pertandingan menjadi ruang perjumpaan antarwarga yang selama ini beraktivitas dalam wilayah desa masing-masing. Futsal digunakan sebagai media untuk mempertemukan mereka dalam suasana yang lebih cair.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pemberian kursi roda kepada warga Desa Wangunsari oleh Camat Lembang dan Ketua TP PKK Kecamatan Lembang. Bantuan tersebut diberikan pada bagian awal kegiatan sebelum pertandingan berlangsung.

Persaingan di lapangan kemudian menghasilkan empat besar. Desa Langensari berhasil mengalahkan Desa Pagerwangi dengan skor 2-1 untuk menempati posisi ketiga. Sementara perebutan gelar juara mempertemukan Wangunsari dengan Sukajaya.

Pertandingan final berlangsung tanpa gol hingga waktu pertandingan berakhir. Penentuan pemenang harus dilakukan melalui adu penalti. Sukajaya akhirnya menang 2-0 setelah dua eksekusi Wangunsari berhasil digagalkan penjaga gawang, sedangkan dua tendangan Sukajaya masuk ke gawang.

Hasil tersebut menempatkan Sukajaya sebagai juara pertama, Wangunsari juara kedua, Langensari juara ketiga, dan Pagerwangi juara keempat.

Keberhasilan Sukajaya juga memperlihatkan bahwa persiapan panjang bukan satu-satunya faktor dalam pertandingan tingkat komunitas. Ketua TP PKK Desa Sukajaya Mia Sutejawati mengatakan timnya hanya berlatih satu kali sebelum pertandingan dan belum seluruh pemain dapat mengikuti latihan.

“Acara itu dadakan sekali. Mereka itu hanya berlatih satu kali, itu pun tidak komplit personilnya,” kata Mia.

Mia berharap hasil tersebut mendorong para pemain untuk mempertahankan tim dan mulai melakukan latihan secara rutin.

Di kubu Wangunsari, posisi runner-up juga dinilai sebagai hasil yang menunjukkan potensi olahraga perempuan di tingkat desa. Ketua TP PKK Desa Wangunsari Novianti mengatakan ibu-ibu PKK memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan di luar aktivitas administrasi.

“Kalau digali lagi, ibu-ibu PKK itu tidak hanya mahir dalam administrasi, tetapi bisa dalam olahraga,” kata Novianti.

Tantangan berikutnya justru terletak setelah pertandingan selesai. Antusiasme yang menghasilkan 45 pendaftar perlu diterjemahkan menjadi kegiatan olahraga yang lebih teratur jika ingin berkembang menjadi tradisi. Jumlah peserta yang harus dikurangi karena keterbatasan waktu juga menjadi catatan bagi penyelenggara untuk memperbaiki format apabila kegiatan serupa kembali dilakukan.

Maya Ekawati berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya. Ia juga berharap keberlanjutan tidak bergantung pada siapa yang sedang memimpin Kecamatan Lembang.

“Setelah saya dan Bapak sudah tidak lagi atau purna tugas di Kecamatan Lembang, ada yang melanjutkan,” kata Maya.

Pada akhirnya, lomba futsal ibu-ibu ini memperlihatkan dua sisi yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, olahraga menjadi sarana hiburan dan pertemuan sosial. Di sisi lain, tingginya jumlah pendaftar menunjukkan adanya ruang yang dapat dikembangkan untuk pembinaan olahraga perempuan di tingkat desa.

Jika kegiatan ini ingin bertahan, ukurannya tidak cukup dari siapa yang membawa pulang piala. Pembinaan pemain, latihan rutin, akses lapangan, format pertandingan yang lebih tertata, serta kesempatan bagi lebih banyak desa untuk berpartisipasi akan menentukan apakah kegiatan perdana tersebut dapat berkembang menjadi tradisi olahraga masyarakat di Lembang.

Pesan yang dibawa panitia—“dari desa, oleh desa, untuk desa”—pada akhirnya menempatkan keberlanjutan kegiatan pada partisipasi masyarakat sendiri. Kompetisi selesai ketika pertandingan berakhir, tetapi kebiasaan berolahraga dan kebersamaan antarwarga hanya akan bertahan jika terus dirawat setelah piala disimpan.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....