Tubuhnya Rapuh, Mimpinya Tidak: Kisah Kenan dan Pertemuan yang Mengubah Cara Melihat Dunia

Jurnalis9.com Stroller itu berhenti di antara kesibukan Posyandu Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang. Seorang bocah berusia tiga tahun duduk di dalamnya. Tubuhnya kecil, geraknya terbatas, tetapi wajahnya menyimpan keceriaan yang tidak jauh berbeda dari anak-anak seusianya.
Namanya Kenan.

Hari itu, perhatian Maya Ekawati tertuju kepadanya. Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lembang tersebut melihat Kenan ketika kegiatan pemberian vitamin A berlangsung. Di tengah aktivitas kader dan warga, Kenan justru tampak seperti sedang menikmati dunianya sendiri.

Maya kemudian mendekat dan menyapa.

Percakapan sederhana itu membuka cerita yang lebih panjang.

Kenan ternyata hidup dengan kondisi tulang yang sangat rapuh. Sejak lahir, tulang pada tubuhnya mudah mengalami patah. Karena itu, mengangkat atau menggendong Kenan tidak dapat dilakukan sembarang orang. Ayah dan ibunya menjadi orang yang paling memahami bagaimana memperlakukan tubuh kecil tersebut.

Ada cara tertentu untuk menyentuhnya.

Ada cara tertentu untuk mengangkatnya.

Dan ada kehati-hatian yang harus selalu menyertai setiap gerakan.
Bagi orang lain, keadaan itu mungkin sulit dibayangkan. Bagi keluarga Kenan, kehati-hatian tersebut telah menjadi bagian dari keseharian.

Namun, ada sesuatu yang membuat Maya tidak melihat Kenan hanya dari keterbatasan tubuhnya.

Kenan ceria.

Ia dapat diajak berbicara. Ia mampu memberikan jawaban yang terkadang membuat orang di sekitarnya tersenyum. Di balik tubuh yang harus dijaga sedemikian rupa, terdapat seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu dan kecerdasan seperti anak-anak lain.

Pertemuan di Posyandu itu kemudian menetap dalam ingatan Maya.

Setelah menyelesaikan kegiatan di Kabupaten Bandung Barat, Maya memilih melanjutkan perjalanan menuju rumah Kenan. Kunjungan itu bukan lagi hanya tentang seorang pejabat yang datang menemui warga. Ada keinginan untuk mengenal Kenan lebih dekat, sekaligus memahami kehidupan yang dijalani anak tersebut bersama keluarganya.

Di rumah Kenan, cerita sang ibu membuat Maya semakin memahami keadaan anaknya.

Sang ibu bercerita tentang kondisi Kenan sejak lahir. Tentang tulangnya yang mudah rapuh. Tentang bagaimana ayah dan ibu harus berhati-hati ketika merawatnya. Tentang kehidupan sehari-hari yang mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi membutuhkan perhatian lebih bagi keluarga mereka.

Maya mendengarkan.

Sesekali percakapan berhenti. Ada jeda ketika cerita tentang Kenan sampai pada bagian-bagian yang menyentuh perasaan.

Maya mengaku terharu mendengar cerita tersebut. Ia mencoba membayangkan apa yang mungkin dirasakan Kenan ketika tubuhnya tidak dapat bergerak sebebas anak-anak lain.

Tetapi Kenan tidak tampak ingin dikasihani.

Ia tetap menjadi dirinya sendiri.
Ceria.

Aktif ketika diajak berbicara.
Dan memiliki dunia kecil yang penuh keinginan.

Salah satunya adalah bertemu dengan “Bu Camat”.

Keinginan itu sebenarnya sudah pernah disampaikan Kenan kepada ibunya. Saat ada karnaval di Lembang, ia ingin bertemu dengan Maya. Namun, keadaan saat itu tidak memungkinkan.

Setelah pulang ke rumah, keinginan itu masih terbawa. Kenan kembali meminta kepada ibunya agar dapat bertemu dengan Bu Camat.
Keinginan sederhana itu akhirnya terwujud ketika Maya datang ke rumahnya.

