Milangkala ke-176 Cigugurgirang: Merawat Desa, Menjaga Manfaat untuk Generasi

Jurnalis9.com Cigugurgirang, 23 Agustus 2026 Lapangan Ateja, Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dipenuhi warga pada 22-23 Agustus 2026. Milangkala ke-176 desa tersebut dirangkai dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, kegiatan keagamaan, olahraga, kesenian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Perayaan itu menjadi gambaran bagaimana sebuah desa mempertahankan tradisi sekaligus membuka ruang bagi kegiatan ekonomi warga. Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah berjualan makanan, minuman, pakaian, serta berbagai kebutuhan masyarakat. Arena permainan anak dan hiburan rakyat turut membuat lapangan menjadi pusat aktivitas warga selama kegiatan berlangsung.

Kepala Desa Cigugurgirang Priana mengatakan rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 1 Muharam. Berbagai agenda disiapkan, antara lain lomba keagamaan, karnaval, pesta seni, lomba tumpeng, olahraga, serta kegiatan masyarakat lainnya.

“Ini juga sebagai ajang silaturahmi untuk seluruh warga, juga menggali potensi yang ada di wilayah dan sebagai bentuk dukungan dari warga masyarakat, kecintaannya terhadap Desa Cigugurgirang,” kata Priana.

Yang menarik dari perayaan tersebut adalah tema yang dipilih pemerintah desa, yakni “Lamun urang ngarawat pasti mere manfaat”. Ungkapan Sunda itu membawa pesan sederhana: sesuatu yang dirawat dengan baik akan memberikan manfaat. Dalam konteks desa, pesan itu dapat dibaca sebagai ajakan untuk menjaga lingkungan, kebudayaan, hubungan sosial, dan potensi ekonomi masyarakat.

Priana menekankan pentingnya merawat alam dan seni agar manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi. “Segala sesuatu yang kita rawat, baik alam maupun seni, insyaallah ke depannya memberikan manfaat untuk kita dan anak cucu kita,” ujarnya.

Pesan tersebut relevan dengan kondisi desa yang memiliki aktivitas ekonomi dan sosial yang terus berkembang. Pertumbuhan ekonomi lokal tidak cukup hanya ditopang transaksi selama kegiatan berlangsung. UMKM membutuhkan pasar yang berkelanjutan, sementara potensi budaya membutuhkan ruang agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.

Karena itu, kehadiran puluhan UMKM di Lapangan Ateja menjadi bagian penting dalam perayaan. Warga tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga mengambil peran sebagai pelaku ekonomi. Produk lokal mendapat ruang untuk diperkenalkan langsung kepada masyarakat.

Di sisi lain, kesenian tradisional tetap ditempatkan dalam rangkaian acara. Puncak kegiatan diisi dengan pertunjukan wayang golek. Kehadiran seni tradisional tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Cigugurgirang.

Camat Parongpong Agus Ganjar melihat tingginya keterlibatan warga sebagai hasil kerja sama antara pemerintah desa dan masyarakat. Ia mengapresiasi antusiasme warga yang datang dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.

“Saya sebagai camat mengucapkan selamat kepada Pemerintah Desa Cigugurgirang bersama warga masyarakat. Mudah-mudahan Desa Cigugurgirang semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, dan pemerintahan desanya semakin amanah,” kata Agus.

Menurut Agus, kekompakan masyarakat perlu dipertahankan. Ia berharap Cigugurgirang dapat meningkatkan prestasi di tingkat Kabupaten Bandung Barat, sekaligus memperkuat kualitas pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Kekompakan ini terus dijaga dan dipelihara, bahkan ditingkatkan, sehingga Desa Cigugurgirang bisa menunjukkan sebagai desa yang berprestasi di tingkat Kabupaten Bandung Barat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan juga ditopang oleh kerja sama dengan pelaku usaha dan pihak lain. Sejumlah sponsor dan pendukung tercatat antara lain ATEJA, PT Berkah Melano Indonesia, HELION Property, bank bjb, Liwet Asep Stroberi, Asper Pool, RA Motor-Mokas, Frabu Batara Arjuna, Nirwana Landscape, CV Algadino Garden, Forward Creativebase, H.A.S Farm, Nyentrik, Central Tekindo, Forum Komunikasi Majelis Taklim Kabupaten Bandung Barat, Setia Nugraha 2, dan HDN Farm.

Panitia juga menyediakan hiburan berupa musik dangdut dan musik Sunda tanjidor. Puluhan doorprize dibagikan melalui pengundian nomor. Anak-anak mendapat ruang bermain melalui wahana seperti komedi putar, ayunan, dan permainan bola.

Namun, ukuran keberhasilan perayaan desa tidak berhenti pada ramainya lapangan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana semangat gotong royong yang terlihat selama kegiatan diterjemahkan menjadi kerja bersama setelah acara selesai.

Milangkala ke-176 dapat menjadi pengingat bahwa usia panjang sebuah desa membawa tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah diwariskan sekaligus memperbaiki hal-hal yang masih perlu dikembangkan. Lingkungan, budaya, ekonomi lokal, dan tata kelola pemerintahan merupakan bagian yang saling berkaitan.

Tema “Lamun urang ngarawat pasti mere manfaat” pada akhirnya memiliki makna yang lebih luas dari sebuah slogan. Merawat desa berarti menjaga sumber daya alam, memberi ruang bagi kebudayaan, memperkuat UMKM, dan mempertahankan hubungan sosial. Jika prinsip itu terus diterapkan dalam kebijakan dan kehidupan sehari-hari, perayaan 176 tahun Cigugurgirang dapat meninggalkan manfaat yang lebih panjang daripada rangkaian kegiatan selama dua hari.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....