SMP IT Al-Fatih, Perkuat Sarana Belajar di Tengah Tantangan Akses Wilayah Perbukitan

Jurnalis9.com BANDUNG BARAT, 7 Agustus 2026 Jarak sekitar 41 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung Barat tidak hanya menggambarkan letak geografis SMP IT Al-Fatih. Bagi sekolah yang berada di kawasan perbukitan Kecamatan Rongga itu, akses yang jauh juga mencerminkan tantangan pemerataan layanan pendidikan. Di tengah kondisi tersebut, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026 membuka peluang bagi sekolah untuk memperbaiki fasilitas belajar yang selama ini menjadi kebutuhan utama.

Program revitalisasi yang dijalankan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah diarahkan untuk memperbaiki sekolah yang mengalami kerusakan serta memperkuat sarana pembelajaran, terutama di daerah yang aksesnya masih terbatas. SMP IT Al-Fatih Rongga menjadi salah satu penerima program tersebut dengan memperoleh bantuan rehabilitasi dan pembangunan sejumlah fasilitas pendidikan.

Ketua Yayasan Darul Muhsin Al-Fatir sekaligus penanggung jawab SMP IT Al-Fatih Rongga, Ahmad Muhsin, mengatakan sekolah menerima bantuan untuk tiga ruang kelas, ruang guru, toilet, perpustakaan, serta beberapa fasilitas lain. Secara keseluruhan terdapat sembilan item pekerjaan yang sedang ditangani.

“Alhamdulillah, sampai saat ini kapasitas sekolah sudah cukup memadai. Yang masih menjadi kebutuhan adalah laboratorium komputer,” kata Ahmad Muhsin.

Keterangan itu menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur belum sepenuhnya menjawab seluruh kebutuhan pendidikan. Ruang belajar yang lebih layak memang menjadi fondasi penting, tetapi perkembangan pendidikan juga menuntut tersedianya fasilitas pendukung berbasis teknologi. Laboratorium komputer menjadi salah satu kebutuhan yang masih harus dipenuhi agar peserta didik memiliki kesempatan belajar yang lebih luas sesuai perkembangan zaman.

Saat ini SMP IT Al-Fatih Rongga memiliki sekitar 180 siswa yang belajar di enam ruang kelas. Jumlah tersebut relatif seimbang dengan kapasitas ruang yang tersedia setelah adanya peningkatan fasilitas. Namun, tantangan pendidikan di wilayah Rongga tidak berhenti pada persoalan bangunan sekolah. Kondisi geografis yang berbukit membuat akses menuju sekolah memerlukan waktu tempuh yang lebih panjang dibandingkan kawasan perkotaan.

Dari kantor Kecamatan Rongga, perjalanan menuju sekolah sekitar 9,5 kilometer. Sementara dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung Barat membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan. Kondisi itu membuat keberadaan sekolah yang memiliki fasilitas memadai menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat sekitar agar anak-anak tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak tanpa harus berpindah ke daerah lain.

SMP IT Al-Fatih Rongga berdiri pada 2016 dan tumbuh dari lingkungan pendidikan pesantren. Karakter tersebut masih dipertahankan hingga sekarang melalui pendekatan pendidikan Islam terpadu yang berjalan berdampingan dengan pembelajaran umum.

Salah satu program unggulan sekolah adalah qiraah Al-Qur’an. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil, fasih, dan sesuai kaidah tajwid. Kemampuan tersebut menjadi dasar bagi siswa sebelum melanjutkan pada pembelajaran tilawah maupun tahfiz.

Di luar pendidikan agama, sekolah memilih memperkuat identitas lokal melalui pembelajaran seni budaya. Pencak silat dan tari jaipongan menjadi bagian dari kegiatan yang diperkenalkan kepada peserta didik.

“Program unggulan kami adalah kebudayaan daerah, terutama pencak silat dan tari jaipong. Kami ingin budaya yang ada di masyarakat tetap dikenal oleh generasi muda,” ujar Ahmad.

Pilihan itu memperlihatkan bahwa sekolah berusaha menjaga keseimbangan antara pendidikan agama, akademik, dan pelestarian budaya. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, sekolah mencoba mempertahankan ruang bagi kebudayaan lokal agar tetap hidup melalui generasi muda.

Ahmad juga mengatakan respons masyarakat terhadap peningkatan fasilitas sekolah cukup positif. Menurutnya, kondisi bangunan yang lebih baik membuat kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak di SMP IT Al-Fatih Rongga semakin meningkat.

Meski demikian, pembenahan fisik tidak dapat dipandang sebagai tujuan akhir. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kesinambungan antara sarana, kualitas tenaga pendidik, proses pembelajaran, serta kemampuan sekolah beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan peserta didik.

Revitalisasi sekolah pada akhirnya menjadi bagian dari upaya memperkecil kesenjangan layanan pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah yang memiliki keterbatasan akses. Ketika ruang kelas, perpustakaan, sanitasi, dan fasilitas dasar telah tersedia dengan baik, perhatian berikutnya perlu diarahkan pada penguatan mutu pembelajaran, termasuk penyediaan laboratorium komputer dan peningkatan kompetensi peserta didik.

Harapan yang disampaikan pengelola sekolah agar SMP IT Al-Fatih Rongga menjadi “rumah kedua” bagi siswa memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya diukur dari kelengkapan bangunan. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta mampu menumbuhkan karakter, pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap budaya menjadi ukuran yang sama pentingnya. Di wilayah seperti Rongga, keberhasilan revitalisasi akan terlihat ketika anak-anak memperoleh kesempatan belajar yang setara dengan daerah lain tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Reporter : Komala Sari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....