Bagi Maya, pertemuan tersebut meninggalkan kesan yang lebih dalam daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

Ia tidak hanya melihat seorang anak dengan kondisi tubuh yang rapuh. Ia melihat Kenan sebagai seorang anak yang memiliki potensi, kecerdasan, kegembiraan, dan harapan.

Maya mengatakan ingin ikut mendampingi perkembangan Kenan hingga kelak tumbuh menjadi anak yang hebat.
Bahkan, muncul harapan dalam dirinya untuk dapat menjadi ibu asuh bagi Kenan.

Harapan itu lahir dari perasaan yang sederhana: ingin hadir.
Bukan untuk menggantikan peran orangtua Kenan, melainkan untuk memberikan dukungan agar anak tersebut memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang sebaik mungkin.

Sebab, bagi seorang anak, perhatian sering kali memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Kenan pun mempunyai mimpi lain.
Ia ingin bertemu dengan Gubernur Jawa Barat.

Di usia yang baru tiga tahun, keinginan itu terdengar sederhana sekaligus menggemaskan. Ia mengenal sosok pemimpin daerah yang ingin ditemuinya dan menyimpan keinginan tersebut sebagai bagian dari cita-citanya.
Kenan juga memiliki kemampuan yang membuat orang di sekitarnya bangga. Ia senang bersholawat dan dikenal pintar melantunkannya.
Di tengah keterbatasan fisiknya, dunia Kenan ternyata tidak kecil.

Ia memiliki suara.

Ia memiliki rasa ingin tahu.

Ia memiliki orangtua yang menjaganya.

Dan ia memiliki mimpi.

Tubuhnya mungkin membutuhkan perlakuan yang jauh lebih hati-hati dibandingkan anak-anak seusianya. Tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta membatasi imajinasinya tentang dunia.

Justru dari Kenan, orang-orang di sekitarnya dapat belajar bahwa kekuatan tidak selalu tampak dalam kemampuan berlari, melompat, atau bermain tanpa batas.

Kadang-kadang, kekuatan hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi.

Seorang anak yang tetap tersenyum.

Seorang ibu yang tidak berhenti merawat.

Seorang ayah yang selalu berhati-hati mengangkat tubuh anaknya.

Dan seseorang yang datang, duduk, mendengarkan, lalu mengatakan bahwa ia ingin ikut mendampingi.
Kisah Kenan bukan hanya tentang tubuh yang rapuh.

Ini adalah kisah tentang keluarga yang belajar mencintai melalui kehati-hatian. Tentang seorang anak yang tidak membiarkan keterbatasan tubuhnya mengambil keceriaan masa kecil. Dan tentang kepedulian yang tumbuh dari sebuah pertemuan sederhana di Posyandu.

Di rumah itu, Maya menemukan sesuatu yang mungkin tidak selalu terlihat dalam hiruk-pikuk kegiatan pemerintahan: bahwa perhatian kepada masyarakat terkadang dimulai dari kesediaan untuk berhenti sejenak, menyapa seorang anak, kemudian mendengarkan ceritanya.

Kenan mungkin belum memahami sepenuhnya arti sebuah pertemuan.

Ia mungkin belum tahu bahwa keinginannya untuk bertemu Bu Camat telah menyentuh hati orang dewasa di sekitarnya.

Yang ia tahu mungkin hanya satu: ia ingin dikenal, ingin diajak bicara, dan ingin bermimpi seperti anak-anak lainnya.

Suatu hari nanti, jika mimpi Kenan untuk bertemu Gubernur Jawa Barat benar-benar terwujud, mungkin yang paling penting bukan siapa yang ia temui.

Melainkan kenyataan bahwa sejak kecil, ia telah belajar satu hal: tubuh boleh memiliki keterbatasan, tetapi harapan tidak harus ikut dibatasi.

Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia berjalan bersamanya, Kenan memiliki alasan untuk terus menatap hari-hari di depannya dengan senyum yang sama.

Reporter, Komala based on a true story.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....