Karnaval Suntenjaya: Ketika Seni Warga Menjadi Ruang Menyampaikan Aspirasi

Jurnalis9.com, 16 Agustus 2026. Halaman Kantor Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada 16 Agustus 2026, berubah menjadi ruang pertunjukan warga menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Sebanyak 17 RW membawa kreasi masing-masing, dari ogoh-ogoh berbentuk raksasa, garuda, elang, ikan lele, sayuran, singa hingga tikus berdasi yang menyimbolkan koruptor.

Karnaval itu memperlihatkan wajah kebudayaan desa yang tidak berhenti pada tari dan pakaian tradisional. Warga memasukkan cerita rakyat, pencak silat, sisingaan, jaipongan, teater jalanan hingga kritik sosial ke dalam pertunjukan. Seni dipakai sebagai bahasa publik untuk menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat.

Kepala Desa Suntenjaya Asep Wahyono mengatakan keterlibatan seluruh RW menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan budaya. Ia menyebut potensi seni di Suntenjaya cukup beragam dan perlu terus diberi ruang.

“Harapan ke depannya supaya masyarakat jangan sampai merasa seni, budaya dan lain sebagainya punah. Di Suntenjaya banyak sekali budaya yang mungkin belum ditampilkan,” kata Asep.

Pernyataan itu memiliki arti penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk kesenian lama. Tradisi membutuhkan regenerasi. Tanpa keterlibatan anak muda dan ruang untuk berkreasi, kesenian lokal berisiko kehilangan penonton sekaligus pelakunya.

Salah satu penampilan yang paling kuat secara pesan datang dari RW 08. Melalui orasi puisi, warga menyuarakan kebutuhan pupuk murah, perbaikan jalan, pelayanan publik dan kepastian pemenuhan hak masyarakat. Kritik tersebut kemudian diperkuat dengan ogoh-ogoh tikus berdasi sebagai simbol terhadap praktik korupsi.

Pesan itu memperlihatkan bahwa karnaval dapat menjadi ruang komunikasi sosial. Warga tidak hanya datang untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Tentu, kritik melalui panggung budaya tidak menggantikan mekanisme pemerintahan. Namun, suara tersebut layak dibaca sebagai masukan publik mengenai kebutuhan masyarakat di tingkat paling dekat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat Taufik Kurnaefi, yang menjadi salah satu juri, melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembinaan kebudayaan. Menurut dia, setiap RW membawa kesenian, adat, kebiasaan dan kreativitas yang berpotensi dikembangkan lebih jauh.

Taufik menilai karnaval dapat menjadi pintu untuk menemukan kelompok seni yang memiliki kemampuan berkembang hingga tingkat kecamatan atau kabupaten. Ia juga mendorong adanya pengembangan agar kesenian tidak berjalan monoton.

“Yang paling utama itu bisa bertahan, jangan sampai generasi penerus kita tidak tahu asal-usul budaya sendiri,” ujar Taufik.
Pernyataan tersebut menunjukkan persoalan yang lebih besar. Pelestarian budaya bukan hanya soal mempertahankan pertunjukan, tetapi memastikan pengetahuan mengenai asal-usul, nilai dan makna kesenian tetap berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati, yang juga menjadi anggota tim juri, menilai kreativitas masyarakat Suntenjaya cukup menonjol. Ia melihat cerita perjuangan, teater, drama dan berbagai bentuk kesenian dipadukan dalam penampilan warga.

Penilaian mencakup partisipasi masyarakat dan kreativitas. Dengan demikian, keberhasilan karnaval tidak semata ditentukan oleh bentuk kostum atau kemeriahan pertunjukan, tetapi juga seberapa jauh warga terlibat dalam proses penciptaannya.


Di titik ini, karnaval Suntenjaya memperlihatkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia menjadi panggung pelestarian budaya. Di sisi lain, ia menjadi ruang ekspresi sosial. Keduanya bertemu melalui kreativitas warga.

Tantangannya adalah bagaimana kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Pemerintah desa, pemerintah daerah, komunitas seni dan masyarakat perlu membangun pembinaan yang berkelanjutan, terutama bagi generasi muda. Dokumentasi karya, pelatihan, ruang tampil dan akses terhadap jejaring kebudayaan dapat menjadi bagian dari langkah tersebut.

Karnaval Suntenjaya akhirnya memperlihatkan bahwa kebudayaan hidup ketika masyarakat masih merasa memiliki ruang untuk menciptakan dan menyuarakan sesuatu. Ogoh-ogoh, jaipongan, silat, sisingaan dan teater menjadi lebih bermakna ketika tumbuh dari keterlibatan warga. Di tengah persoalan pembangunan dan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat, seni dapat menjadi cara yang santun untuk mengingatkan bahwa kemajuan daerah harus berjalan bersama pemenuhan kebutuhan publik.

Kesimpulannya, kekuatan utama karnaval Suntenjaya bukan terletak pada kemeriahan panggungnya, melainkan pada keterlibatan 17 RW dalam menghidupkan budaya sekaligus menyampaikan aspirasi. Jika kreativitas tersebut ditindaklanjuti dengan pembinaan dan perhatian terhadap persoalan yang disampaikan warga, karnaval dapat berkembang menjadi ruang kebudayaan yang produktif: menjaga identitas lokal, memperkuat kebersamaan, membuka peluang ekonomi kreatif, sekaligus mempertemukan suara masyarakat dengan tanggung jawab pemerintah.

Reporter : Komala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

....